Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Cekcok Perkara Mendidik di Sekolah: Siswa Melanggar, Guru Menampar, Orang Tua Gusar

M
Muhammad FaisalEditor: Yusup Suparman
|08:40 WIB
Bagikan:
Cekcok Perkara Mendidik di Sekolah: Siswa Melanggar, Guru Menampar, Orang Tua Gusar

PASUNDANEKSPRES.ID - Baru-baru ini publik dihebohkan dengan video percekcokan antara orang tua murid dengan guru SMPN 2 Jalancagak, Subang. Video tersebut viral di media sosial.

Nampak pada video yang beredar, orang tua salah satu murid tersebut mendatangi sekolah anaknya dan memarahi guru bernama Rana Setiaputra, dikarenakan tak terima buah hatinya digampar oleh guru tersebut.

Berdasarkan keterangan Rana, ia terpaksa melakukan hal tersebut karena sang anak tidak bisa diperingatkan secara baik-baik.

"Karena diomongkan baik-baik sudah tidak nurut, dengan cara-cara biasa anak-anak sudah pada ngelunjak," ucapnya pada video tersebut.

Menurut informasi yang didapat, kesabaran Rana memuncak ketika para peserta didiknya itu kedapatan memanjat tembok sekolah hingga roboh.

Dalam akun Instagram pribadi salah satu orang tua tersebut, @mangdans_ bahkan mengakui kesalahan anaknya tersebut, namun dia tak terima anaknya hingga digampar.

"Saya akui anak saya salah gara-gara manjat tembok sampai roboh, tapi saya tidak suka cara guru sudah pakai kekerasan, dan bukan anak saya saja yang kena gampar, 8 anak kena gampar," tulisnya pada caption di salah satu unggahan videonya.

Dalam video tersebut juga, si anak menjelaskan kronologi bagaimana kesalahannya sebelum digampar oleh gurunya.

"Kesalahan abang, waktu hari Rabu abang telat masuk lewat belakang pager yang udah jadi, tapi abang udah ngakuin itu kesalahan. Tapi Waktu hari Senin, ya gitu, padahal guru udah nelpon orang tua," ucap anak tersebut.

Ia mengaku karena kesalahannya, ia digampar oleh gurunya sebanyak tiga kali.

Dedi Mulyadi Gercep Undang Guru

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi merespon kejadian percekcokan antara guru dan orang tua murid yang tengah viral di media sosial.
Hal ini nampak dalam unggahannya pada akun media sosial pribadinya yang memperlihatkan Dedi menemui guru dalalam video yang viral tersebut.

Dalam unggahan tersebut, Rana Setiaputra yang merupakan guru SMPN 2 Jalancagak itu mengungkapkan bahwa anak-anak tersebut tidak hanya loncat dari tembok sekolah, tetapi juga melakukan pelanggaran lainnya yang berulang.

"Bukan hanya merokok, tapi berkelahi, mengganggu kelas yang lain. Terakhir loncat," ucapnya.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi mengatakan, setelah dirinya bertemu dengan pihak guru, selanjutnya ia akan bertemu dengan pihak orang tua murid anak-anak tersebut.

"Saya pikir masalah ini harus segera selesai," ucapnya.

Gubernur dengan sapaan KDM itu menambahkan bahwa baik orang tua dan guru sama-sama bertanggung jawab mendidik anak-anak, sehingga harus saling menghargai.

"Kalau dititpkan di sekolah, percayakan kepada guru. Kalau gurunya keras sedikit, orang tuanya juga harus bisa menyadari kekerasan itu terjadi. Tetapi, guru juga harus menyadari bahwa tidak semua harus dengan kekerasan. Kadang harus lembut, kadang harus keras," ucapnya.

Orang Tua: Kesalahan Anak Saya Sepele

Deni Rukmana, akhirnya memberikan penjelasan terkait peristiwa yang dialami anaknya, Zacky. Dalam keterangannya pada Selasa (4/11/2025), Deni menegaskan bahwa permasalahan yang menimpa anaknya bukan karena tindakan berat seperti yang ramai diberitakan.

