Penduduk Muda Subang Melimpah, Lapangan Kerja Masih Terbatas

PASUNDANEKSPRES.ID - Kabupaten Subang memiliki jumlah penduduk muda yang sangat besar. Potensi besar tersebut belum sepenuhnya menjadi kekuatan produktif daerah. Sebaliknya, tingginya jumlah usia muda justru berpotensi menjadi beban pemerintah daerah karena belum mampu terserap optimal di dunia kerja.
Data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Subang semester I tahun 2025, total penduduk Subang mencapai 1.677.628 jiwa, dengan sekitar 761.764 jiwa atau 45,4 persen di antaranya termasuk kelompok usia muda (16–30 tahun) sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan.
Akademisi dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Sutaatmadja (STIESA) Subang, Dr. Gugyh Susandy, SE., M.Si., CBM, menilai, Subang sebenarnya memiliki basis tenaga kerja yang besar dari kalangan muda, tetapi belum dapat diberdayakan secara maksimal.
“Dengan hampir setengah penduduk berada dalam rentang usia 16-30 tahun, Subang memiliki potensi tenaga kerja yang besar. Namun, potensi ini belum optimal karena tingkat pendidikan tinggi hanya sekitar 3,5 persen,” ujar Gugyh.
Menurutnya, kondisi tersebut menimbulkan kesenjangan antara kualifikasi tenaga kerja lokal dan kebutuhan pasar kerja saat ini. Hal ini tercermin dari tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Subang yang berada di kisaran 6-9 persen pada periode 2023–2024.
“Sebagian pemuda belum mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan mereka. Rendahnya tingkat pendidikan tinggi dan keterampilan teknis menjadi faktor utama,” jelasnya.
Gugyh juga menyoroti dominasi lulusan pendidikan menengah di Subang yang belum siap bersaing di pasar kerja modern.
“Sekitar 30-33 persen pemuda hanya menyelesaikan pendidikan hingga SMP atau SMA. Transisi ke pendidikan tinggi masih lemah, sehingga diperlukan penguatan program vokasi, magang, dan beasiswa,” tambahnya.
Lebih lanjut, Gugyh menyebutkan, angka tidak sekolah yang mencapai 28 persen menjadi sinyal bahaya bagi peningkatan pengangguran di masa depan.
“Kelompok ini tergolong rentan terhadap pengangguran jangka panjang. Diperlukan intervensi seperti program inklusi pendidikan, pelatihan kerja, serta pembinaan karakter,” tuturnya.
Sebagai solusi, Gugyh mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat sinergi antara dunia pendidikan, industri, dan lembaga pelatihan.
“Pemda dapat memperluas akses pendidikan dan pelatihan yang relevan dengan kebutuhan industri, serta memperbanyak program Kerja Praktek (KP) dan Praktek Kerja Lapangan (PKL) agar pemuda Subang lebih siap menghadapi pasar kerja,” pungkasnya.
Peluang Kerja Terbuka Lebar
Pengurus Forum Bursa Kerja Khusus (FBKK) Subang menyebut, peluang lapangan kerja Subang kini sebetulnya besar dengan tumbuhnya sektor industri. Terutama di salah satu Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Subang. Yakni Subang Smartpolitan yang tengah gencar mencari tenaga kerja terampil untuk perusahaan mobil listrik BYD.
"Yang saat ini sedang ramai adanya pabrik mobil listrik, dengan perkiraan sekitar 18 ribu kebutuhan tenaga kerja yang akan diserap oleh PT BYD dan perusahaan penopang atau penyuplai sparepart-nya," ucap pengurus FBKK, Tarmo kepada Pasundan Ekspres.
Untuk bisa mengalokasikan lapangan pekerjaan tersebut kepada tenaga kerja lokal pemuda di Subang, pihak BKK bekerja sama dengan BLK di setiap satuan Pendidikan untuk melakukan pelatihan vokasi kepada para agar dapat memenuhi kebutuhan industri tersebut.
"Kami di BKK berkolaborasi dengan BLK dalam pelaksanaan pelatihan vokasi beberapa keahlian kepada para alumni agar dapat memiliki skill yang diperlukan oleh industri saat ini," ucapnya.
Di samping itu, FBKK juga berusaha untuk menjembatani para pencari kerja dalam empeorleh informasi lapangan pekerjaan melalui koneksi HRD di berbagai perusahaan di Kabupaten Subang.
"Kami juga berusaha untuk menyambung koneksi dengan HRD di beberapa perusahaan agar dapat memperoleh informasi seputar lapangan pekerjaan yang sedang tersedia," ucapnya.
Dengan berbagai usaha yang dilakukan, tidak muluk-muluk, ia hanya berharap tenaga kerja lokal pemuda di Subang dapat terserap paling tidak setengah dari apa yang telah dialokasikan oleh perusahaan.
"Harapannya 50 persen bisa menyerap tenaga lokal, karena tidak dipungkiri tenaga kerja di luar Subang yang masih provinsi Jawa Barat juga akan masuk," ucapnya.
Hal ini dikarenakan adanya aplikasi "Nyari Gawe" dari Pemprov Jawa Barat yang memungkinkan persaingan dengan tenaga kerja dari daerah Jawa Barat lainnya.
"Ini karena pemerintah provinsi membuat aplikasi "Nyari Gawe" dimana semua pelamar di Jawa Barat masuk ke aplikasi tersebut dan terkoneksi dengan perusahaan yang terdaftar di aplikasi," ucapnya.
