Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

SEPATU, MENYIMPAN LEBIH DARI SEKADAR CERITA

I
Indrawan SetiadiEditor: Indrawan Setiadi
|09:47 WIB
Bagikan:
SEPATU, MENYIMPAN LEBIH DARI SEKADAR CERITA
Prana Rifsana

Oleh Prana Rifsana

Ada sesuatu yang sering kita lupakan ketika membeli sepasang sepatu, Ketika kita melihat bentuknya, melihat warnanya, melihat mereknya, melihat harganya, dibeli lalu kitamemakainya. Tetapi pernahkah kita bertanya siapa yang membuatnya, berapa pasang tangan yang bekerja agar sepatu itu sampai ke kaki kita.  Berapa lama seorang pengrajin belajar agar mampu menghasilkan sebuah sepatu yang kuat dan berapa banyak keluarga yang menggantungkan hidupnya dari industri yang selama puluhan tahun tumbuh di Kota Bandung. Karena di Bandung, sepatu bukan sekadar barang dagangan, dan lebih dari sekadarcerita. Sepatu adalah Sejarah.

Bandung pernah mengajarkan Indonesia bahwa sepasang sepatu bisa lahir dari sebuah rumah sederhana, tumbuh menjadi industri, menghidupi ribuan keluarga, lalu berjalan jauh hingga ke berbagai penjuru dunia. Tetapi setelah lebih dari satu abad perjalanan, pertanyaannya kini bukan lagi apakah Bandung mampu membuat sepatu. Pertanyaannya adalah, apakah kitasebagai konsumen dan sebagai negara, masih mau menjaga mereka agar terus berjalan?

Ada suara yang mungkin tidak pernah terdengar oleh pembeli ketika memasuki sebuah toko sepatu. Bukan suara iklan. Bukan suara kasir. Bukan suara musik dari pusat perbelanjaan.Melainkan suara palu yang memukul kulit, suara mesin jahit yang bekerja, suara pisau yang memotong lembaran bahan, suara sol yang dibentuk, dan suara seorang pengrajin yang mungkin telah mengerjakan pekerjaan yang sama selama puluhan tahun.

Di Bandung, suara-suara itu bukan sesuatu yang baru. Ia telah menjadi bagian dari kehidupan kota selama lebih dari satu abad. Jauh sebelum media sosial membuat sebuah produk bisa dikenal dalam hitungan hari, jauh sebelum marketplace memungkinkan seseorang membeli sepatu hanya dengan beberapa sentuhan pada layar telepon, dan jauh sebelum istilah brandlokal menjadi kebanggaan baru, masyarakat Bandung telah lebih dahulu belajar membuat sepatu dengan tangan mereka sendiri.

Menurut catatan Asosiasi Persepatuan Indonesia, sekitar 1918, sejumlah warga Cibaduyutmulai mempelajari keterampilan membuat sepatu. Memasuki dekade 1920-an, keterampilan tersebut berkembang menjadi usaha rumahan. Beberapa warga yang sebelumnya bekerja di pabrik sepatu di Bandung kemudian memilih membuka usaha sendiri dengan melibatkan anggota keluarga. Ketika pesanan meningkat, mereka mulai mempekerjakan tetangga, kawandan membuka lowongan pekerjaan.

Di situlah sebuah industri sesungguhnya mulai dilahirkan. Bukan berasal dari gedung yang besar. Bukan dari modal miliaran rupiah. Tetapi dari keberanian seseorang untuk membawa pulang keterampilan dari tempatnya bekerja, lalu mengubah ruang di rumahnya menjadi tempat produksi. Satu rumah melahirkan satu usaha. Satu usaha membutuhkan pekerja.Pekerja belajar. Pekerja menjadi terampil. Sebagian kemudian membuka usaha sendiri. Usaha baru kembali membutuhkan pekerja.

Begitulah keterampilan membuat sepatu menyebar. Dari satu rumah ke rumah lainnya. Dari satu keluarga ke keluarga lainnya. Dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sebuah pengetahuan yang pada awalnya hanya dimiliki beberapa orang saja akhirnya menjadi pengetahuan kolektif sebuah kawasan. Dan ketika pesanan terus datang, Cibaduyut mulai berubah.

