200 Hektare Tambak di Subang Mengering, Kerugian Petambak Ditaksir Rp1 Miliar

PASUNDANEKSPRES.ID - Kekeringan yang melanda kawasan pesisir Kabupaten Subang, Jawa Barat, berdampak serius terhadap usaha budidaya perikanan. Sekitar 200 hektare tambak di Desa Langensari, Kecamatan Blanakan, dilaporkan mengering akibat minimnya pasokan air laut, dengan estimasi kerugian petambak mencapai Rp1 miliar.
Kondisi tersebut diperparah oleh pendangkalan saluran utama yang menjadi jalur masuk air laut menuju kawasan pertambakan. Akibatnya, air pasang tidak mampu mengalir secara optimal ke tambak milik warga.
Dalam laporan detikJabar yang terbit Kamis (15/10/2026), Ketua KUD Mina Langgeng Jaya Desa Langensari, Raim Irawan, menyebut kekeringan telah memengaruhi sekitar 200 hektare tambak. Dampaknya juga dirasakan pada penurunan produksi ikan yang disetorkan ke tempat pelelangan ikan (TPI).
Para petambak kini berharap pemerintah turun tangan untuk menangani persoalan saluran air yang dangkal dan mencegah kerugian semakin meluas.
Bibit Ikan Mati, Petambak Rugi Puluhan Juta Rupiah
Salah seorang petambak setempat, Wajim, mengungkapkan bahwa bibit ikan yang baru ditanam mati karena tidak mendapatkan pasokan air yang memadai.
Ia memperkirakan kerugian yang dialaminya dapat mencapai Rp20 juta per hektare. Kondisi tersebut membuat petambak kesulitan melanjutkan kegiatan budidaya karena sumber air yang dibutuhkan tidak tersedia.
Sementara itu, Raim memperkirakan total kerugian petambak di wilayah tersebut mencapai Rp1 miliar. Ia meminta perhatian dinas terkait, terutama untuk menangani pendangkalan saluran yang menghambat masuknya air laut ketika pasang.
Bagi petambak, persoalan tersebut bukan hanya menyangkut kondisi lahan yang mengering, tetapi juga keberlangsungan usaha dan mata pencaharian masyarakat pesisir.
Kekeringan Meluas di Jawa Barat
Kondisi tambak di Blanakan terjadi di tengah meluasnya dampak kekeringan di Jawa Barat. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat hingga 13 Oktober 2026, kekeringan telah berdampak pada 840 desa dan kelurahan yang tersebar di 276 kecamatan.
Sebanyak 1.294.655 jiwa atau sekitar 394 ribu kepala keluarga tercatat terdampak. Pemerintah bersama berbagai instansi telah mendistribusikan sekitar 38,7 juta liter air bersih untuk membantu masyarakat yang mengalami kesulitan air.
Data tersebut menggambarkan luasnya dampak kemarau terhadap masyarakat Jawa Barat. Namun, distribusi air bersih yang dilaporkan BPBD ditujukan untuk membantu kebutuhan masyarakat dan tidak dapat langsung dianggap sebagai bantuan untuk mengatasi kekeringan tambak di Langensari.
BMKG juga memasukkan Kabupaten Subang dalam wilayah dengan peringatan dini kekeringan meteorologis pada dasarian II Oktober 2026. Dalam prakiraan cuaca periode 16–22 Oktober, BMKG menyebut kondisi panas dan kering masih mendominasi sejumlah wilayah Indonesia, meskipun hujan lokal tetap berpeluang terjadi.
Situasi tersebut membuat penanganan kekeringan perlu disesuaikan dengan kebutuhan setiap wilayah, termasuk permasalahan pasokan air yang dihadapi petambak di kawasan pesisir.
Petambak Menunggu Penanganan Saluran Air
Hingga penelusuran informasi pada Jumat (16/10/2026), belum ditemukan keterangan resmi terbaru yang memastikan adanya keputusan pemerintah untuk melakukan pengerukan saluran tambak di Desa Langensari.
Karena itu, tindak lanjut dari instansi terkait masih perlu dipastikan, terutama mengenai kondisi saluran utama, rencana normalisasi, serta kemungkinan langkah darurat untuk membantu petambak yang mengalami kerugian.
Keterangan dari pemerintah daerah dan dinas teknis dibutuhkan untuk menjelaskan penyebab pendangkalan, kewenangan pengelolaan saluran, serta langkah yang dapat dilakukan agar pasokan air kembali menjangkau kawasan pertambakan.
Penanganan yang tepat diharapkan dapat membantu memulihkan kegiatan budidaya sekaligus mengurangi risiko kerugian lanjutan bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari usaha tambak.
Bagi para petambak di Langensari, kepastian penanganan saluran air menjadi hal penting agar lahan yang kini mengering dapat kembali dimanfaatkan ketika pasokan air memungkinkan.