Deni menyebut, anaknya hanya melakukan pelanggaran ringan, yakni melompat pagar sekolah, bukan merokok atau membuat keributan di kelas sebagaimana isu yang beredar.

“Kesalahan anak saya itu sepele, hanya loncat pagar saja. Tapi sanksinya malah digampar sampai 8 orang,” ujar Deni.

“Guru bilang hanya dua kali, tapi anak saya mengaku tiga kali,” tambahnya.

Deni juga membantah kabar yang menyebut anaknya melakukan tindakan tidak sopan di sekolah.

“Saya lihat di berita Dedi katanya gara-gara merokok dan mengganggu teman, itu tidak benar. Saya hanya meluruskan, sesuai pengakuan anak saya dan guru, dia hanya loncat pagar,” tegasnya.

Peristiwa penggamparan itu terjadi pada Senin (3/11/2025) usai upacara di lapangan sekolah.

Deni mengaku datang ke sekolah untuk menanyakan langsung alasan di balik tindakan sang guru.

Namun, ia menilai penyampaian guru tersebut tidak pantas, sehingga dirinya secara spontan merekam kejadian tersebut menggunakan ponsel.

“Saya datang baik-baik, ingin tahu kenapa anak saya sampai digaplok tiga kali. Tapi penyampaian guru itu menurut saya tidak bagus, makanya saya reflek ambil handphone dan merekam, saya akui, mungkin saya juga sempat emosi, begitu pun gurunya,” tambahnya dengan nada menyesal.

Ketegangan sempat terjadi di lingkungan sekolah hingga akhirnya dilerai oleh pihak lain, termasuk beberapa guru dan staf sekolah. Setelah situasi mereda, Deni mengaku telah bertemu langsung dengan Kepala Sekolah, wali kelas, dan guru yang bersangkutan.

“Saya sudah minta maaf kepada Kepala Sekolah dan guru itu, begitu juga sebaliknya. Kami sudah saling memaafkan,Cuma memang belum ada hitam di atas putih sebagai tanda penyelesaian resmi," jelasnya.

Dalam penjelasannya, Deni juga menyinggung tudingan bahwa anaknya sering mendapat peringatan dari pihak sekolah. Menurutnya, tidak pernah ada surat resmi yang disampaikan kepada dirinya sebagai orang tua.

“Katanya sering ada surat peringatan atau pemanggilan orang tua, tapi semua itu tidak benar. Tidak pernah ada surat yang sampai ke saya. Kalau memang ada panggilan, saya selalu datang. Waktu anak saya loncat pagar, istri saya juga datang,” imbuhnya.

Deni menegaskan, penjelasan ini disampaikan agar tidak terjadi kesalahpahaman di masyarakat yang mungkin menilai anaknya telah berbuat kasar atau melanggar berat di sekolah.

“Saya hanya meluruskan, bukan berarti membela anak saya sepenuhnya. Tapi tolong jangan dibesar-besarkan seolah anak saya nakal berat. Ini hanya soal kedisiplinan kecil yang seharusnya bisa diselesaikan dengan cara yang lebih baik,” pungkasnya.

Kepsek: Izinkan Mendidik Anak di Sekolah

Menangapi hal tersebut, Kepala Sekolah SMPN 2 Jalancagak Tatang Ruhana, mengonfirmasi bahwa kasus tersebut telah diselesaikan dan dilakukan mediasi antara pihak sekolah dan orang tua.

Dia menegaskan sekolah tidak pernah mempunyai niat untuk menyakiti siswa, melainkan menjaga kedisiplinan dan mendidik.
“Sebetulnya di Jalancagak (sekolah) sudah selesai, sudah mediasi. Cuma orang tua memang sempat bertemu dengan Pak Rana di luar sekolah. Tetapi intinya, sekolah tidak ada niatan menyakiti anak,” kata Tatang.

