7 Negara Aman Ditinggali Saat Perang Dunia III, Indonesia Masuk Daftar

PASUNDANEKSPRES.ID - Ini dia negara aman ditinggali saat Perang Dunia III. Ketegangan geopolitik dunia kembali meningkat.
Ancaman konflik berskala besar, termasuk kemungkinan penggunaan senjata nuklir, membuat sebagian orang mulai bertanya-tanya tentang jika perang besar benar-benar terjadi, ke mana harus mencari perlindungan?
Kekhawatiran ini tidak muncul tanpa sebab. Saling serang rudal di Timur Tengah serta meningkatnya retorika keras antara kekuatan global menambah kecemasan publik.
Banyak yang membayangkan skenario terburuk, termasuk potensi eskalasi yang melibatkan Rusia dan negara-negara Barat.
Meski tidak ada tempat yang benar-benar 100 persen aman dalam konflik global, beberapa wilayah dinilai relatif lebih terlindungi karena faktor geografis, politik, maupun demografis.
Simak sejumlah lokasi yang kerap disebut sebagai “zona aman” jika dunia memasuki fase perang besar.
Negara Aman Ditinggali Saat Perang Dunia III
Berikut ini adalah beberapa tempat aman di dunia jika Perang Dunia III terjadi yang dilansir dari Daily Express U.S.
1. Antarktika: Terisolasi dan Minim Nilai Strategis
Antarktika sering disebut sebagai tempat paling terpencil di Bumi. Letaknya di ujung selatan planet ini dan jauh dari pusat kekuatan militer global menjadikannya nyaris tidak memiliki nilai strategis dalam konflik bersenjata.
Wilayahnya yang sangat luas, sebagian besar berupa hamparan es, membuatnya secara teori mampu menampung ribuan orang.
Namun, kondisi ekstrem dengan suhu sangat rendah tentu menjadi tantangan besar bagi siapa pun yang mempertimbangkan tempat ini sebagai lokasi perlindungan.
2. Islandia: Negara Damai di Utara
Islandia dikenal sebagai salah satu negara paling damai di dunia. Letaknya yang terpencil di Samudra Atlantik Utara membuatnya relatif jauh dari pusat konflik Eropa daratan.
Negara ini juga tidak memiliki sejarah panjang keterlibatan dalam perang besar.
Meski demikian, para analis mengingatkan bahwa jika terjadi perang nuklir berskala luas di Eropa, dampak radiasi tetap berpotensi mencapai wilayahnya dalam jumlah terbatas.
3. Selandia Baru: Netral dan Terlindungi Alam
Selandia Baru kerap masuk dalam daftar negara paling aman berdasarkan berbagai indeks perdamaian global.
Letaknya di Belahan Bumi Selatan memberikan jarak geografis yang cukup jauh dari pusat ketegangan di Eropa maupun Asia Timur.
Selain itu, bentang alamnya yang didominasi pegunungan dan wilayah terpencil dinilai memberikan perlindungan alami.
Sepanjang sejarah modern, Selandia Baru juga cenderung mengambil posisi yang relatif netral dalam banyak konflik internasional.
4. Swiss: Netralitas dan Infrastruktur Perlindungan
Swiss sudah lama identik dengan kebijakan netralitas, terutama sejak Perang Dunia Kedua.
Posisi geografisnya yang dikelilingi pegunungan Alpen memberikan perlindungan alami terhadap ancaman militer konvensional.
Yang menarik, Swiss memiliki jaringan bunker dan tempat perlindungan sipil yang cukup luas untuk menghadapi kemungkinan serangan nuklir.
Infrastruktur ini menjadi salah satu alasan negara tersebut kerap disebut sebagai lokasi yang relatif aman.
5. Greenland: Terpencil dan Berpenduduk Jarang
Greenland merupakan pulau terbesar di dunia dengan populasi sekitar 56.000 jiwa.
Letaknya yang terpencil di kawasan Arktik serta kepadatan penduduk yang sangat rendah membuatnya kecil kemungkinan menjadi target utama dalam konflik global.
Namun, kondisi iklim ekstrem dan keterbatasan infrastruktur tetap menjadi tantangan tersendiri.
6. Indonesia: Politik Luar Negeri Bebas dan Aktif
Indonesia juga kerap disebut dalam diskusi mengenai negara yang berpotensi relatif aman. Sejak era Presiden pertama, Indonesia menganut prinsip politik luar negeri “bebas dan aktif.”
Artinya, Indonesia berupaya tidak memihak blok kekuatan mana pun, sekaligus aktif mendorong perdamaian dunia. Sikap ini membuat Indonesia berusaha menjaga jarak dari konflik militer global.
7. Tuvalu: Kecil dan Minim Kepentingan Strategis
Tuvalu adalah negara kepulauan kecil di Samudra Pasifik dengan populasi sekitar 11.000 jiwa.
Minimnya sumber daya alam dan infrastruktur strategis membuatnya dinilai tidak menarik sebagai target militer.
Letaknya yang terpencil juga menjadi faktor tambahan yang mendukung asumsi bahwa negara ini kecil kemungkinan terlibat langsung dalam konflik global besar.
Meski sejumlah lokasi disebut relatif aman, para ahli menekankan bahwa dalam skenario perang dunia, terutama yang melibatkan senjata nuklir, dampaknya bisa bersifat global.
Radiasi, gangguan ekonomi, krisis pangan, dan kekacauan politik dapat melintasi batas negara.
(ipa)
