Subang Siapkan Sistem Informasi Pariwisata Terintegrasi, Akademisi dan Disparpora Kolaborasi Digitalisasi Wisata

PASUNDANEKSPRES.ID – Upaya memperkuat daya saing sektor pariwisata Kabupaten Subang kini tengah dilakukan. Akademisi bersama Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Subang berkolaborasi menyusun model digitalisasi tata kelola pariwisata melalui pengembangan sistem informasi terintegrasi yang akan menghimpun seluruh informasi destinasi wisata dalam satu platform.
Gagasan tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Penelitian Kerja Sama Antar Perguruan Tinggi (PKPT) Tahun 2026 tentang Model Kolaboratif Digitalisasi Tata Kelola Pariwisata Daerah Berbasis Agile Government yang digelar di Grant Hotel Subang, Senin (27/7/2026).
Penelitian tersebut merupakan kolaborasi Universitas Pasundan dan Universitas Subang yang memperoleh pendanaan hibah dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Tim peneliti dipimpin Prof. Dr. Lia Muliawaty, M.Si dari Universitas Pasundan dan H. Endang Irawan Supriyadi, S.Sos., M.AP dari Universitas Subang.
Ketua Tim Peneliti Universitas Subang, H. Endang Irawan Supriyadi, mengatakan penelitian difokuskan untuk menemukan model kolaborasi dan digitalisasi tata kelola pariwisata yang dapat diterapkan di Kabupaten Subang.
Menurutnya, Subang memiliki potensi wisata yang sangat besar, namun informasi mengenai destinasi wisata masih tersebar di berbagai platform sehingga belum memudahkan wisatawan memperoleh informasi secara utuh.
“Selama ini setiap destinasi masih berjalan masing-masing. Belum ada satu website yang di dalamnya terdapat seluruh destinasi wisata beserta informasi yang dibutuhkan wisatawan,” ujarnya kepada Pasundan Ekspres.
Melalui penelitian tersebut, tim mengusulkan pembangunan sebuah sistem informasi pariwisata yang untuk sementara diberi nama Sistem Informasi Pariwisata Subang (SiPariSub). Platform itu dirancang menjadi pusat informasi seluruh destinasi wisata di Kabupaten Subang.
Di dalamnya akan tersedia informasi mengenai objek wisata, daya tarik, harga tiket, fasilitas, jam operasional, waktu terbaik berkunjung, hingga agenda atau kalender kegiatan pariwisata yang berlangsung di Kabupaten Subang.
Setiap pengelola destinasi nantinya juga akan memiliki akun untuk memperbarui informasi secara berkala. Namun, seluruh data yang ditampilkan tetap akan melalui proses verifikasi pemerintah daerah agar informasi yang diterima wisatawan akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Tidak hanya menjadi pusat informasi, sistem tersebut juga diarahkan berkembang menjadi platform penyusun perjalanan wisata. Wisatawan dapat menentukan lama kunjungan, memilih destinasi yang ingin dikunjungi, memperoleh rekomendasi tempat makan, penginapan, hingga estimasi biaya perjalanan selama berada di Kabupaten Subang.
“Nama ini masih fleksibel. Kami ingin mencari nama yang mudah diingat dan mudah dicari di Google. Untuk nama finalnya kemungkinan ditetapkan setelah penelitian selesai pada November atau Desember,” jelas Endang.
Ia menambahkan, pengembangan platform tersebut juga membuka peluang kolaborasi dengan pelaku usaha perjalanan wisata, perhotelan, ekonomi kreatif, media, konten kreator hingga pengelola desa wisata. Dengan demikian seluruh ekosistem pariwisata dapat terhubung dalam satu sistem tanpa menempatkan satu destinasi lebih dominan dibandingkan destinasi lainnya.
Kepala Disparpora: Subang Memiliki Potensi Besar
Kepala Disparpora Kabupaten Subang, Dra. Nenden Setiawati, M.Si mengatakan, Kabupaten Subang memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi unggulan di Jawa Barat. Menurutnya, Subang memiliki tiga karakter kawasan wisata, yakni wisata alam pegunungan, wisata buatan, dan wisata pantai yang harus dikembangkan secara optimal.
Ia menilai keberadaan berbagai proyek strategis nasional di kawasan Rebana menjadi peluang besar untuk meningkatkan kunjungan wisatawan sehingga pengembangan sektor pariwisata harus dipersiapkan sejak sekarang.
Endang berharap sistem informasi yang tengah disusun dapat menjadi pintu masuk bagi pengembangan tata kelola pariwisata Subang yang lebih terintegrasi.
