Saat Sampah Jadi Jalan Masuk Pesta Musik: Subang Fest Vol. 12 Bikin Heboh

SUBANG - Tangan para penonton dipenuhi botol plastik bekas, namun wajah mereka tampak sumringah saat menukarkannya menjadi tiket masuk Subang Fest Vol. 12 yang digelar di Sari Ater Campervan Park, Sabtu (27/6/2026).
Sejak pagi, ribuan warga dari Kabupaten Subang hingga luar daerah rela mengantre demi merasakan sejuknya udara pegunungan Ciater, sekaligus menikmati kemeriahan konser yang menghadirkan Raim Laode.
Tak hanya menjadi ajang hiburan, Subang Fest juga menghadirkan ruang baru bagi pelaku ekonomi kreatif lokal. Panggung festival diisi bergantian oleh band-band asal Kabupaten Subang yang menampilkan karya mereka langsung di hadapan ribuan penonton.
“Gelaran ini dimeriahkan sejumlah band lokal asal Kabupaten Subang, sebagai upaya dan bentuk dukungan terhadap pengembangan kreativitas generasi muda,” kata penanggung jawab acara.
Botol plastik yang dibawa para pengunjung bukan sekadar alat tukar tiket masuk. Di baliknya, terdapat pesan besar tentang kepedulian terhadap lingkungan dan upaya menjaga kawasan Ciater tetap bersih.
Panitia bahkan menargetkan pengumpulan lima ton sampah botol plastik. Tantangan itu menjadi gerakan bersama yang dibalut dengan kejutan menarik. Jika target berhasil tercapai, panggung Subang Fest edisi Desember mendatang akan menghadirkan bintang tamu pilihan masyarakat.
“Kalau sampah yang dihasilkan dari Subang Fest Vol. 12 sampai 5 ton, kita undang bintang tamu request teman-teman semua,” ujar Bupati Subang Reynaldy Putra Andita.
Usai lampu panggung padam, Kang Rey juga mengajak para pengunjung untuk tidak langsung meninggalkan kawasan Ciater. Ia berharap wisatawan menyempatkan diri mengunjungi berbagai destinasi wisata di sekitar lokasi agar roda ekonomi masyarakat sekitar ikut bergerak.
“Subang Fest hadir bukan sekadar pagelaran musik, melainkan juga menjadi kampanye pelestarian lingkungan, serta mendorong promosi destinasi wisata di Kabupaten Subang,” tegasnya.
Subang Fest Vol. 12 pun tak hanya menyajikan musik dan hiburan, tetapi juga membawa pesan bahwa sampah bisa menjadi gerakan bersama, kreativitas dapat tumbuh dari panggung lokal, dan wisata mampu menggerakkan ekonomi masyarakat.
