Liburan Sekolah Bisa Jadi Peluang Dongrak Pariwisata di Kabupaten Subang

PASUNDANEKSPRES.ID - Di tengah kebijakan pembatasan study tour ke luar daerah, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Subang justru melihat peluang. Mereka memastikan sektor pariwisata lokal siap menyambut lonjakan wisatawan dengan pola yang berbeda pada libur sekolah nanti pada akhir Desember.
PHRI Subang mengakui bahwa kebijakan larangan study tour oleh Pemprov Jabar memberikan dampak yang luar biasa. Mulai dari penurunan kunjungan sektor sekolah, termasuk turunnya kunjungan tamu hotel dan restauran.
Ketua PHRI Subang, Ratna Setiawan, mengatakan, perputaran ekonomi elas mengalami penurunan. Ini yang membuat pekerja pariwisata menjadi terdampak.
Tapi, PHRI tak tinggal dia. PHRI berusaha mengedukasi pelaku usaha pariwisata untuk membuat paket wisata non study tour. Misalnya menjadi paket keluarga, perorangan, komunitas, healing trips hingga company reatreat.
Menyambut momentum liburan sekolah, PHRI justru membuka peluang ekonomi bagi hotel, restoran, dan destinasi wisata di Subang.
Menurut Ratna, PHRI telah menyusun enam fokus langkah strategis untuk memastikan pelayanan dan kesiapan destinasi tetap optimal. Pertama, PHRI akan mengarahkan promosi pada wisata keluarga, komunitas, serta wisatawan perorangan sebagai segmen utama pengganti rombongan studytour.
Kedua, PHRI mendorong kolaborasi antara sekolah dan pemerintah daerah agar kegiatan liburan siswa tetap bernilai edukatif melalui kunjungan agrowisata, pelaku UMKM, dan destinasi edukasi lokal yang aman serta terjangkau.
Kemudian ketiga sektor pariwisata Subang juga akan memperkuat promosi digital dengan memaksimalkan media sosial, influencer, platform wisata, hingga optimasi visibilitas di Google Maps dan Instagram untuk memperluas jangkauan calon wisatawan.
Keempat, Ratna menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia hotel dan restoran melalui pelayanan prima, peningkatan standar kebersihan, serta kecepatan respon layanan guna memenuhi ekspektasi wisatawan keluarga.
Kelima, PHRI turut memperkuat koordinasi data dengan Dinas Pariwisata untuk memetakan perkiraan arus wisatawan sehingga persiapan kamar hotel, stok makanan, hingga tenaga kerja sementara dapat dikelola dengan baik.
Keenam, PHRI memastikan anggotanya menyesuaikan program, promo, dan layanan agar mampu menangkap peluang ekonomi dari pergeseran pola kunjungan wisata dari rombongan pelajar menuju wisata keluarga.
Ratna menegaskan, bahwa langkah-langkah tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesiapan hotel, restoran, dan destinasi wisata (DEWI), memastikan standar kebersihan dan pelayanan sesuai Sapta Pesona, menghadirkan promo paket wisata keluarga yang menarik, mendorong kolaborasi PHRI, Pemda, dan pelaku UMKM, dan mengoptimalkan pemasaran digital untuk memperluas jangkauan.
“Dengan upaya ini, Subang siap menerima kunjungan wisatawan meskipun tanpa adanya studi tour,” ujarnya.
Ratna juga menyampaikan harapan agar momentum liburan sekolah tetap membawa dampak positif.
Ia menekankan pentingnya pariwisata Subang tumbuh secara berkelanjutan, memberikan efek ekonomi nyata bagi masyarakat, menciptakan pengalaman yang membuat wisatawan ingin kembali, serta mewujudkan citra Subang sebagai destinasi wisata yang ramah, bersih, aman, dan kreatif.
“Tujuan akhirnya adalah memastikan Subang tetap menjadi tujuan wisata yang diminati dan memberikan manfaat bagi semua pihak,” ujarnya.
Imbau Siswa Utamakan Kebersamaan Keluarga Saat Libur Panjang
Menyongsong libur panjang akhir tahun yang akan berlangsung selama dua minggu pada akhir Desember 2025, sejumlah kepala sekolah di Subang mengeluarkan imbauan khusus kepada siswa dan orang tua.
Imbauan ini tidak hanya tentang menjaga perilaku, tetapi juga menyoroti kebijakan pembatasan study tour ke luar daerah yang diterapkan di Jawa Barat.
Esensi imbauan ini adalah memaknai liburan sebagai waktu untuk memulihkan energi dan mempererat ikatan keluarga, bukan sekadar berpesta keluar daerah.
Kepala Sekolah SMPN 2 Jalancagak, H. Tatang Ruhana, menegaskan esensi utama liburan bukanlah soal pergi jauh atau menghabiskan biaya besar, namun bagaimana siswa dapat memulihkan energi dan memperkuat hubungan emosional dengan orang tua.
