Mojang Purwakarta 2024 Suarakan Toleransi dan Kebebasan Beribadah

PURWAKARTA-Mojang Purwakarta 2024, Vera Novia, menyampaikan opininya terkait toleransi dan kebebasan beribadah yang saat ini menjadi isu hangat di Kabupaten Purwakarta. Vera, begitu ia akrab disapa, menyebutkan bahwa berbicara tentang perbedaan maka semua perlu terus belajar untuk menjadi lebih dewasa dalam menyikapinya.
Dengan demikian, sambungnya, bukan sekadar tahu tentang perbedaan, tetapi juga benar-benar memahami bahwa setiap orang punya hak untuk menjalankan keyakinannya. "Sudah sepatutnya kita saling menghormati tanpa menghalangi satu sama lain untuk beribadah," kata Vera saat dikonfirmasi, Selasa (13/10/2026).
Untuk diketahui, Vera sempat mendampingi Staf Khusus Menteri Agama RI, Gugun Gumilar, saat diutus Kemenag RI untuk memediasi permasalahan kebebasan beribadah tersebut, beberapa waktu lalu.
Vera yang tercatat sebagai Duta Batik Persahabatan Jawa Barat 2025 dan Duta Pariwisata Jawa Barat 2026 ini, menegaskan, toleransi bukan soal menerima perbedaan, tapi juga tentang bagaimana bersikap ketika berhadapan langsung dengan perbedaan itu. "Menghargai keyakinan orang lain tidak akan mengurangi apa pun dari keyakinan yang kita miliki," ujar Mahasiswa Jurusan Ilmu Hukum Universitas Kartamulia Purwakarta ini.
Vera meyakini bahwa setiap persoalan perlu disikapi dengan kepala dingin, mengedepankan dialog, serta tetap berpegang pada aturan yang berlaku. "Kita mungkin tidak memiliki keyakinan yang sama, tetapi kita tetap memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga kerukunan dan menghormati hak sesama," ucap Vera yang juga dikenal sebagai atlet karate dan mayoret drumband berprestasi ini.
Ia berharap segala hal yang diupayakan secara bersama-sama bisa menjadi bagian kecil dari langkah untuk merawat toleransi dan menjaga keberagaman, bukan hanya dalam kata-kata, tetapi juga melalui tindakan nyata. "Atas dasar itu, saya turut mendukung dan mendampingi Staf Khusus Menteri Agama, Kang Gugun Gumilar, dalam menyikapi persoalan pembangunan Gereja Kristen Protestan Simalungun di Cikopo, Purwakarta, belum lama ini," kata Vera.
Ia berharap polemik yang terjadi dapat terselesaikan dengan baik, karena pada akhirnya, hidup berdampingan bukan tentang siapa yang paling benar dalam perbedaan, melainkan bagaimana Kita tetap bisa saling menghormati sebagai sesama manusia.(add/sep)
