Efisiensi Anggaran, Perbaikan Jalan di Desa Batulayang Batal

PASUNDANEKSPRES.ID - Kebijakan efisiensi anggaran berdampak langsung pada batalnya perbaikan Jalan Talagawaden di Desa Batulayang, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat. Infrastruktur yang semula telah masuk perencanaan pembangunan desa itu kini justru terbengkalai, memaksa warga bergerak sendiri menutup kekosongan peran pemerintah.
Kepala Desa Batulayang, Imam Mujahidin, mengakui bahwa proyek perbaikan jalan tersebut sebelumnya telah diajukan dan bahkan sempat dialokasikan dalam anggaran desa. Namun, realisasi pembangunan harus dihentikan setelah terjadi pemangkasan anggaran. "Sudah diagendakan, bahkan tahun ini sempat dianggarkan. Tapi karena efisiensi anggaran, akhirnya tidak bisa dilanjutkan," ujar Imam, Selasa (21/04/2026).
Keputusan tersebut memunculkan konsekuensi nyata di lapangan. Jalan yang menjadi akses vital warga itu kini dalam kondisi rusak berat, sementara kepastian perbaikan dari pemerintah belum jelas. Situasi ini mendorong masyarakat, khususnya pemuda dan Karang Taruna RW 03, mengambil inisiatif melakukan perbaikan secara swadaya.
Tanpa dukungan anggaran memadai, warga bergotong royong memperbaiki jalan yang rusak parah. Hingga saat ini, pengerjaan disebut telah mencapai sekitar 50 persen. "Kalau menunggu, kondisinya makin parah. Akhirnya masyarakat bergerak sendiri," kata Imam.
Kepala Desa Batulayang Apresiasi Warga Swadaya Perbaiki Jalan
Atas upaya tersebut, Imam menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan perbaikan jalan secara gotong royong. "Saya selaku Kepala Desa Batulayang mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada rekan-rekan pemuda dan Karang Taruna RW 03 atas kepedulian terhadap lingkungan. Jalan tersebut memang sangat memprihatinkan. Terima kasih juga kepada masyarakat yang begitu antusias melakukan perbaikan secara swadaya," ucapnya.
Tak hanya di satu titik, persoalan jalan rusak di Desa Batulayang disebut cukup luas. Pemerintah desa mencatat sekitar 3 kilometer jalan dalam kondisi rusak tersebar di sejumlah wilayah, di antaranya RW 09, RW 15, dan RW 17.
Kondisi ini diperparah dengan keterbatasan anggaran desa. Imam mengungkapkan, ruang fiskal saat ini sangat sempit, bahkan sejumlah sumber pendanaan eksternal turut terhenti. "Bantuan provinsi yang sebelumnya direncanakan juga sudah tidak ada. Saat ini anggaran yang tersisa sekitar Rp40 juta, itu pun untuk kebutuhan lain dan sebagian sudah terpangkas," ungkapnya.
Meski demikian, pemerintah desa menyatakan akan terus mengupayakan pembangunan melalui berbagai jalur, termasuk pengajuan ke pemerintah daerah serta melalui pokok-pokok pikiran DPRD. "Kami akan terus dorong setiap tahun, baik ke kabupaten maupun provinsi. Harapannya pembangunan tetap bisa berjalan," pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan, pemuda Karang Taruna RT 02 RW 03 Desa Batulayang, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat, mengambil langkah mandiri dengan memperbaiki jalan rusak secara swadaya. Aksi ini tidak hanya menjadi bentuk gotong royong, tetapi juga menyiratkan kritik terhadap minimnya penanganan dari pemerintah setempat.
Ketua Karang Taruna RW 03 Desa Batulayang, Agung Ginanjar, menyebut perbaikan dilakukan karena kerusakan jalan telah berlangsung lama dan kerap memicu kecelakaan. "Jalan ini sudah bertahun-tahun rusak dan sering menyebabkan kecelakaan. Kondisinya semakin parah, sementara belum ada penanganan," ujar Agung, Minggu (19/4/2026).
Ia mengungkapkan, inisiatif perbaikan telah dirancang sejak sebelum Ramadan 2026 dan kini pelaksanaannya telah berjalan hampir dua pekan. Perbaikan difokuskan di Kampung Talagawaden, meliputi RT 02 dan RT 03, dengan panjang sekitar 500 meter.
Menurut Agung, langkah tersebut murni lahir dari inisiatif pemuda tanpa melibatkan pemerintah desa maupun wakil rakyat di daerah pemilihan setempat. "Tidak ada koordinasi dengan pihak desa ataupun dewan. Kami bergerak karena kebutuhan mendesak masyarakat. Kalau menunggu, tidak jelas kapan diperbaiki," tegasnya.
Seluruh pembiayaan kegiatan berasal dari swadaya masyarakat. Warga menyumbang dengan nominal bervariasi, mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah. Selain itu, dukungan juga datang dari toko material yang memberikan harga lebih terjangkau. "Semua murni dari swadaya. Ada yang menyumbang Rp20 ribu sampai Rp200 ribu lebih. Bahkan toko material ikut membantu dengan memberikan harga murah," katanya.
Untuk menjaga transparansi, panitia membuka laporan keuangan secara terbuka melalui grup WhatsApp, termasuk bukti pembelian material. Partisipasi warga dalam kegiatan ini disebut cukup tinggi. Kerja bakti dilakukan secara sukarela, melibatkan pemuda, tokoh masyarakat, hingga warga sekitar.(ijr/sep)
