Dinas Perikanan dan Peternakan Purwakarta: Abu Vulkanik Berpotensi Pengaruhi Kesehatan Hewan

Peternak Tetap Waspada Meski Belum Ada Laporan
PURWAKARTA-Dinas Perikanan dan Peternakan Purwakarta memberikan atensi terhadap sebaran abu vulkanik dari aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang terbawa hingga wilayah Kabupaten Purwakarta.
Meski hingga saat ini belum ditemukan adanya laporan penyakit pada hewan yang berkaitan dengan paparan abu vulkanik, para peternak tetap diminta meningkatkan kewaspadaan.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Perikanan dan Peternakan Purwakarta, drh. Wini Karmila, mengatakan, sebaran abu vulkanik berpotensi memengaruhi kondisi kesehatan ternak apabila terpapar dalam jumlah cukup banyak dan dalam jangka waktu yang lama.
Menurut Wini, dampak paparan abu vulkanik pada ternak dapat terjadi melalui berbagai bagian tubuh, mulai dari saluran pernapasan, mata, kulit hingga sistem pencernaan. Tingkat risikonya bergantung pada jumlah abu, ukuran partikel, kandungan mineral atau zat tertentu di dalam abu, serta lamanya hewan berada di lingkungan yang terpapar. "Partikel abu vulkanik yang terhirup dapat menyebabkan iritasi pada hidung dan saluran pernapasan.
Ternak dapat mengalami batuk, bersin, keluarnya cairan dari hidung hingga sesak napas. Jika paparannya berat atau berlangsung dalam waktu lama, kondisi tersebut berpotensi menimbulkan gangguan pada paru-paru," kata Wini saat dikonfirmasi, Selasa (8/9/2026).
Selain gangguan pada saluran pernapasan, paparan abu juga dapat menimbulkan gangguan pada mata. Partikel abu yang masuk ke mata dapat menyebabkan iritasi, kemerahan, mata berair hingga radang konjungtiva atau konjungtivitis.
Bahkan, sambungnya, apabila abu memiliki partikel yang cukup kasar, kondisi tersebut berpotensi menyebabkan luka pada permukaan mata.
Wini menjelaskan, abu vulkanik yang menempel pada kulit juga perlu mendapat perhatian, namun, dampaknya dapat berbeda pada setiap jenis ternak. "Pada kuda, abu yang menempel pada tubuh dan bercampur dengan keringat dapat meningkatkan risiko terjadinya iritasi kulit. Sementara pada sapi dan domba, kondisi tersebut berbeda karena hewan-hewan tersebut tidak memiliki kelenjar keringat seperti pada kuda," ujarnya.
Tak hanya berdampak secara langsung pada tubuh ternak, abu vulkanik juga berpotensi mencemari rumput, hijauan, pakan serta sumber air minum. Kondisi ini perlu menjadi perhatian serius para peternak karena abu yang ikut terkonsumsi dapat mengganggu sistem pencernaan hewan. "Pakan dan air minum harus dipastikan tidak terkontaminasi abu. Selain berpotensi mengganggu pencernaan, kandungan mineral tertentu yang terdapat dalam abu vulkanik juga perlu diwaspadai," ucap Wini.
Ia menambahkan, beberapa jenis abu vulkanik dapat mengandung fluorida dalam jumlah tertentu. Jika pakan dan air yang terkontaminasi fluorida dikonsumsi secara terus-menerus, ternak berpotensi mengalami fluorosis.
Kondisi tersebut dapat berdampak terhadap kesehatan gigi dan tulang, termasuk menyebabkan pengikisan dan kerusakan pada gigi.
Paparan abu vulkanik juga berpotensi menurunkan produktivitas ternak. Gangguan kesehatan, stres serta menurunnya kualitas dan ketersediaan pakan dapat menyebabkan berkurangnya nafsu makan, penurunan pertambahan bobot badan, produksi susu hingga terganggunya fungsi reproduksi. "Karena itu, kami mengimbau para peternak untuk segera melakukan langkah-langkah pencegahan, terutama dengan menempatkan ternak di lokasi yang lebih terlindung dari paparan abu vulkanik," katanya.
Peternak juga diminta memastikan ketersediaan air bersih dan pakan yang tidak terkontaminasi, serta mengurangi aktivitas ternak di kawasan yang memiliki tingkat paparan debu cukup tinggi.
Apabila abu telah menempel pada tubuh ternak, pembersihan dapat dilakukan secara hati-hati. Sementara ternak yang mengalami gangguan pada mata, saluran pernapasan maupun gejala kesehatan lainnya perlu segera mendapatkan pemeriksaan. "Jika paparannya cukup berat, pemeriksaan terhadap kualitas air, pakan dan kandungan mineral dalam abu juga penting dilakukan untuk memastikan keamanan dan kesehatan ternak," ujar Wini.
Di tengah kewaspadaan terhadap dampak abu vulkanik tersebut, Wini memastikan hingga saat ini belum terdapat laporan kejadian penyakit pada hewan di Kabupaten Purwakarta yang berkaitan dengan paparan abu vulkanik. "Berdasarkan laporan sementara dari kader kesehatan hewan dan zoonosis melalui grup komunikasi, belum ada laporan kejadian penyakit pada hewan akibat pengaruh abu vulkanik di Purwakarta. Akan tetapi, komunikasi dan koordinasi dengan para kader di lapangan masih terus berlanjut," ucapnya.
Pihaknya juga membuka saluran komunikasi bagi masyarakat dan peternak yang menemukan atau memiliki laporan mengenai hewan yang diduga terdampak paparan abu vulkanik. "Jika ada temuan atau laporan hewan yang terdampak abu vulkanik, masyarakat dapat segera menghubungi Call Center Bidang Keswan Kesmavet Purwakarta di nomor 0877-1129-9340. Setiap laporan akan kami tindak lanjuti," kata Wini.(add/sep)
