Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Ketahanan Pangan Lokal, Pembentukan Kewarganegaraan: Narasi Agribisnis Kampung Adat Cirendeu, Cimahi-Jawa Barat

I
Indrawan SetiadiEditor: Indrawan Setiadi
|17:38 WIB
Bagikan:
Ketahanan Pangan Lokal, Pembentukan Kewarganegaraan: Narasi Agribisnis Kampung Adat Cirendeu, Cimahi-Jawa Barat
Ketahanan Pangan Lokal, Pembentukan Kewarganegaraan: Narasi Agribisnis Kampung Adat Cirendeu, Cimahi-Jawa Barat

Ditulis Oleh : Tita Nurmalinasari Hidayat, Rohayati Suci Indiraningsih, Yayang Ade K.

Di Kampung Adat Cirendeu, Cimahi-Jawa Barat, komoditas singkong dijadikan landasan ketahanan pangan sekaligus batu pijakan pembentukan identitas kebangsaan warga. Dari lahan pertanian hingga ke meja konsumen, proses panen hingga pengolahan beragam bentuk produk turunan dari singkong dilakukan secara kolaboratif melalui gotong royong.

Aktivitas ini membuka lembaran baru bagi desa adat: Cirendeu tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga menjadi desa wisata adat yang tidak hanya melestarikan adat istiadat, tetapi juga menjadi destinasi wisata adat dengan pusat oleh-oleh khas berbasis singkong yang unik.

Cirendeu merupakan contoh nyata bagaimana adat istiadat tetap hidup di Tengah arus modernisasi. Singkong, sebagai bahan pangan pokok, diolah menjadi beragam produk seperti nasi singkong (beras singkong/rasi), dendeng singkong, keripik singkong dengan varian rasa, eggroll singkong, getuk kering, cireng singkong, kue dari tepung singkong, dan masih banyak olahan lainnya.

Semua produk olahan ini lahir dari rantai produksi yang dikelola lewat kerja lintas kelompok: petani, pemuda, ibu-ibu rumah tangga, pelaku usaha mikro, serta pelaku wisata. Kampung adat ini juga menjadi destinasi wisata budaya dengan sentral oleh-oleh yang memamerkan kekayaan singkong olahan sehingga pariwisata budaya dan eknomi lokal saling memperkuat.

Narasi tentang Cirendeu, cerminan bagaimana cinta tanah air, partisipasi aktif, dan tanggung jawab sosial terwujud dalam praktik produksi pangan dan program budaya. Masyarakat Cirendeu membuktikan bahwa nilai-nilai kebangsaan dapat tumbuh subur dari akar-akar budaya dan kearifan lokal, bahkan di Tengah gempuran modernisasi.

Cirendeu: Mempertahankan Tradisi di Tengah Modernisasi

Kampung Adat Cirendeu, sebuah oase tradisi di tengah pesatnya perkembangan Kota Cimahi. Sejak dahulu kala, Masyarakat Cirendeu telah menjadikan singkong sebagai pangan pokok mereka, diolah menjadi RASI (beras singkong).

Keputusan ini bukan tanpa alas an, melainkan sebuah bentuk kemandirian dan ketahanan pangan yang telah terbukti turun -temurun dari tahun 1924 kurang lebih sesuai dengan Sejarah kampung Cirendeu. Berbekal kearifan lokal ini, Cirendeu mampu bertahan dari berbagai krisis pangan, sebuah pelajaran berharga di tengah tantangan global saat ini.

Akan tetapi, Cirendeu tidak hanya mengolah singkong menjadi “Rasi”. Kreativitas dan inovasi Masyarakat telah melahirkan berbagai macam olahan singkong. Setiap produk ini menunjukkan bagaimana potensi singkong dimaksimalkan untuk kesejahteraan bersama.

