Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Pojokan 328: Mitelor

I
Indrawan SetiadiEditor: Indrawan Setiadi
|16:39 WIB
Bagikan:
Pojokan 328: Mitelor
Kang Marbawi.

Lagi-lagi tentang anak lanangku. Mohon maaf kalau terkesan narsis. Tetapi di negeri yang setiap hari menyajikan drama politik, sinetron korupsi, dan serial pinjaman online tanpa tamat musim, rasanya percakapan dengan anak sendiri masih merupakan berita paling menenangkan.

Sebenarnya tadi sore saya berniat menulis soal pinjol. Soal outstanding pembiayaan telah mencapai sekitar Rp80 triliun dengan akumulasi pinjaman daring (Pindar) alias Pinjol (Pinjaman online) yang mencapai Rp1.100 triliun. Dengan konsumen terbesar adalah masyarakat bawah; pekerja informal, masyarakat miskin perkotaan, UMKM mikro,dan kelompok rentan yang memiliki pendapatan tidak stabil. Soal masyarakat yang kini bukan lagi warga negara, melainkan warga cicilan.

BACA JUGA: MARAH

Dulu orang ditanya cita-cita.

"Mau jadi apa kalau besar?"

Sekarang pertanyaannya bergeser:

"Limitnya berapa?"

BACA JUGA: IKHLAS

Pinjol telah melahirkan spesies sosial baru: Homo Debitorius. Makhluk modern yang bangun tidur membuka aplikasi utang, siang menghitung jatuh tempo, malam mendengarkan lagu penagihan.

Konon inklusi keuangan semakin luas. Memang luas. Bahkan lebih luas dari lapangan bola. Yang belum punya tabungan bisa punya utang. Yang tidak punya agunan bisa punya tagihan. Yang tidak kenal bank kini akrab dengan bunga harian.

Ah sudahlah.

Itu urusan para penggede negeri. Orang macam saya paling mentok hanya bisa menghitung harga telur dan denyut WhatsApp yang kadang lebih menegangkan daripada pengumuman hasil ujian.

Maka saya memilih menyelamatkan malam dengan cara yang lebih masuk akal: rebahan bersama anak lanangku.

Seperti biasa, menjelang tidur ia mulai bercerita. Imajinasi anak memang ajaib. Tanpa rapat koordinasi, tanpa seminar nasional, tanpa FGD tiga hari dua malam, tiba-tiba ia bicara soal meteor.

Entah dari mana dia mengenal kata itu.

Tapi yang jelas, ia menyebutnya bukan meteor.

"Metleor."

Saya tersenyum.

"Bukan metleor, Nak. Meteor."

Ia mencoba lagi.

"Metleor."

Saya mencoba membantu lagi.

"Meteor."

Dia menatap saya dengan wajah serius, lalu berkata,

"Mitelor."

Selesai sudah pelajaran astronomi malam itu.

Kami bertiga tertawa di atas kasur yang ukurannya jauh lebih kecil dibanding luas imajinasi seorang anak.

"Mitelor... mitelor... mitelor..."

katanya berulang-ulang.

Lalu sambungnya tanpa ampun:

"Aku mau telor dadar."

Barangkali beginilah cara semesta bekerja. Dari meteor menjadi mitelor. Dari benda langit menjadi lauk makan malam.

Saya lalu menjelaskan sebisanya.

Meteor itu batu dari luar angkasa. Masuk atmosfer. Bergesekan dengan udara. Menjadi panas.

Anakku mendengarkan dengan wajah penuh perhatian.

"Kalau meteor panas banget ya, Bi?"

"Iya."

Lalu datanglah pertanyaan yang membuat para profesor kadang tampak kurang siap dibanding anak usia empat tahun.

"Kalau burung Ababil bawa batu buat pasukan gajah, berarti panas dong?"

"Iya."

"Terus kok kuat burungnya?"

Saya terdiam beberapa detik.

Dalam dunia akademik mungkin diperlukan kajian multidisipliner, seminar internasional, dan publikasi Scopus Q1 untuk menjawab itu.

Tapi sebagai bapak menjelang pukul sembilan malam, saya menjawab singkat:

"Karena diperintah Allah."

Ia tampak puas.

Saya juga puas.

Karena kadang-kadang yang dicari anak bukan ketepatan metodologis, melainkan kepastian bahwa dunia masih bisa dipahami.

Cerita pun berakhir.

Bukan karena diskusi astronomi selesai.

Melainkan karena ia kembali pada tujuan utama.

"Jangan mi telor ya, Bi. Telor dadar."

 
 

Belakangan saya menyadari, ritual semacam ini sesungguhnya bukan sekadar pengantar tidur.

Ini adalah pekerjaan sosiologis yang sering tidak disadari.

Pierre Bourdieu mungkin menyebutnya sebagai reproduksi cultural capital. Saya menyebutnya: ngobrol receh di atas kasur.

Tetapi dari ngobrol receh itulah seorang anak belajar bahasa, simbol, nilai, cara berpikir, bahkan cara tertawa.

Dongeng, pertanyaan bodoh, candaan receh, permainan kata seperti "mitelor", semuanya adalah deposito kebudayaan yang disetor sedikit demi sedikit ke dalam rekening batin anak.

Bunganya tidak cair besok pagi.

