PAPANTING UPTD Puskesmas Cisalak Dorong Pemanfaatan Pekarangan untuk Cegah Stunting

SUBANG - PAPANTING UPTD Puskesmas Cisalak atau Penanaman Lahan Pekarangan Cegah dan Atasi Stunting terus dilakukan melalui berbagai pendekatan berbasis masyarakat. Salah satunya melalui inovasi yang mengintegrasikan pemanfaatan lahan pekarangan dengan program inovasi desa.
Stunting merupakan kondisi gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis yang berlangsung dalam waktu lama. Kondisi tersebut umumnya disebabkan oleh asupan makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi anak.
Masalah kekurangan gizi pada anak dapat terjadi secara tidak langsung dan berlangsung secara perlahan, bahkan sejak masa kehamilan hingga anak dilahirkan. Dampaknya kemudian mulai terlihat ketika anak memasuki usia sekitar dua tahun.
Stunting tidak hanya berdampak terhadap pertumbuhan fisik anak yang ditandai dengan tubuh lebih pendek dibandingkan anak seusianya. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi perkembangan otak, kemampuan kognitif, kesehatan, hingga daya saing anak di masa mendatang.
Karena itu, pencegahan stunting membutuhkan keterlibatan masyarakat secara aktif. Edukasi mengenai pentingnya pemenuhan gizi bagi ibu hamil dan anak balita menjadi salah satu langkah penting, khususnya dalam periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang dimulai sejak masa konsepsi hingga anak berusia dua tahun.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan masyarakat adalah mengoptimalkan pemanfaatan lahan pekarangan di sekitar rumah. Pekarangan yang sebelumnya tidak produktif dapat dimanfaatkan untuk menanam berbagai jenis tanaman pangan yang memiliki nilai gizi dan dapat menjadi sumber pangan bagi keluarga.
Pemanfaatan pekarangan tersebut juga sejalan dengan upaya memperkuat ketahanan pangan masyarakat. Selain menghasilkan bahan pangan, kegiatan bercocok tanam di lingkungan rumah dapat membantu keluarga memperoleh sumber makanan bergizi secara berkelanjutan.
Namun, di wilayah kerja UPTD Puskesmas Cisalak, masih terdapat masyarakat yang belum memanfaatkan lahan pekarangannya secara optimal. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan dikembangkannya inovasi PAPANTING sebagai pendekatan kesehatan berbasis masyarakat.
Melalui PAPANTING, hasil penanaman di lahan pekarangan dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan Pos Gizi yang telah berjalan di masyarakat. Kegiatan tersebut meliputi pemberian edukasi mengenai gizi, memasak bersama, hingga makan bersama sebagai bagian dari upaya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pola konsumsi pangan yang sehat dan bergizi.
Selain mendukung kegiatan Pos Gizi, hasil tanaman dari pekarangan juga dapat dimanfaatkan langsung oleh masing-masing keluarga untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Dengan demikian, program ini tidak hanya berorientasi pada pencegahan stunting, tetapi juga mendorong kemandirian masyarakat dalam menyediakan pangan bergizi.
Pelaksanaan PAPANTING pada dasarnya mengedepankan semangat swadaya masyarakat. Dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar dan dukungan dari pemerintah desa, masyarakat diharapkan dapat bersama-sama menciptakan lingkungan yang mendukung pemenuhan gizi keluarga sekaligus memperkuat upaya pencegahan stunting sejak dini.(znl/ysp)