Pada 1940, tercatat sekitar 89 pengrajin sepatu telah berkembang di kawasan tersebut. Sepuluh tahun kemudian, jumlah usaha sepatu telah mencapai sekitar 250 unit. Para pelaku usaha bahkan mulai membentuk wadah bersama untuk membantu pengadaan bahan baku. Industri yang semula berskala rumah tangga perlahan berubah menjadi sebuah ekosistem ekonomi.

Yang terjadi sebenarnya jauh lebih besar daripada pertumbuhan jumlah pengrajin. Sebuah budaya produksi telah lahir. Anak-anak melihat orang tuanya bekerja dengan kulit. Tetangga mengenal teknik menjahit sepatu. Pedagang mengetahui tempat mendapatkan produk.Pengrajin mengetahui siapa pemasok bahan. Dan konsumen mengetahui ke mana harus mencari sepatu.

Cibaduyut tidak lagi hanya menjadi tempat orang membuat sepatu. Ia menjadi tempat di mana pengetahuan tentang sepatu hidup. Kemudian waktu terus berjalan. Bandung berkembang. Indonesia berubah. Dan industri sepatu Bandung ikut tumbuh bersamanya.

Pada 1970-an, para pelaku usaha sepatu di Bandung membentuk Koperasi Persepatuan Bandung Kota. Pada 1976–1977, pemerintah melalui Departemen Perindustrian mulai memberikan program pembinaan, yang kemudian diikuti pembangunan pusat pelayanan atau service centre pada 1977–1978. Fasilitas tersebut berkembang menjadi Unit Pelayanan Teknis yang memberikan dukungan peralatan, pelatihan dan peningkatan kemampuan produksi bagi pengrajin.

Ini adalah masa ketika pemerintah melihat bahwa industri kecil sepatu bukan sekadar pekerjaan masyarakat. Ia adalah aset ekonomi. Cibaduyut kemudian semakin dikenal. Pada 1978, kawasan tersebut telah dikenal sebagai salah satu sentra pembuatan sepatu terbesar di Bandung. Pada 1989, pemerintah Republik Indonesia meresmikannya sebagai daerah tujuan wisata.

Bayangkan Bandung pada masa itu. Orang datang bukan hanya untuk menikmati kota saja.Mereka datang untuk membeli sepatu. Cibaduyut menjadi tujuan. Sepatu menjadi oleh-oleh.Dan nama Bandung semakin melekat dengan produk alas kaki. Namun setiap kejayaan selalu memiliki ujian. Industri sepatu Bandung kemudian memasuki masa yang tidak mudah.

Krisis ekonomi 1997–1998 menghantam harga bahan baku dan daya beli masyarakat. Banyak pengrajin menghentikan produksi untuk sementara. Setelah itu, tantangan tidak berhenti. Persaingan semakin keras, teknologi berkembang, pola konsumsi berubah, sementara produk impor semakin mudah masuk dan konsumen memiliki pilihan yang semakin banyak. Aprisindo mencatat bahwa industri Cibaduyut menghadapi persoalan pemasaran, modal, teknologi, manajemen, bahan baku dan keterampilan tenaga kerja.

Pada saat itulah sebuah pertanyaan besar mulai muncul. Apakah Cibaduyut akan bertahan?Atau sejarah panjang itu perlahan akan berakhir? Ada industri yang mati karena produknya buruk. Ada industri yang mati karena tidak mampu berubah. Tetapi ada pula industri yang hampir mati justru karena dunia berubah terlalu cepat.

Cibaduyut menghadapi semuanya. Namun para pengrajinnya tidak berhenti. Mereka mulai mencari jalan baru. Dan salah satu jalan itu ternyata membawa mereka kepada sebuah jenis sepatu yang memiliki karakter sangat berbeda. Boots. Boots bukanlah sekadar bab baru dalam sejarah sepatu Bandung.  Ia adalah evolusi dari keterampilan yang telah dibangun selama puluhan tahun.

Para pengrajin Bandung telah lama memiliki kemampuan mengolah kulit, membentuk upper, menjahit, memasang sol dan menghasilkan sepatu yang mampu digunakan dalam waktu panjang. Ketika kebutuhan konsumen berubah, keterampilan itu menemukan bentuk baru.