Gotong Royong: Jantung Produksi dan Pembentuk Kewarganegaraan

Inti dari semua keberhasilan Cirendeu terletak pada praktik gotong royong yang masih sangat kental. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Sesepuh Adat Cirendeu, bahwasanya “Proses gotong royong di Kampung Adat Cirendeu sangat tinggi, karena memang adat istiadat masih kami pertahankan”.

Pernyataan ini bukan sekadar retorika semata, melainkan tercermin dalam setiap tahapan agribisnis singkong. Dari mulai penanaman bibit, memanen, sampai mengolah, semua dilakukan secara bersama-sama.
Nilai-nilai kewarganegaraan yang tercermin dari Masyarakat Cirendeu selain gotong royong, yaitu:

1.Tanggung Jawab Sosial: Tercermin dari kepedulian terhadap kualitas produk, pembagian hasil yang adil, serta pengelolaan lingkungan yang lestari. Dampaknya, Cirendeu kini dikenal sebagai percontohan desa adat ketahanan pangan lokal.

2.Partisipasi Warga: Keaktifan warga sangat tinggi, terlihat dari berbagai kegiatan desa, baik dalam produksi singkong, pelestarian budaya, maupun pengembangan desa wisata.

3.Cinta Tanah Air: “Cinta tanah air bukan sekadar kata; ia terwujud melalui budaya kami, kampung adat kami, dan cara kami menjaga kelestarian ladang singkong maupun warisan kesenian seperti wayang dan angklung.” Kutipan ini menunjukkan bahwa patriotisme tumbuh dari penghormatan terhadap warisan lokal dan upaya melestarikannya.

4.Keberlanjutan Lingkungan: Kesadaran menjaga kelestarian hidup dan lingkungan sangat tinggi, terlihat dari praktik pertanian yang berkelanjutan dan pengelolaan sumber daya alam secara bijaksana.

Cirendeu: Destinasi Wisata Adat dan Sumber Ekonomi Lokal

Kemandirian Cirendeu dalam pangan dan kuatnya nilai-nilai komunal telah menarik perhatian dari berbagai pihak. Kampung Adat ini kini dikenal sebagai kampung wisata adat yang unik. Jumlah kunjungan wisata ke Cirendeu cukup banyak, melibatkan beragam segmen Masyarakat.

Saat penelitian dilakukan, terlihat kunjungan dari mahasiswa, komunitas pemuda peduli, hingga siswa-siswi dari Tingkat SD sampai SMA. Mereka datang bukan hanya untuk membeli oleh-oleh, melainkan juga untuk belajar langsung.

Pengunjung dapat melihat proses pengolahan singkong dari menanam, memanen, hingga mengolahnya menjadi berbagai produk. Selain itu, mereka juga bisa menyaksikan kekayaan budaya dan kesenian Cirendeu seperti pertunjukan wayang dan angklung.

Salah satu kegiatan yang paling diminati adalah mendaki ke kebun singkong hingga puncak tanpa alas kaki, sebuah pengalaman yang menumbuhkan rasa kedekatan dengan alam dan kearifan lokal.

Dampak ekonomi dari pariwisata ini sangat signifikan. Pendapatan dari oleh-oleh khas Cirendeu, yang didominasi produk olahan singkong, cukup besar dan secara nyata membantu peningkatan ekonomi warga masyarakat adat. Hal ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya dan tradisi dapat berjalan seiring dengan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

Pelajaran dari Cirendeu untuk Ketahanan Nasional

Kisah Kampung Adat Cirendeu adalah sebuah pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia. Di tengah tantangan ketahanan pangan dan ancaman lunturnya identitas budaya akibat modernisasi dan globalisasi, Cirendeu menunjukkan jalan alternatif.

Masyarakat adat ini membuktikan bahwa dengan memegang teguh adat istiadat, menerapkan gotong royong, dan mengembangkan potensi lokal secara kreatif, sebuah komunitas dapat mencapai kemandirian, kesejahteraan, dan sekaligus memperkuat karakter kebangsaan.