“Jadikan libur sekolah sebagai hari penuh kebahagiaan. Bahagia karena kalian telah mampu menyelesaikan pembelajaran dengan baik di waktu-waktu sebelumnya,” ujarnya kepada Pasundan Ekspres, Jumat (21/11/2025).
Tatang mengimbau agar siswa memanfaatkan masa libur untuk berlibur atau sekadar berkumpul bersama keluarga. Ia menekankan bahwa kebersamaan adalah faktor yang paling penting dalam membangun kedekatan emosional anak dan orang tua.
“Berlibur tidak harus jauh dan mahal. Yang penting ada kebersamaan. Itu yang membuat anak merasa dihargai dan diperhatikan,” tambahnya.
Dia juga mengingatkan siswa untuk tetap menjaga sikap baik, meski berada di luar lingkungan sekolah.
“Dimanapun kalian berada, tetaplah membawa nama baik sekolah dan keluarga. Perilaku positif itu tidak boleh hilang meski sedang liburan,” ucapnya.
Terkait study tour, Tatang menilai bahwa bentuk wisata edukatif terbaik justru adalah kebersamaan di dalam keluarga.
“Study tour terbaik bagi siswa adalah ketika hadir bersama keluarga. Dari situ tumbuh kebahagiaan dan saat kembali ke sekolah, semangat belajar mereka akan lebih baik,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Sekolah SDN Titim Fatimah Jalancagak, Thesi Rismayanti, menyoroti tiga aspek utama jelang liburan. Yakni administrasi, keamanan aset sekolah, dan keberlanjutan karakter siswa.
Thesi mengatakan sekolah biasanya menegaskan kembali jadwal pembagian rapor dan periode libur, agar tidak terjadi kesalahpahaman antara pihak sekolah dan wali murid.
Selain itu, ia juga memastikan seluruh sarana prasarana sekolah terjaga selama masa sekolah kosong.
“Kami mengimbau penjaga sekolah dan guru piket untuk memastikan keamanan komputer, peralatan pembelajaran, serta ruang kelas. Libur panjang sering kali berisiko terhadap pencurian atau kerusakan,” jelas Thesi.
Namun yang tidak kalah penting menurutnya adalah tetap menjaga karakter siswa selama libur. “Kami mendorong siswa agar liburannya diisi dengan kegiatan positif: membaca, membantu orang tua, ikut kegiatan keagamaan, atau aktivitas sosial. Pendidikan karakter tidak boleh berhenti hanya karena sekolah sedang libur,” tegasnya.
Thesi menjelaskan, pembatasan study tour yang sedang ramai dibahas sebenarnya bukan keputusan mutlak dari pemerintah pusat, tetapi berasal dari Surat Edaran Pemerintah Daerah seperti Gubernur Jawa Barat.
Kebijakan ini didorong oleh dua alasan utama: pertama keselamatan siswa terus kedua Menghindari beban biaya bagi orang tua.
“Tujuannya jelas: melindungi anak dan mencegah biaya yang berlebihan. Study tour tetap bisa dilakukan, tapi cukup di wilayah Jawa Barat atau daerah lokal yang memiliki nilai edukatif,” terang Thesi.
Ia menilai kebijakan tersebut juga bermanfaat bagi perekonomian lokal karena mengarahkan sekolah untuk memanfaatkan destinasi wisata edukatif di wilayah sendiri.
Kepala SDN Pelita Karya Jalancagak, Dadan Hermawan, memandang kebijakan pembatasan study tour sebagai hal yang wajar dan tidak mengganggu kegiatan sekolah.
“Untuk sekolah dasar, study tour memang biasanya tidak terlalu jauh. Jika pun ada larangan keluar daerah, di Jawa Barat pilihan destinasi edukatif itu sangat banyak,” ujarnya.
Dadan menyebutkan, sekolahnya sering memanfaatkan tempat-tempat lokal yang dekat namun kaya nilai pembelajaran.
Mulai dari museum sejarah, pantai dan ekosistem air, peternakan dan pusat budidaya tanaman, kebun binatang, hingga berbagai lokasi ekowisata.
Bahkan, SDN Pelita Karya mampu mengubah lingkungan sekitar sekolah menjadi ruang belajar luar kelas.
“Outing bisa dilakukan di sekitar sekolah. Ada banyak potensi pembelajaran langsung, lebih hemat, lebih aman, dan tetap menyenangkan,” katanya.
Dadan juga menekankan libur tidak berarti anak berhenti belajar. Beberapa sekolah bahkan menyiapkan aktivitas daring ringan agar siswa tetap terkoneksi dengan materi pelajaran tanpa memberi beban.(hdi/znl/ysp)