“Harapannya ketika wisatawan datang ke Subang selama dua atau tiga hari, sistem bisa memberikan rekomendasi destinasi yang dapat dikunjungi, tempat makan, tempat menginap, sampai perkiraan anggarannya. Dengan begitu, pariwisata Subang benar-benar bisa terdorong dan pada akhirnya berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan daerah,” jelasnya.
Apresiasi Inovasi dari Berbagai Pihak
Kepala Bidang Destinasi Wisata Disparpora Kabupaten Subang, Agus Muslim menambahkan, pihaknya menyambut baik kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah.
Menurutnya, digitalisasi menjadi bagian penting dalam memperkuat program Subang Collaborative Tourism Partnership (SCTP) yang mengusung tagline Urang di Subang Ulin ka Subang.
Agus menilai sistem informasi terintegrasi akan memudahkan wisatawan mengenal berbagai potensi wisata yang dimiliki Kabupaten Subang.
“Dengan sistem ini, wisatawan dari seluruh dunia nantinya bisa melihat Subang, mau ke mana, ada apa, dan apa saja yang bisa dilakukan. Tugas kami dari dinas adalah menciptakan pariwisata yang berkualitas,” katanya.
Ia menambahkan, pengembangan pariwisata tidak dapat dilakukan oleh pemerintah semata. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku industri, media, komunitas, hingga sektor ekonomi kreatif menjadi kunci agar potensi wisata Subang berkembang secara berkelanjutan.
Ketua Yayasan Kutawaringin, Dr. Ahmad Sobari, S.Sos., M.AP, mengatakan penelitian tersebut merupakan bentuk nyata pengabdian perguruan tinggi kepada masyarakat.
Menurutnya, pemanfaatan dana hibah pemerintah pusat untuk penelitian di Kabupaten Subang menjadi bukti bahwa perguruan tinggi hadir menjawab berbagai persoalan daerah sekaligus mengembangkan potensi yang dimiliki.
Ia juga mengingatkan agar sistem digital yang nantinya dikembangkan tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi disiapkan pula skema pemeliharaan dan pengembangannya agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Senada, Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Subang, Drs. H. Deddy Ash Shidiq, SH., M.Si, mengatakan paradigma perguruan tinggi saat ini menuntut hasil riset memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Ia menilai kepakaran akademisi harus mampu berkontribusi dalam penyusunan kebijakan pembangunan daerah, termasuk dalam pengembangan sektor pariwisata.
Ketua Tim Peneliti Universitas Pasundan, Prof. Dr. Lia Muliawaty, M.Si, mengapresiasi kolaborasi lintas perguruan tinggi dalam penelitian tersebut. Ia berharap hasil penelitian nantinya dapat menjadi model pengembangan digitalisasi tata kelola pariwisata yang dapat diterapkan di daerah lain.
Dalam FGD menghadirkan dua narasumber yakni Dr. Flaorentina Ratih Wulandari, S.IP., M.Si dengan materi Collaborative Governance dalam Tata Kelola Pariwisata Daerah dan Dr. Slamet Irawan Ismanto, M.Si dengan materi Kebijakan dan Digitaliasi Tatakelola Pariwisata Daerah.
Dr. Flaorentina Ratih Wulandari, S.IP., M.Si. menekankan pentingnya distribusi peran dalam ekosistem Hexa Helix dalam pengembangan pariwisata. Menurutnya, seluruh unsur harus terlibat, yakni pemerintah sebagai regulator, dunia usaha sebagai penggerak, akademisi sebagai katalisator ilmu, media sebagai amplifikator, komunitas sebagai penjaga nilai, dan masyarakat sebagai pemilik lokal.
Sementara itu, Dr. Slamet Irawan Ismanto, M.Si. dalam pemaparannya bertajuk Kebijakan dan Digitalisasi Tata Kelola Pariwisata Daerah menjelaskan lima aspek utama digitalisasi tata kelola kepariwisataan. Pertama, digitalisasi layanan kepariwisataan bagi wisatawan maupun pelaku usaha. Kedua, penyediaan dokumen perencanaan dan geo-map kepariwisataan untuk mendukung kemudahan akses, keamanan, dan kenyamanan wisatawan menuju destinasi.
Ketiga, pemasaran digital destinasi pariwisata untuk meningkatkan daya tarik destinasi serta daya saing di tingkat nasional maupun internasional. Keempat, dukungan data dan informasi digital guna memudahkan pelaku industri pariwisata dalam meningkatkan skala usaha, memperluas jangkauan pasar, serta meningkatkan daya saing produk dan jasa pariwisata. Kelima, penguatan jaringan dan kapasitas kelembagaan dalam pengelolaan sistem digital yang dilakukan secara berkelanjutan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia.(znl/ysp)