Menurut Tatang, kasus ini kini sudah diketahui oleh pemerintah Gubernur Jawa Barat.

“Sebetulnya sudah masuk ke Gubernur, terus pemerintah provinsi ikut bertanggung jawab, " Ujarnya.

Tatang juga menjelaskan, siswa yang bersangkutan sebelumnya sudah memiliki catatan kedisiplinan sejak duduk di kelas 7, dan pelanggaran sering kali berulang. Meski begitu, Tatang menegaskan hal tersebut tidak bisa dijadikan pembenaran atas tindakan guru.

“Anak ini memang sudah punya cerita panjang dari kelas 7 dan sering melanggar. Tapi saya tidak bermaksud membenarkan tindakan guru,” jelasnya.

Tatang menambahkan, peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak baik guru maupun orang tua agar ke depan lebih bijak dalam menyelesaikan masalah.

“Kepala sekolah harus mengikuti pelajaran, dan orang tua juga jangan mudah memviralkan masalah,” tegas Tatang.

Tatang menilai kejadian ini harus menjadi momentum memperkuat kolaborasi antara sekolah dan orang tua dalam mendidik anak. Ia mengimbau agar setiap orang tua memberikan kepercayaan kepada sekolah dalam proses pendidikan.

“Kami sudah mengumpulkan para orang tua untuk berkolaborasi mendidik anak. Izinkan sekolah mendidik anak di sekolah, dan jika anak di rumah, mohon orang tua juga ikut mendidik,” harapnya.(hdi/fsh/ysp)

Berita Terbaru

Pemain dan Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Pemain dan Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Olahraga2 jam lalu
Terkumpul Rp5,2 Juta, Infaq ASN RSUD Ciereng Fokus untuk Kesehatan

Terkumpul Rp5,2 Juta, Infaq ASN RSUD Ciereng Fokus untuk Kesehatan

Subang2 jam lalu
Jumah Berkah, DPD Golkar Purwakarta Berbagi Nasi Kotak

Jumah Berkah, DPD Golkar Purwakarta Berbagi Nasi Kotak

Purwakarta3 jam lalu
Sertifikat K3 untuk Melamar Kerja di Subang: Syarat, Manfaat, dan Cara Mendapatkannya

Sertifikat K3 untuk Melamar Kerja di Subang: Syarat, Manfaat, dan Cara Mendapatkannya

Lifestyle3 jam lalu
ADVERTISEMENT
Warga Dukung untuk Jabat Kedua Kalinya, Endi Sonjaya Kembali Nyalon Kades Kalentambo Subang

Warga Dukung untuk Jabat Kedua Kalinya, Endi Sonjaya Kembali Nyalon Kades Kalentambo Subang

Subang3 jam lalu
Indonesia Diproyeksikan Masuk Pot 3 Kualifikasi Piala Dunia 2030, Ini Dasarnya

Indonesia Diproyeksikan Masuk Pot 3 Kualifikasi Piala Dunia 2030, Ini Dasarnya

Nasional4 jam lalu
Jurusan Kuliah untuk Kerja di Industri Otomotif Subang, Ini Daftar Pilihannya

Jurusan Kuliah untuk Kerja di Industri Otomotif Subang, Ini Daftar Pilihannya

Subang5 jam lalu
Sun Life Syariah dan BMM Dorong UMKM Perempuan di Bandung Naik Kelas

Sun Life Syariah dan BMM Dorong UMKM Perempuan di Bandung Naik Kelas

Nasional5 jam lalu
PERINTIS 10 Hari Jawab Kebutuhan Masyarakat akan Layanan Pertanahan yang Pasti dan Cepat

PERINTIS 10 Hari Jawab Kebutuhan Masyarakat akan Layanan Pertanahan yang Pasti dan Cepat

Nasional6 jam lalu
PGRI Subang Gelar ToT Senam Bugar Jawa Barat Istimewa

PGRI Subang Gelar ToT Senam Bugar Jawa Barat Istimewa

Headline6 jam lalu