Penjelasan Kepala SMPN 2 Jalancagak Subang Usai Kasus Guru Viral Dimediasi Dedi Mulyadi

PASUNDANEKSPRES.ID - Setelah melalui proses mediasi yang difasilitasi langsung oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, polemik antara orang tua siswa dan guru di SMPN 2 Jalancagak akhirnya dinyatakan selesai.
Kedua belah pihak sepakat untuk berdamai dan melanjutkan aktivitas pendidikan seperti biasa.
Kepala Sekolah SMPN 2 Jalancagak, H. Tatang Rohana, M.Pd., menyampaikan hasil mediasi berjalan baik.
Dia menegaskan bahwa semua pihak kini telah sepakat untuk mengubur persoalan tersebut dan kembali fokus pada dunia pendidikan.
“Kedua belah pihak, baik orang tua maupun sekolah, sudah sama-sama mengubur masalah ini. Untuk anak juga tetap melanjutkan kegiatan belajar di sekolah seperti biasa,” ujar Tatang, Kamis (6/11/2025).
Menurut Tatang, yang terpenting saat ini adalah memastikan agar anak tidak menjadi korban dari konflik antara guru dan orang tua. Tatang mengingatkan seluruh pihak agar lebih mengedepankan kepentingan pendidikan dibandingkan ego pribadi.
“Kelanjutan anak dalam kegiatan belajar harus lebih dikedepankan ketimbang ego kita masing-masing. Tentu orang tua punya ego, guru juga punya ego, tapi jangan sampai anak jadi korban,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Tatang juga menyampaikan apresiasinya kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Bupati Subang, Dinas Pendidikan Kabupaten Subang, PGRI, serta seluruh orang tua siswa.
“Saya apresiasi kepada Pak Gubernur, Bupati, Dinas Pendidikan, dan PGRI yang telah mendukung penyelesaian ini. Kami juga mengajak para orang tua untuk terus berkolaborasi mendidik anak-anak agar menjadi generasi yang unggul, shaleh dan shalehah,” tambahnya.
Menurutnya, salah satu pesan penting dari Gubernur Dedi Mulyadi adalah pentingnya kepercayaan antara orang tua dan guru dalam proses pendidikan.
“Pak Gubernur menyampaikan, ketika orang tua mempercayakan anaknya bersekolah, berikanlah kepercayaan itu sepenuhnya kepada guru. Supaya guru bisa mendidik dengan tenang tanpa rasa takut atau tekanan,” terang Tatang.
Sebagai tindak lanjut, pihak sekolah berencana mengundang seluruh orang tua dan siswa pada Senin depan untuk melakukan pertemuan reflektif.
Namun, guru yang terlibat dalam insiden sebelumnya, Rana, tidak akan dihadirkan karena kasus tersebut sudah dianggap selesai.
“Tujuannya untuk menyamakan persepsi bahwa mendidik anak adalah tugas bersama. Semoga dengan kesepahaman ini, kejadian seperti kemarin tidak terulang lagi,” jelasnya.
Tatang menegaskan, ke depan sekolah akan melakukan sosialisasi mendalam mengenai tata tertib sekolah agar seluruh pihak memahami hak dan kewajiban masing-masing.
Ia juga memastikan akan memperkuat pembinaan guru dan pendidikan karakter siswa, agar hubungan antara peserta didik dan pendidik semakin harmonis.
"Khusus kepada guru, saya kepala sekolah berkewajiban melakukan pembinaan guru bukan hanya kepada Pak Rana, tapi kepada semua guru. Kepada siswa juga akan kami tekankan pentingnya karakter hormat, bukan hanya kepada orang tua tapi juga kepada guru,” tegas Tatang.
Ia juga menyoroti pentingnya perhatian terhadap kondisi psikologis siswa, terutama bagi Zacky, siswa yang sempat menjadi pusat perhatian publik.
“Yang saya khawatirkan, jangan sampai Zacky mendapat perundungan dari teman-temannya. Anak tidak boleh dilibatkan dalam konflik apapun. Tugas sekolah memastikan lingkungan belajar tetap aman dan nyaman bagi semua,” pungkasnya.(hdi/ysp)