Model agribisnis singkong terintegrasi dengan pariwisata budaya di Cirendeu dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Indonesia. Pengalaman Cirendeu layak diangkat dalam kurikulum pendidikan karakter dan kewarganegaraan, menjadi contoh nyata bagaimana nilai-nilai luhur bangsa bukan sekadar teori, melainkan praktik hidup sehari-hari yang berdaya guna.

Pemerintah dan berbagai pihak terkait juga dapat belajar dari Cirendeu dalam merumuskan kebijakan ketahanan pangan berbasis komunitas dan pengembangan ekonomi kreatif yang berkelanjutan.

Cirendeu, Cimahi, lebih dari sekadar kampung adat; ia Adalah laboratorium hidup nilai-nilai kewarganegaraan. ari setiap tangkai singkong yang ditanam, setiap olahan yang dihasilkan, hingga setiap tawa dalam gotong royong, terpancar semangat kebersamaan dan cinta tanah air yang kokoh.

Di sinilah terbukti bahwa kearifan lokal dan adat istiadat bukan penghambat kemajuan, melainkan fondasi kuat untuk membangun bangsa yang mandiri, berbudaya, dan berdaulat. Cirendeu adalah narasi inspiratif tentang bagaimana tradisi dapat beradaptasi dan berkembang, menjaga identitas, dan pada akhirnya, memperkuat pondasi keberadaan kita sebagai bangsa.

Berita Terbaru

Rekomendasi Villa untuk Gathering di Subang yang Pas Buat Acara Rame-rame

Rekomendasi Villa untuk Gathering di Subang yang Pas Buat Acara Rame-rame

Lifestyle18 menit lalu
Apa Itu Eskul Korp Kadet di SMA? Ini Penjelasan Lengkap dan Aturan Terbarunya

Apa Itu Eskul Korp Kadet di SMA? Ini Penjelasan Lengkap dan Aturan Terbarunya

Nasional1 jam lalu
Bagaimana Cara Melamar Di Kawasan Industri Subang Terbaru 2026, Lengkap dengan Jalur Resmi

Bagaimana Cara Melamar Di Kawasan Industri Subang Terbaru 2026, Lengkap dengan Jalur Resmi

Subang2 jam lalu
Belum Dieksekusi, Silfester Matutina Malah Sempat Jadi Komisaris BUMN, Cuma 5 Hari Menjabat

Belum Dieksekusi, Silfester Matutina Malah Sempat Jadi Komisaris BUMN, Cuma 5 Hari Menjabat

Nasional3 jam lalu
ADVERTISEMENT
Kawasan Industri Subang Makin Ramai, Hotel dan Penginapan Bakal Ketiban Berkah

Kawasan Industri Subang Makin Ramai, Hotel dan Penginapan Bakal Ketiban Berkah

Subang4 jam lalu
Tiga Calon Sekda Subang Jalani Cek Kesehatan di RSUD Ciereng

Tiga Calon Sekda Subang Jalani Cek Kesehatan di RSUD Ciereng

Headline5 jam lalu
Kasus Keracunan Makan Bergizi Gratis di Batang Terungkap

Kasus Keracunan Makan Bergizi Gratis di Batang Terungkap

Nasional5 jam lalu
Rekomendasi Tempat Ngopi untuk Meeting di Subang Paling Nyaman, Cek di Sini!

Rekomendasi Tempat Ngopi untuk Meeting di Subang Paling Nyaman, Cek di Sini!

Lifestyle6 jam lalu
Jasad ABK Kapal Pembawa Rombongan Jurnalis Ditemukan di Pulau Enggano, Ini Kronologi Penemuannya

Jasad ABK Kapal Pembawa Rombongan Jurnalis Ditemukan di Pulau Enggano, Ini Kronologi Penemuannya

Nasional7 jam lalu
Tips Lolos Melamar Kerja di Pabrik Subang, Kuasai Hal Ini!

Tips Lolos Melamar Kerja di Pabrik Subang, Kuasai Hal Ini!

Lifestyle8 jam lalu