Guru Sekaligus Wakasek SMAN 1 Pamanukan Jadi Tersangka, Polisi Ungkap Dugaan Pencabulan di Ruang Guru

PASUNDANEKSPRES.ID - Kasus dugaan pencabulan terhadap anak di bawah umur yang menyeret seorang guru sekaligus Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Bidang Kesiswaan SMAN 1 Pamanukan, Kabupaten Subang, memasuki babak baru.
Kapolres Subang AKBP Andi Purwanto membenarkan adanya laporan terkait dugaan tindak pidana pencabulan tersebut. Perkara itu tercatat dalam Laporan Polisi Nomor: LP-B/614/IX/2026/SPKT/Polres Subang/Polda Jabar, tertanggal 7 September 2026.
Dalam konferensi pers di Mapolres Subang, Jumat (11/9/2026), Andi menyampaikan, penyidik telah menetapkan AT, guru yang juga menjabat Wakasek Bidang Kesiswaan, sebagai tersangka.
"Dalam perkara tersebut, polisi menetapkan AT, seorang guru yang juga menjabat Wakasek Bidang Kesiswaan, sebagai tersangka," ungkapnya kepada Pasundan Ekspres.
Lokasi Kejadian di Ruang Guru SMAN 1 Pamanukan
Berdasarkan hasil penyelidikan dan keterangan yang diperoleh penyidik, dugaan perbuatan cabul tersebut terjadi pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Lokasi kejadian disebut berada di ruang guru SMAN 1 Pamanukan.
Andi mengungkapkan, tersangka diduga melakukan sejumlah tindakan tidak senonoh terhadap korban. Tindakan tersebut antara lain mencium tangan dan mata korban, memainkan bibir korban, hingga menyentuh bagian tubuh sensitif korban.
Perkara tersebut kini ditangani secara serius oleh jajaran Satreskrim Polres Subang. Penyidik juga telah mengamankan sejumlah barang bukti yang berkaitan dengan perkara tersebut.
"Dalam proses penyidikan, kami juga telah mengamankan sejumlah barang bukti yang berkaitan dengan masing-masing korban," ungkapnya.
Barang bukti yang diamankan di antaranya pakaian milik korban serta dokumen yang digunakan untuk memastikan usia korban. Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 418 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) terkait perbuatan cabul terhadap anak.
"Ancaman pidana dalam pasal tersebut maksimal 12 tahun penjara," kata Andi.
Selain ancaman pidana tersebut, hukuman terhadap tersangka dapat diperberat karena dugaan perbuatan dilakukan oleh seorang tenaga pendidik atau guru.
Andi menegaskan, proses hukum terhadap tersangka akan terus berjalan. Polisi juga memastikan aspek perlindungan terhadap anak korban menjadi perhatian dalam penanganan perkara tersebut.
"Kami memastikan proses hukum terhadap tersangka akan terus berjalan, sementara perlindungan terhadap anak korban menjadi salah satu perhatian dalam penanganan perkara tersebut," pungkasnya.(cdp/sep)
