Ketahanan Pangan di Purwakarta Jadi Perhatian, 200 Titik Rawan Kekeringan Dipetakan

PASUNDAN EKSPRES.ID – Upaya menjaga ketahanan pangan di Kabupaten Purwakarta diperkuat melalui pemetaan sekitar 200 titik yang berpotensi mengalami kekeringan.
Langkah ini dilakukan untuk mengidentifikasi kebutuhan air bagi lahan pertanian sekaligus menentukan lokasi yang perlu mendapat penanganan lebih awal.
Pemetaan tersebut dipimpin Kepala Balai Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Unggas, Andi Saenab, bersama tim Luas Tambah Tanam (LTT).
Kegiatan itu melibatkan Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Purwakarta, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum, serta Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Purwakarta.
Berdasarkan informasi yang diterbitkan BRMP Unggas pada 6 Oktober 2026, tim meninjau kondisi lahan sawah milik Kelompok Tani (Poktan) Cinta Mukti di Munjuljaya, Kecamatan Campaka.
Peninjauan dilakukan untuk melihat kondisi lahan dan mengidentifikasi kebutuhan pasokan air yang diperlukan petani.
Sekitar 200 Titik Berpotensi Mengalami Kekeringan
Pemetaan ratusan titik rawan kekeringan menjadi salah satu langkah antisipasi dalam menjaga ketersediaan air untuk pertanian.
Informasi lokasi yang berpotensi terdampak diperlukan agar penanganan dapat diarahkan berdasarkan kondisi di lapangan.
Salah satu lokasi yang menjadi perhatian ialah lahan persawahan Poktan Cinta Mukti di Munjuljaya, Kecamatan Campaka.
Area tersebut memiliki luas sekitar 30 hektare dan membutuhkan dukungan pengairan ketika pasokan dari jaringan irigasi tidak mencukupi.
Ketua Poktan Cinta Mukti, Atim, menyampaikan kebutuhan petani terhadap sarana pengairan, termasuk bantuan mesin pompa air.
“Dengan luas persawahan sekitar 30 hektare, keberadaan pompa air sangat penting untuk membantu memenuhi kebutuhan air tanaman ketika pasokan dari jaringan irigasi tidak mencukupi,” ujar Atim, seperti dikutip Pasundan Ekspres dalam pemberitaan 12 Oktober 2026.
Ketersediaan pompa air menjadi salah satu kebutuhan yang muncul dalam upaya mengantisipasi kekurangan air.
Meski begitu, penanganan kekeringan tidak hanya bergantung pada alat pompa, tetapi juga kondisi sumber air, jaringan irigasi, serta koordinasi antarinstansi yang memiliki kewenangan.
Pemeriksaan Irigasi dan Koordinasi Lintas Instansi
Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta, Hadyanto Purnama, mengatakan pemetaan perlu disertai pemeriksaan kondisi aktual agar langkah penanganan sesuai dengan kebutuhan petani.
“Penanganan kekeringan perlu dilakukan sejak dini melalui pemetaan wilayah rawan, pengecekan kondisi irigasi, serta koordinasi dengan instansi yang memiliki kewenangan di bidang sumber daya air. Dengan begitu, kebutuhan petani bisa diidentifikasi dan langkah penanganannya dapat lebih tepat sasaran,” kata Hadyanto, Senin (12/10/2026).
Sebelum melakukan peninjauan ke lahan sawah, tim LTT telah berkoordinasi dengan Hadyanto untuk membahas strategi penanganan potensi kekeringan dan menentukan lokasi yang perlu diperiksa bersama.
Rombongan kemudian menuju kawasan Situ Cigangsa untuk melihat kondisi infrastruktur sumber daya air.
Peninjauan dilanjutkan ke lahan sawah Poktan Cinta Mukti di Munjuljaya guna memperoleh gambaran mengenai kondisi pertanian dan kebutuhan pasokan air.
Keterlibatan Dispangtan, penyuluh pertanian, BBWS Citarum, dan Dinas PUTR menjadi bagian dari koordinasi lintas sektor.
Setiap instansi diharapkan dapat berkontribusi sesuai tugas dan kewenangannya, mulai dari pendampingan petani hingga pemeriksaan sarana pengairan.
Ketahanan Pangan dan Dukungan Pompa Air
Pemetaan titik rawan kekeringan ini bukan satu-satunya langkah yang dilakukan di Purwakarta untuk mendukung sektor pertanian.
Pemerintah Kabupaten Purwakarta melalui Dinas Pangan dan Pertanian sebelumnya menyerahkan 34 unit mesin pompa air kepada kelompok tani dari tujuh kecamatan.
Informasi tersebut dimuat dalam laman PPID Kabupaten Purwakarta pada 26 Agustus 2026.
Bantuan diserahkan dalam kegiatan di Lembur Harepan, Kecamatan Pondoksalam, yang dihadiri Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein pada 25 Agustus 2026.
Bantuan pompa air ditujukan untuk membantu pemenuhan kebutuhan air lahan pertanian di tengah ancaman musim kemarau dan potensi kekeringan.
Sarana tersebut diharapkan dapat membantu petani menjaga produktivitas lahan.
Dalam konteks ketahanan pangan, ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting bagi keberlangsungan kegiatan pertanian.
Kekurangan pasokan air dapat mengganggu pertumbuhan tanaman, sedangkan pengairan yang memadai membantu petani mempertahankan kegiatan budidaya.
Karena itu, hasil pemetaan sekitar 200 titik rawan kekeringan perlu menjadi dasar penentuan kebutuhan dan prioritas penanganan.
Pemeriksaan kondisi irigasi, identifikasi sumber air, serta dukungan sarana pengairan menjadi bagian yang perlu ditindaklanjuti berdasarkan situasi di lapangan.
