Pojokan 331: Gila Tingkat Dewa

Pojokan 331: Gila Tingkat Dewa
Tak ada yang lebih gila tingkat 13, selain keberanian penyadap nira. Bayangkan saja, setiap pagi memanjat pohon aren setinggi 20 meter dengan berbekal tali, pisau dan doa istri agar tak jatuh tersungkur. Tidak hanya itu, agar nira bisa keluar, penyadap nira harus membujuknya dengan dielus-elus, dipuk-puk batangnya. Belum ritual menina-bobokan batang nira dengan mengayunnya macam anak bayi yang sedang rewel.
Nira pun masuk golongan makhluk sensitif. Terlalu kasar atau lembek dia bisa mengambek, air nira bisa mampet tak keluar. Maka penyadap nira tahu satu teori penting: sesuatu yang bernilai tak bisa diperas sekaligus, harus dicicil dengan kesabaran.
Namun rupanya para penyadap nira kini harus rela turun kasta.
Sebab ditemukan profesi yang tingkat kegilaannya sudah melampaui batas kemampuan akal sehat dan mendekati wilayah penelitian paranormal politik.
Menyadap presiden.
Ini bukan lagi soal memanjat pohon aren. Ini memanjat pohon kekuasaan.
Kalau penyadap nira jatuh paling masuk koran lokal. Penyadap presiden jatuh bisa masuk buku sejarah modern Indonesia, sidang parlemen, atau minimal grup WhatsApp keluarga besar selama tiga bulan penuh.
Bedanya juga jelas. Bukan nyari nira, tapi nyari bocoran berita. Penyadap nira mengelus tangkai aren agar keluar sari manis. Penyadap kekuasaan mengelus jaringan penguasa, memijat kepercayaan, dan memanen serpihan-serpihan informasi yang jatuh dari meja rapat kabinet.
Menjambret pikirannya Pierre Bourdieu, dia menyebut penyadapan sebagai proses konversi modal sosial menjadi modal informasi, lalu ditukar lagi menjadi modal bargaining politik.
Nyadap nira butuh waktu berminggu-minggu. Nyadap informasi kelas A1 kadang butuh bertahun-tahun. Karena dalam politik, informasi tidak pernah jatuh dari langit. Ia harus dipelihara, dirawat, diendapkan, dan kadang diberi pupuk ambisi.
Olahan nira jadi gula aren, bermetamorfosis jadi kolak, cendol, kopi. Adonan sadapan alias operasi politik, bisa jadi gula-gula politik untuk mengamankan kekuasaan, pengaruh dan antisipasi.
Hasilnya, nira melahirkan secangkir kopi panas yang nikmat. Sadap penguasa bisa memanaskan ruang rapat kekuasaan, menyebabkan negara diabetes informasi.
Karl Marx mungkin akan tertegun di alam sana. Sebab teorinya tentang, alat produksi bukan lagi pabrik, melainkan data. “Siapa menguasai informasi, dia menguasai narasi. Siapa menguasai narasi, dia bisa menentukan mana malaikat dan mana setan dalam pemberitaan dan media sosial,” katanya berguman, menyesali teori sosialismenya tergerus.
Sementara Michel Foucault berkhotbah sambil bertepuk tangan dari pojok alam baka. Bukankah sejak lama ia bilang bahwa pengetahuan dan kekuasaan adalah saudara kembar siam?
“Makin banyak tahu, makin besar kuasa. Makin besar kuasa, makin banyak ingin tahu,” begitu sabdanya.
Maka penyadapan kadang tampak seperti anak biologis yang lahir dari perkawinan antara rasa ingin tahu dan rasa ingin berkuasa.
Persoalannya bukan pada penyadap. Bukan pula siapa yang memanjat pohon. Tapi siapa yang menunggu di bawah, membawa wadah untuk mengolah nira jadi gula merah atau cendol? Itu yang jadi misteri terbesar.
Dalam teori konflik, setiap informasi memiliki kepentingan. Tak ada informasi yang benar-benar yatim piatu. Ia selalu punya orang tua politik.
Sebab tidak mungkin seseorang mempertaruhkan karier, reputasi, bahkan kebebasannya hanya demi koleksi pribadi seperti penggemar perangko. Informasi tidak ditimbun untuk dipeluk saat tidur.
Informasi digunakan, diperdagangkan, ditukar, diracik, dijadikan amunisi atau dijadikan gula-gula, untuk kepentingan tertentu.
Nah, di titik inilah publik mulai berubah menjadi pabrik teori. Membersitkan spekulasi publik liar. Rumor itu seperti kuda lepas dari kandang; makin dikejar, makin berlari ke segala arah. Makin dikejar klarifikasi, makin cepat ia berlari. Makin dibantah, makin sehat pertumbuhannya.
Teori konspirasi lalu mendapat panggungnya. Ada yang menduga ini operasi politik, perang faksi, pertarungan elit. Ada juga yang menjambret dugaan reptil, illuminati, alien, dan mantan pacar ikut terlibat.
Dalam teori konspirasi, kekurangan bukti bukanlah hambatan. Justru bahan bakar. Semakin sedikit fakta, semakin luas imajinasi.
Padahal sejarah dunia sudah penuh kisah sadap-menyadap. Richard Nixon tumbang di skandal Watergate, bukan karena mikrofon. Ia tumbang karena ada orang yang tahu di mana mikrofon itu disimpan. Dan orang itu adalah Alexander Butterfiled.
Angela Merkel pernah marah karena dugaan penyadapan terhadapnya. Edward Snowden-lah yang membocorkan dugaan bahwa NSA Amerika memantau komunikasi Kanselir Jerman ini bertahun-tahun sejak 2002.
Spyware Pegasus mengajarkan bahwa telepon pintar ternyata sering lebih pintar daripada pemiliknya. Dan skandal News of the World membuktikan bahwa rasa ingin tahu yang kelewatan bisa membunuh koran berusia lebih dari satu abad, 168 tahun.
Artinya, teknologi selalu berubah. Tapi nafsu memperoleh informasi tetap sama. Dari zaman merpati pos sampai kecerdasan buatan. Dari surat kaleng sampai server awan. Dari kuping ditempel ke pintu sampai spyware harga jutaan dolar. Yang berubah hanya alatnya. Hasratnya tetap purba.
Karena itu, misteri terbesar sesungguhnya bukanlah kabel, mikrofon, aplikasi, atau server. Melainkan cangkir kopi gula aren yang sudah tersaji di meja itu disajikan untuk siapa?
Karena tak mungkin menyeduh kopi gula aren hanya untuk dinikmati sendiri dalam gelap. Pastinya ada pemesan dan ada tujuan untuk apa menyeduh kopi gula aren itu.
Dan selama siapa penikmat kopi itu belum diketahui, publik akan terus memproduksi teori lebih cepat daripada pabrik mi instan memproduksi rasa baru.
Terlepas dari itu, apapun kebijakan pemerintah yang bersih dan bisa dipertanggungjawabkan, mestinya tak ada masalah dengan Publik. Yang jadi masalah adalah ketika info resep kebijakan yang ada di dapur istana, dipungut sedikit demi sedikit untuk kepentingan entah siapa. Diolah oleh siapa dan menjadi apa.
Ada adagium dalam dunia kekuasaan, informasi/data adalah mata uang utama kekuasaan. Penyadap presiden RI ke 8 ini, barangkali masuk katagori Gila Tingkat Dewa. (Kang Marbawi, 081126)