Bekal Pelatihan Kerja Bagi Pemuda
Pemerintah Kabupaten Subang melalui Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) terus membuka peluang bagi generasi muda untuk mendapatkan pekerjaan dan meningkatkan kompetensinya.
Upaya ini menyasar kalangan usia produktif, khususnya pemuda berusia 16 hingga 30 tahun, agar mampu bersaing di dunia kerja maupun menciptakan lapangan kerja baru.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Subang, Rona Mairansyah menyampaikan, pihaknya berkomitmen menjadikan sektor ketenagakerjaan sebagai salah satu prioritas pembangunan daerah.
Melalui berbagai program strategis, Disnakertrans berupaya menekan angka pengangguran dan menyiapkan tenaga kerja yang terampil serta berdaya saing.
“Kami ingin memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada pemuda Subang usia 16 hingga 30 tahun agar memiliki keterampilan, pengalaman, dan peluang kerja yang nyata. Mereka adalah generasi produktif yang menjadi ujung tombak pembangunan daerah,” ujarnya kepada Pasundan Ekspres, Senin (27/10/2025).
Dia menyebut, Disnakertrans Subang saat ini tengah mengoptimalkan sejumlah program unggulan, di antaranya pelatihan vokasi, program magang, program wirausaha muda, kemudahan perizinan dan iklim ivestasi serta pusat informasi karir.
Program pelatihan vokasi nantinya, kata Rona, melalui Balai Latihan Kerja (BLK) dan kerja sama dengan dunia industri. Disnakertrans menyediakan berbagai pelatihan vokasi sesuai kebutuhan pasar kerja.
“Program ini melatih pemuda di bidang otomotif, tata boga, teknik, hingga teknologi informasi,” kata Rona.
Kemudian, lanjutnya, pemuda Subang juga diberikan kesempatan magang di berbagai perusahaan lokal dan nasional. Program ini tidak hanya membekali peserta dengan pengalaman kerja, tetapi juga membuka peluang rekrutmen langsung oleh perusahaan mitra.
“Untuk mendorong kemandirian ekonomi, Disnakertrans menggulirkan program pengembangan wirausaha muda. Melalui pendampingan, pelatihan manajemen usaha, hingga akses permodalan, pemerintah mendorong lahirnya generasi entrepreneur baru dari Subang,” jelas Rona.
Selain itu, pemerintah daerah juga menciptakan iklim investasi yang kondusif agar semakin banyak perusahaan yang berinvestasi di Subang. Dengan bertambahnya investasi, peluang kerja bagi pemuda otomatis meningkat.
Rona mengatakan, Disnakertrans juga menyediakan layanan informasi karir yang memudahkan masyarakat mengakses lowongan pekerjaan dan jadwal pelatihan. Fasilitas ini menjadi jembatan antara pencari kerja dan dunia industri.
“Kami berharap melalui program-program tersebut, pemuda Subang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang kerja baru di lingkungannya. Ini adalah bagian dari visi kami untuk mewujudkan Subang yang maju dan sejahtera,” kata Rona.Dia menegaskan, pemerintah berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan program, termasuk melalui kerja sama dengan sektor swasta dan lembaga pendidikan.
“Dengan berbagai langkah tersebut, kami (Disnakertrans Subang) optimistis angka pengangguran di kalangan usia muda dapat ditekan, sekaligus menumbuhkan semangat kemandirian dan inovasi di kalangan generasi produktif Kabupaten Subang,” jelasnya.
Perkembangan Industri Tak Berdampak pada Peluang Kerja
Sekretaris Umum Federasi Serikat Buruh Patriot-Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (FSBP-KASBI), Rahmat Saputra mengatakan tumbuhnya sektor industri di Kabupaten Subang seharusnya menjadi peluang besar bagi para pemuda.
"Dengan hadirnya beberapa Kawasan industri di Kabupaten Subang seharusnya peluangnya cukup besar," ucapnya.
Akan tetapi, menurutnya perkembangan industri di Kabupaten Subang nyatanya tidak berdampak signifikan terhadap peluang tenaga kerja lokal, khususnya pemuda.
Oleh sebab itu, saat ini Serikat buruh terus memperjuangkan Perda Ketenagakerjaan yang didalamnya juga akan mengakomodir penyerapan tenaga kerja pemuda di Kabupaten Subang.
"Upaya kita selama ini dalam mengawal Perda Ketenagakerjaan, yang salah satunya didalamnya memuat pasal yang mengatur tentang bagaimana warga lokal itu diutamakan terhadap tumbuh kembangnya industri di Subang," ucapnya.
Rahmat juga berpendapat bahwa rendahnya UMK Subang juga mempengaruhi para pemudanya memiliki kecenderungan untuk bermigrasi ke daerah lainnya untuk mendapatkan hidup yang lebih layak.
"Kalau seandainya upah minimum Subang paling tidak sama dengan Purwakarta, maka tidak akan banyak orang Subang yang pindah ke daerah yang UMK nya lebih tinggi, sehingga dapat mengisi pos-pos di sektor industri," ucapnya.
Jika permasalahan UMK tersebut tidak dapat teratasi, maka Subang dapat berpotensi kehilangan sumber daya manusia unggul yang pada akhirnya akan menghambat pengembangan industri lokal, dan mempertahankan kondisi UMK yang rendah tersebut.(fsh/cdp/ysp)
