Mahasiswa IPB Ajak Siswa SD Belajar Olah Sampah, Ubah Limbah Organik jadi Pupuk Kompos

SUBANG-Dedaunan kering dan sisa makanan sering kali hanya dianggap sebagai sampah yang harus dibuang. Padahal, limbah organik jadi pupuk kompos dan dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat sekaligus menjadi sarana edukasi bagi anak-anak.
Hal itulah yang dilakukan tim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi IPB University melalui program pembelajaran lingkungan bertajuk BOTANI (Bocah Tani Cilik).
Program tersebut menyasar murid kelas 4 hingga 6 SD Kasomalang 1, Desa Kasomalang Kulon, Kabupaten Subang, yang dilaksanakan pada Selasa (21/7/2026) yang lalu. Kegiatan dikemas secara interaktif dan menyenangkan untuk mengenalkan pentingnya memilah sampah serta mengolah limbah organik menjadi pupuk kompos.
Sejak awal kegiatan, para siswa terlihat antusias mengikuti berbagai rangkaian pembelajaran. Untuk mengukur pemahaman awal peserta, mahasiswa menggunakan metode sederhana melalui lembaran kertas berwarna merah dan hijau.
Para siswa diminta mengangkat kertas merah ketika kurang setuju dan kertas hijau ketika menyetujui pernyataan yang diberikan terkait pengelolaan sampah. Cara tersebut membuat suasana pembelajaran menjadi lebih santai sekaligus mendorong siswa berani menyampaikan pendapat.
Koordinator Desa KKNT Inovasi IPB Desa Kasomalang Kulon, De'appely Rizqia Andari, mengatakan pendekatan visual dan praktik langsung dipilih agar materi mengenai lingkungan lebih mudah dipahami oleh siswa sekolah dasar. "Kami merancang edukasi pengelolaan sampah ini agar terasa seru dan mudah diterima anak-anak. Lewat program BOTANI, para siswa tidak hanya menyimak teori, tetapi juga diajak mempraktikkan langsung cara pembuatan kompos organik," ujar De'appely Rizqia Andari kepada wartawan Pasundan Ekspres, Minggu (9/8/2026).
Menurutnya, kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti di lingkungan sekolah. Para siswa diharapkan dapat membawa kebiasaan baik tersebut ke rumah dan lingkungan tempat tinggal masing-masing. "Harapannya, mereka tumbuh menjadi 'Bocah Tani Cilik' yang tanggap lingkungan dan mampu menularkan kebiasaan positif ini di rumah," katanya.
Setelah mendapatkan materi mengenai sampah organik dan kompos, para siswa kemudian mengikuti praktik pembuatan kompos secara berkelompok. Mahasiswa KKNT bertindak sebagai pendamping selama proses berlangsung.
Menariknya, kegiatan tidak hanya berfokus pada proses pembuatan kompos. Para siswa juga diberikan kesempatan menghias wadah kompos menggunakan galon bekas.
Setiap kelompok bebas menuangkan kreativitasnya dengan mewarnai dan mempercantik wadah tersebut. Aktivitas itu membuat siswa tidak hanya belajar mengenai pengelolaan sampah, tetapi juga mengasah kreativitas dan kemampuan bekerja sama.
Suasana semakin meriah ketika perwakilan kelompok maju ke depan kelas untuk memperlihatkan hasil karya mereka sekaligus menceritakan proses pembuatannya kepada teman-teman.
Salah seorang siswa kelas 5 SD Kasomalang 1 mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut. Ia mengaku baru mengetahui bahwa sisa makanan dan daun kering dapat dimanfaatkan menjadi pupuk kompos. "Acaranya seru sekali. Aku baru paham kalau sisa dapur dan daun-daun kering bisa dijadikan pupuk kompos yang berguna. Terus tadi bisa hias-hias wadahnya ramai-ramai bareng kelompok. Nanti di rumah aku mau belajar memilah sampah sendiri," ungkapnya.
Kegiatan kemudian ditutup dengan evaluasi akhir atau post-test menggunakan metode kertas merah dan hijau. Hasil evaluasi menunjukkan mayoritas siswa mampu menjawab pertanyaan dengan tepat.
Hal tersebut menjadi salah satu indikator bahwa materi yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh para peserta. Bagi tim KKNT Inovasi IPB University, program BOTANI menjadi salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga mendorong perubahan kebiasaan sejak usia dini.
Edukasi lingkungan yang dikemas melalui permainan, kreativitas, dan praktik langsung dinilai dapat membuat siswa lebih mudah memahami pentingnya menjaga kebersihan. Melalui program tersebut, mahasiswa berharap para siswa dapat menjadi contoh kecil di lingkungan masing-masing dalam hal memilah sampah dan mengolah limbah organik.(hdi/sep)