Bandung memiliki komunitas motor. Bandung memiliki budaya fashion. Bandung memiliki anak muda yang menyukai musik dan gaya hidup alternatif. Bandung memiliki pekerja yang membutuhkan sepatu kuat.  Dan Bandung memiliki para pengrajin yang sudah terbiasa mengolah kulit.

Semua bertemu. Boots kemudian tidak lagi hanya menjadi sepatu kerja. Ia menjadi bagian dari identitas. Ia dipakai oleh pengendara motor. Ia menjadi bagian dari gaya hidup. Ia dipilih karena konstruksinya. Ia dihargai karena kulitnya. Ia dicari karena karakternya. Dan dari sinilah muncul generasi baru pembuat boots Bandung.

Tegep Boots merupakan salah satu contoh bagaimana perjalanan tersebut berkembang. Bisnisnya telah berjalan sejak akhir 1990-an dan kemudian berkembang sebagai salah satu brand boots Bandung dengan konsumen yang antara lain berasal dari komunitas pengendara motor. Produk mereka juga dikenal hingga pasar internasional. Tegep Boots dikenal sebagaipioneer sepatu boots di Kota Kembang, Bandung.

Yang menarik dari perjalanan tersebut bukan sekadar nama brand-nya. Yang menarik adalah perubahan cara masyarakat melihat sepatu. Dulu, sepatu dibeli karena diperlukan. Kemudian sepatu dibeli karena nyaman. Setelah itu sepatu dibeli karena kuat. Dan akhirnya, sepatu dibeli karena memiliki karakter dan cerita.

Boots memperlihatkan bahwa keterampilan pengrajin Bandung dapat memiliki nilai lebih tinggi ketika dipadukan dengan desain, komunitas dan identitas brand.  Tetapi perjalanan itu kembali bergerak. Karena jika boots mengajarkan Bandung tentang kekuatan dan karakter, alam di sekitar Bandung kemudian mengajarkan sesuatu yang lebih penting, sepatu harus mampu bekerja ketika manusia meninggalkan jalan raya.

Bandung berada di tengah lanskap pegunungan Jawa Barat. Di sekitarnya terdapat gunung, hutan, jalur pendakian, perbukitan dan berbagai ruang yang sejak lama menjadi tempat tumbuhnya budaya pencinta alam. Generasi muda Bandung mendaki. Mereka berkemah.Mereka menjelajah. Mereka berjalan melewati tanah basah, batu, lumpur dan jalur terjal. Dan perlahan kebutuhan terhadap sepatu outdoor berkembang.

Di sinilah boots dan outdoor menemukan titik pertemuan. Keduanya sama-sama menuntut kekuatan. Keduanya membutuhkan konstruksi yang dapat dipercaya. Keduanya membutuhkan sol yang mampu mencengkeram permukaan. Keduanya harus memberikan perlindungan. Tetapi outdoor membawa tantangan yang lebih jauh.

Di toko, sebuah sepatu bisa terlihat sempurna. Di gunung, alam yang akan memberikan penilaian. Ketika hujan turun, kualitas material diuji. Ketika tanah menjadi licin, outsolediuji. Ketika perjalanan berlangsung berjam-jam, kenyamanan diuji. Ketika medan semakin berat, konstruksi diuji. Dan ketika seorang pendaki berada jauh dari kota, tidak ada iklan yang dapat menolongnya. Hanya sepatu itu sendiri yang dapat berbicara.

Perkembangan ini menciptakan konsumen baru yang semakin kritis. Mereka tidak hanya bertanya tentang warna dan harga, tetapi mulai memperhatikan material, konstruksi, bobot, grip, durability, kenyamanan dan fungsi. Inilah titik ketika industri sepatu Bandung kembali mengalami evolusi. Keterampilan tradisional bertemu kebutuhan fungsional. Pengalaman pengrajin bertemu komunitas outdoor. Craftsmanship bertemu teknologi. Dan produk lokal mulai memiliki kesempatan untuk menjadi sesuatu yang lebih besar.

Bukan hanya sepatu yang dibuat di Bandung. Tetapi sepatu yang dikembangkan dari pengalaman manusia Indonesia. Perjalanan tersebut kemudian memasuki dunia yang lebih luas, yaitu pasar nasional dan internasional.