Tetapi mungkin tumbuh dua puluh tahun kemudian ketika ia menjadi manusia yang mampu berpikir dan berempati.

Dalam kacamata Durkheim, ritual kecil itu juga menciptakan solidaritas.

Bukan solidaritas nasional.

Bukan solidaritas koalisi.

Bukan pula solidaritas yang muncul menjelang pemilu.

Melainkan solidaritas paling dasar: rasa aman karena ada ayah, ada ibu, dan ada waktu yang dibagikan bersama.

Di situlah keluarga sebenarnya bekerja.

 
 

Dari sudut pendidikan, kegiatan bercerita sebelum tidur adalah sekolah yang bahkan belum mampu ditandingi algoritma.

Ketika anak mendengar kisah, otaknya bekerja.

Ia membangun imajinasi.

Ia memperkaya kosakata.

Ia belajar menyusun sebab-akibat.

Ia berlatih bertanya.

Dan yang paling penting, ia belajar bahwa rasa ingin tahu tidak boleh dihukum.

Anak yang bertanya mengapa burung Ababil kuat membawa batu panas sesungguhnya sedang belajar berpikir ilmiah dengan caranya sendiri.

Ia sedang membangun jembatan antara pengetahuan, keyakinan, dan rasa ingin tahu.

Sayangnya, di banyak rumah hari ini, yang menemani anak sebelum tidur bukan cerita.

Melainkan layar.

Yang menjawab pertanyaan bukan ayah atau ibu.

Melainkan algoritma.

Yang hadir bukan pelukan.

Melainkan notifikasi.

Padahal layar bisa memberi informasi, tetapi tidak selalu memberi kehangatan.

Gawai bisa mengirim video, tetapi tidak bisa menggantikan tatapan mata ketika seorang anak berkata:

"Bi, kenapa begitu?"

 
 

Maka saya bersyukur.

Di tengah segala keterbatasan, masih diberi kesempatan mendengar kata "metleor" berubah menjadi "mitelor".

Sebab saya sadar, ada banyak orang tua yang ingin melakukan hal yang sama, tetapi malam mereka dirampas kecemasan.

Ketika telepon berdering, bukan suara anak yang terdengar.

Melainkan suara penagih.

Ketika WhatsApp masuk, bukan cerita menjelang tidur.

Melainkan ancaman jatuh tempo.

Mereka ingin membacakan dongeng.

Tetapi yang datang justru teror.

Mereka ingin membangun imajinasi anak.

Tetapi yang menghantui adalah tagihan.

Dan di situlah tragedi zaman ini berada.

Bukan pada meteor yang jatuh dari langit.

Melainkan pada pinjol yang jatuh ke ruang keluarga.

Meteor hanya lewat sesaat.

Pinjol bisa tinggal menetap.

Sedangkan "mitelor" anak saya, untunglah, sampai hari ini masih lebih menakutkan bagi stok telur di dapur daripada bagi ketenangan hidup kami.

(Kang Marbawi, 261026)

Berita Terbaru

Pojokan 328: Mitelor

Pojokan 328: Mitelor

Opini49 menit lalu
Cara Sematkan Postingan Foto dan Video di Instagram, Pake Fitur Ini

Cara Sematkan Postingan Foto dan Video di Instagram, Pake Fitur Ini

Lifestyle53 menit lalu
Tips Sehat di Musim Pancaroba agar Tidak Mudah Tumbang Saat Cuaca Berubah

Tips Sehat di Musim Pancaroba agar Tidak Mudah Tumbang Saat Cuaca Berubah

Lifestyle1 jam lalu
Operasi Patuh 2026 Resmi Digelar, Cek 11 Sasaran ETLE dan Dendanya

Operasi Patuh 2026 Resmi Digelar, Cek 11 Sasaran ETLE dan Dendanya

Nasional2 jam lalu
ADVERTISEMENT
Klasemen Super League 2026/2027 Persib Naik ke Posisi 5

Klasemen Super League 2026/2027 Persib Naik ke Posisi 5

Olahraga2 jam lalu
DTIIF 2026 Digelar di Jakarta, Danantara Bidik Investasi Teknologi Global

DTIIF 2026 Digelar di Jakarta, Danantara Bidik Investasi Teknologi Global

Nasional3 jam lalu
Kementerian ESDM Buka Lowongan Pengawal Energi 2026, Tersedia 108 Formasi

Kementerian ESDM Buka Lowongan Pengawal Energi 2026, Tersedia 108 Formasi

Nasional3 jam lalu
Krisis Air Bersih Subang Selatan, Pemkab Siapkan Jaringan Pipa 5 Kilometer

Krisis Air Bersih Subang Selatan, Pemkab Siapkan Jaringan Pipa 5 Kilometer

Subang3 jam lalu
KPK Usulkan Harta Pejabat yang Tidak Dilaporkan dalam LHKPN Dirampas Negara

KPK Usulkan Harta Pejabat yang Tidak Dilaporkan dalam LHKPN Dirampas Negara

Nasional3 jam lalu
Viral! Kopdes di Rantauprapat Terendam Banjir, Pemilihan Lokasi Ikut Dipersoalkan

Viral! Kopdes di Rantauprapat Terendam Banjir, Pemilihan Lokasi Ikut Dipersoalkan

Nasional4 jam lalu