Bencana Alam dalam Kaleidoskop Bandung Barat 2025: Mulai dari Longsor hingga Cuaca Esktrem

PASUNDANEKSPRES.ID - Menjelang pergantian tahun 2026, Kabupaten Bandung Barat (KBB) dihadapkan pada berbagai peristiwa yang menyita perhatian publik, terutama terkait meningkatnya kejadian bencana alam.
Sepanjang akhir tahun 2025, sejumlah wilayah di Bandung Barat dilaporkan mengalami longsor, pergerakan tanah, hingga ancaman bencana lain akibat cuaca ekstrem dan kondisi geografis yang rentan. Berikut rangkumannya.
Longsor di Lembang Nyaris Robohkan Rumah Warga
Salah satu peristiwa yang cukup mengkhawatirkan terjadi di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut selama beberapa jam pada Minggu (1/11/2025) memicu longsor di Kampung Cibedug, RT 03/RW 10, Desa Cikole, Kecamatan Lembang.
Longsor terjadi sekitar pukul 11.30 WIB dan mengakibatkan satu rumah milik warga tergerus aliran air, hingga material longsoran menimpa rumah tetangga yang berada di bagian bawah.
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Penghuni rumah berada di bagian depan bangunan saat longsor terjadi, sementara rumah yang terdampak di bawahnya hanya mengalami kerusakan di bagian belakang.
Meski demikian, pihak desa mengimbau para penghuni untuk sementara waktu mengungsi demi menghindari risiko longsor susulan.
Pada Senin,(3/11/2025), Kepala Desa Cikole, Tajudin menjelaskan bahwa penyebab longsor diduga akibat derasnya aliran air yang menggerus pondasi rumah di atas saluran air, diperparah oleh struktur tanah yang labil.
BPBD Bandung Barat Catat Delapan Potensi Bencana
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat mengungkapkan bahwa wilayah KBB memiliki beragam potensi bencana yang perlu diwaspadai oleh masyarakat.
Tercatat sedikitnya delapan jenis bencana yang berpotensi terjadi, yakni banjir dan banjir bandang, cuaca ekstrem, gempa bumi, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta dampak letusan gunung berapi.
Pada Minggu (16/11/2025), Kepala Bidang Penanggulangan Kesiapsiagaan BPBD Bandung Barat, Dedi Supriyadi, menyebut setiap wilayah di KBB memiliki karakteristik ancaman bencana yang berbeda.
Ia juga menjelaskan bahwa faktor geografis menjadi penyebab utama tingginya potensi bencana di wilayah tersebut.
Kondisi wilayah yang berbukit dengan kemiringan lereng curam, ditambah saluran irigasi yang tersumbat dan penumpukan sampah, memperbesar risiko terjadinya banjir dan longsor.
Pergerakan Tanah Ancam Puluhan Rumah di Rongga
Selain longsor di Lembang, bencana pergerakan tanah juga melanda Kampung Nendeut, RW 09, Desa Sukamanah, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat. Peristiwa ini berdampak pada sedikitnya 51 rumah yang dihuni oleh 60 kepala keluarga atau sekitar 208 jiwa.
Pada Kamis (6/11/2025), Kepala Pelaksana BPBD Bandung Barat, Asep Sehabudin, menjelaskan bahwa pergerakan tanah terjadi secara tiba-tiba dan dipicu oleh cuaca ekstrem yang melanda wilayah tersebut dalam beberapa minggu terakhir.
Sebagian besar warga memilih mengungsi ke rumah kerabat demi menghindari ancaman bencana lanjutan. Dari hasil pemantauan BPBD, retakan tanah memiliki panjang hingga satu meter dengan lebar mencapai lima sampai sepuluh sentimeter.
(ipa)