Pada 2026, perhatian terhadap potensi industri sepatu Bandung bahkan kembali muncul dalam agenda perdagangan dan pengembangan pasar global. Dalam kunjungan ke industri sepatu di Bandung pada September 2026, Wakil Menteri Perdagangan mendorong industri sepatu Bandung untuk semakin berjaya di pasar dunia, di tengah tantangan produk impor.

Tetapi di balik peluang itu terdapat persoalan yang jauh lebih dalam. Jika kita ingin produk sepatu Bandung masuk ke pasar dunia, siapa yang akan memastikan bahwa industri itu masih hidup ketika generasi berikutnya tiba? Sebab industri tidak hanya membutuhkan konsumen.Ia membutuhkan regenerasi. Ia membutuhkan tenaga terampil. Ia membutuhkan bahan baku.Ia membutuhkan teknologi. Ia membutuhkan modal. Ia membutuhkan akses pasar. Dan yang paling penting, ia membutuhkan kepercayaan dari konsumennya sendiri.

Ada ironi besar apabila sepatu buatan Bandung mampu diterima konsumen di luar negeri, tetapi justru kalah di rumah sendiri. Ada sesuatu yang salah jika konsumen Indonesia merasa bangga ketika sebuah produk lokal dibeli orang asing, tetapi ketika berada di toko mereka sendiri justru buru-buru mencari label impor.

Tidak ada yang salah dengan produk impor. Persaingan tetap diperlukan. Produk luar negeri dapat membawa teknologi, desain dan standar baru yang membuat industri domestik ikut berkembang. Tetapi persaingan yang sehat membutuhkan kesempatan yang adil. Produk lokal harus memiliki ruang untuk tumbuh. Pengrajin harus memiliki akses. Brand lokal harus memiliki pasar. Dan konsumen harus mengetahui bahwa ketika mereka membeli produk lokal yang berkualitas, uang mereka tidak sekadar berpindah tangan. Uang itu menghidupkan sebuah rantai ekonomi. Ia masuk ke tangan pengrajin. Kemudian menjadi upah pekerja.Menjadi pendapatan pemasok bahan. Menjadi biaya produksi. Menjadi penghasilan keluarga.Menjadi modal untuk membuat produk berikutnya.

Satu pasang sepatu mungkin terlihat kecil. Tetapi jika ribuan orang memilihnya, dampaknya menjadi besar. Dan jika jutaan orang memilihnya, dampaknya dapat mengubah struktur sebuah industri. Karena itu, membeli sepatu lokal tidak seharusnya dipahami sebagai kewajiban untuk membeli sesuatu yang kualitasnya lebih rendah.

Justru sebaliknya. Produk lokal harus dituntut untuk berkualitas. Harus nyaman. Harus kuat.Harus memiliki desain yang baik. Harus inovatif. Harus jujur terhadap konsumennya. Harus mampu bersaing. Tetapi ketika produk itu telah memenuhi standar tersebut, konsumen Indonesia semestinya tidak ragu untuk memberikan kesempatan.

Sebab tidak ada industri besar yang lahir tanpa konsumen pertama. Dan tidak ada brandglobal yang menjadi besar tanpa pasar yang percaya kepadanya. Di sinilah pemerintah memiliki pekerjaan yang tidak kalah penting. Perlindungan terhadap produk dalam negeri tidak boleh diterjemahkan sekadar menjadi larangan terhadap produk asing.

Perlindungan yang sesungguhnya adalah menciptakan ekosistem yang membuat industri lokal mampu berdiri dengan kakinya sendiri. Pengrajin membutuhkan akses pembiayaan.Produsen membutuhkan teknologi. Brand membutuhkan pendampingan. Pekerja membutuhkan peningkatan keterampilan. Pelaku usaha membutuhkan kepastian bahan baku.Produk membutuhkan standarisasi. Brand membutuhkan akses promosi. Dan industri membutuhkan jalan menuju pasar ekspor.

Pemerintah juga memiliki kesempatan untuk menjadikan sejarah sepatu Bandung sebagai kekuatan ekonomi baru. Cibaduyut tidak harus hanya menjadi tempat orang membeli sepatu.Ia dapat menjadi tempat orang belajar bagaimana sepatu dibuat. Wisatawan dapat melihat workshop. Pelajar dapat belajar tentang craftsmanship. Generasi muda dapat mengenal profesi pembuat sepatu. Konsumen dapat bertemu langsung dengan pembuat produknya. Dan brand lokal dapat menjadikan Bandung sebagai etalase industri footwear Indonesia.

Dengan cara itu, sejarah tidak berhenti sebagai cerita. Sejarah menjadi ekonomi. Dan ekonomi kemudian menjaga sejarah tetap hidup. Sebab yang sedang dipertaruhkan sebenarnya bukan hanya nasib sebuah toko atau sebuah brand. Yang dipertaruhkan adalah pengetahuan yang telah diwariskan selama lebih dari seratus tahun.

Jika seorang pengrajin berhenti karena tidak lagi memiliki pasar, bukan hanya satu pekerjaan yang hilang. Satu keterampilan bisa ikut hilang. Jika sebuah workshop tutup karena tidak mampu bersaing, bukan hanya bangunan yang kosong. Jaringan pengetahuan di dalamnya ikut terputus.

Jika generasi muda tidak lagi tertarik belajar membuat sepatu, maka sebuah tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi dapat berhenti pada satu generasi.  Dan itulah sebabnya cerita sepatu Bandung harus terus diceritakan. Bukan untuk memuja masa lalu. Tetapi untuk memastikan masa depan.

Hari ini, cerita itu tidak lagi hanya dibawa oleh pengrajin dan pemilik brand. Ia juga dibawa oleh media dan komunitas yang tumbuh bersama budaya sepatu. Shoe Police misalnya, menjadi salah satu ruang bagi generasi muda mengenal sepatu bukan hanya dari bentuk dan mereknya saja, tetapi dari material, konstruksi dan proses di balik pembuatannya. Ketika seorang anak muda mulai bertanya bagaimana sebuah sol dipasang atau mengapa kulit tertentu lebih tahan lama, di situlah rasa ingin tahu berubah menjadi sebuah penghargaan. Dan dari penghargaan, lahir konsumen yang lebih mengerti. Konsumen yang tahu bahwa di balik sepasang sepatu ada tangan yang bekerja.

Kita tidak boleh hanya mengenang bahwa Cibaduyut pernah berjaya. Kita harus memastikan Cibaduyut masih mempunyai alasan untuk berjaya. Kita tidak boleh hanya bangga bahwa sepatu Bandung pernah dikirim ke luar negeri. Kita harus membuat semakin banyak sepatu Bandung dikirim ke luar negeri.

Kita tidak boleh hanya mengatakan bahwa Indonesia memiliki pengrajin hebat. Kita harus memastikan anak-anak pengrajin masih mau menjadi pengrajin ketika mereka dewasa. Dan kita tidak boleh hanya mengatakan “bangga buatan Indonesia”. Kebanggaan harus terlihat dari pilihan.

Dari transaksi. Dari kebijakan. Dari dukungan. Dari keberanian membeli. Dari keberanian menggunakan. Dan dari keberanian pemerintah untuk menjadikan industri dalam negeri sebagai bagian penting dari strategi ekonomi nasional. Karena pada akhirnya, sepatu adalah benda yang sangat sederhana. Ia hanya menemani langkah manusia.

Tetapi di Bandung, sepasang sepatu menyimpan cerita yang jauh lebih panjang. Ada rumah sederhana tempat semuanya bermula. Ada pengrajin yang belajar dari generasi sebelumnya.

Ada anak yang tumbuh di antara aroma kulit dan suara mesin. Ada pekerja yang menghidupikeluarganya dari keterampilan tangannya. Ada brand yang berjuang membangun nama.

Ada konsumen yang memilih percaya. Ada pemerintah yang harus menciptakan ruang. Dan ada sebuah kota yang selama lebih dari satu abad terus berusaha mempertahankan langkahnya. Dari Cibaduyut, perjalanan itu kemudian bergerak ke boots. Dari boots, ia menemukan jalan menuju outdoor. Dari workshop kecil, ia masuk ke marketplace. Dari pasar lokal, ia menemukan konsumen di berbagai kota. Dan dari Bandung, sebagian produknya telah melangkah ke berbagai negara.

Tetapi perjalanan itu belum selesai. Justru sekarang kita berada pada titik paling menentukan.Apakah sepatu Bandung akan menjadi sekadar cerita tentang masa lalu? Ataukah ia akan menjadi salah satu kekuatan industri Indonesia di masa depan? Jawabannya tidak hanya berada di tangan pengrajin. Tidak hanya berada di tangan pemilik brand. Tidak hanya berada di tangan pemerintah. Jawabannya juga berada di kaki kita.

Setiap kali kita memilih sepasang sepatu lokal yang berkualitas, kita sedang memberikan suara. Suara untuk pengrajin. Suara untuk pekerja. Suara untuk brand lokal. Suara untuk industri nasional.

Dan suara untuk sebuah sejarah agar tidak berakhir. Karena mungkin, ketika kita membeli sepasang sepatu buatan Bandung hari ini, kita merasa hanya sedang membeli alas kaki.

Padahal sesungguhnya kita sedang membantu menentukan apakah sebuah tradisi akan terus berjalan. Lebih dari seratus tahun lalu, para pengrajin Cibaduyut memulai langkah itu dengan tangan mereka sendiri. Kini giliran kita memastikan langkah tersebut tidak berhenti. Dari Cibaduyut ke Indonesia. Dari Indonesia ke dunia. Dan semoga, ketika suatu hari dunia bertanya dari mana sepatu itu berasal, kita dapat menjawab dengan bangga, “Dari Bandung. Dibuat oleh tangan Indonesia.”

Berita Terbaru

Banjir Bandang Menerjang Padang, BPBD Catat 498 Jiwa Terdampak

Banjir Bandang Menerjang Padang, BPBD Catat 498 Jiwa Terdampak

Nasional14 menit lalu
Gelombang Tinggi hingga 4 Meter Mengancam Sejumlah Perairan, BMKG Minta Waspada

Gelombang Tinggi hingga 4 Meter Mengancam Sejumlah Perairan, BMKG Minta Waspada

Nasional24 menit lalu
GP Ansor Purwakarta Desak Penyelesaian Rumah Ibadah Lewat Mekanisme Hukum, Negara Tak Boleh Tunduk pada Tekanan

GP Ansor Purwakarta Desak Penyelesaian Rumah Ibadah Lewat Mekanisme Hukum, Negara Tak Boleh Tunduk pada Tekanan

Purwakarta35 menit lalu
Ratusan Nelayan Subang Tak Melaut, Solar Bersubsidi Sulit Didapat

Ratusan Nelayan Subang Tak Melaut, Solar Bersubsidi Sulit Didapat

Subang37 menit lalu
ADVERTISEMENT
Penertiban Anjal, Satpol PP Purwakarta Kedepankan Pendekatan Humanis

Penertiban Anjal, Satpol PP Purwakarta Kedepankan Pendekatan Humanis

Purwakarta40 menit lalu
Om Zein: Liga Desa Jadi Momen Kebangkitan Olahraga dan Kemandirian Desa

Om Zein: Liga Desa Jadi Momen Kebangkitan Olahraga dan Kemandirian Desa

Purwakarta42 menit lalu
Jadwal Timnas Futsal Indonesia di VI Copa Das Nacoes De Futsal 2026

Jadwal Timnas Futsal Indonesia di VI Copa Das Nacoes De Futsal 2026

Olahraga44 menit lalu
inDrive Edukasi Mahasiswa Purwakarta Keselamatan Berkendara, Pentingnya Patuhi Lalu Lintas

inDrive Edukasi Mahasiswa Purwakarta Keselamatan Berkendara, Pentingnya Patuhi Lalu Lintas

Purwakarta48 menit lalu
Kasus Korupsi Motor Listrik MBG Rugikan Negara Rp863 Miliar, Ribuan Unit Tak Bisa Digunakan

Kasus Korupsi Motor Listrik MBG Rugikan Negara Rp863 Miliar, Ribuan Unit Tak Bisa Digunakan

Nasional52 menit lalu
AGPAII Desak Sekolah Ramah Anak Masuk RUU Sisdiknas

AGPAII Desak Sekolah Ramah Anak Masuk RUU Sisdiknas

Headline56 menit lalu