Perjalanan Hidup Indra Zainal Kades Jalancagak, Ingin Memberikan Manfaat Luas untuk Masyarakat

PASUNDANEKSPRES.ID - “Jangan pernah berkecil hati. Jangan pernah merendahkan diri di hadapan siapa pun. Ketika kalian punya kemampuan dan kemauan, tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah SWT.” Kalimat itu diucapkan dengan tenang tapi penuh keyakinan oleh Indra Zainal Alim, Kepala Desa Jalancagak, Subang.
Dalam momentum Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2025, pesannya mengalir bukan sekadar sebagai nasihat, melainkan refleksi dari perjalanan panjang seorang pemuda yang meniti hidup dari bawah — dari aktivis, pengusaha, hingga kini menjadi pemimpin di tingkat akar rumput.
Indra adalah gambaran nyata bagaimana semangat Sumpah Pemuda tidak berhenti di upacara atau slogan. Ia menghidupi makna persatuan, perjuangan, dan pengabdian lewat tindakan nyata di desa tempat ia dilahirkan.
Lahir dan tumbuh di Jalancagak, Indra menempuh pendidikan dasar di SDN Jalancagak dan lulus tahun 1989. Setelah itu, ia melanjutkan ke MTsN Cisalak (sekarang MTsN 2 Subang) dan lulus tahun 1991.
Namun, semangat menuntut ilmu membawanya jauh dari kampung halaman — ke Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, tempat para tokoh besar bangsa seperti KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah ditempa. Di sana, ia menyelesaikan pendidikan Madrasah Aliyah tahun 1994.
“Pesantren memberi saya pondasi kuat, bukan hanya ilmu agama, tapi juga tanggung jawab sosial dan keberanian untuk menyuarakan kebenaran,” kenangnya.
Selepas mondok, Indra melanjutkan pendidikan tinggi di Sekolah Tinggi Hukum Bandung (STHB) dan meraih gelar Sarjana Hukum. Dunia hukum menjadi ladang pengabdian pertamanya. Ia bekerja di Kejaksaan Negeri Subang, lalu dipindahkan ke Kejaksaan Tinggi Jawa Barat (Kejati).
Namun, pada tahun 2004, sebelum terikat dinas tetap, ia membuat keputusan berani: mengundurkan diri dan membuka lembaran baru sebagai pengusaha grosir di Subang.
Perjalanan hidup Indra tak bisa dilepaskan dari sejarah reformasi 1998. Ia adalah bagian dari aktivis muda yang ikut menyalakan api perubahan saat Indonesia mengguncang tembok otoritarianisme.
“Saat itu kami ingin membuktikan bahwa demokrasi harus dikembalikan kepada rakyat. Bahwa suara mahasiswa dan pemuda tak bisa dibungkam,” ujarnya dengan mata berbinar.
Semangat itulah yang kemudian membawanya ke dunia politik. Tahun 1999, ia bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan menjabat sebagai Sekretaris PKB Kecamatan Jalancagak.
“Saya memilih PKB karena saya santri Tebuireng. Saya patuh pada kiai dan nilai-nilai keislaman yang moderat. Tapi lebih dari itu, saya ingin memperjuangkan politik yang beretika,” katanya.
Namun perjalanan politiknya penuh dinamika. Saat Gus Dur dilengserkan, Indra memutuskan keluar dari PKB dan bergabung dengan PDI Perjuangan (PDIP). Di sana ia belajar banyak hal.
“Di PDIP, saya belajar bagaimana partai bekerja dari bawah, bagaimana menyentuh hati rakyat agar perjuangan politik benar-benar dirasakan,” ujarnya.
Pengalaman itu menjadi modal berharga ketika ia memasuki babak baru dalam hidupnya: menjadi Kepala Desa Jalancagak.
Tahun 2019 menjadi tahun bersejarah bagi Indra. Ia maju dalam pemilihan kepala desa Jalancagak dengan dukungan kuat dari kalangan pemuda.
“Suara saya waktu itu hanya beda tiga. Tapi tiga suara itulah takdir. Tiga suara yang mengubah hidup saya dan membawa amanah besar,” tuturnya sambil tersenyum.
Sejak awal menjabat, Indra menegaskan satu hal: kepemimpinan desa bukan soal kekuasaan, tapi soal kedekatan dengan rakyat.
“Saya ingin warga Jalancagak merasa punya kepala desa. Jangan sampai pemimpin sulit dihubungi. Saya harus ada kapan pun mereka butuh,” ujarnya tegas.
Dan prinsip itu ia buktikan. Warga mengenalnya sebagai sosok yang mudah ditemui — entah di kantor desa, warung kopi, atau tengah malam ketika ada warga sakit.
Di bawah kepemimpinan Indra, Desa Jalancagak terus berkembang. Ia berhasil membawa desanya meraih predikat Desa Mandiri pada tahun 2022, setelah indeks pembangunan desa meningkat signifikan.
Tak hanya itu, Jalancagak juga meraih penghargaan Ketahanan Pangan Tingkat Kabupaten Subang, serta mewakili Provinsi Jawa Barat dalam Program Kampung Iklim (Proklim) yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), bahkan masuk 10 besar nasional.
Untuk menopang kemandirian ekonomi desa, Indra membentuk BUMDes Jalancagak yang kini telah berjalan dengan baik.
“BUMDes kita sudah punya pelanggan tetap untuk hasil pertanian dan peternakan kambing. Kami juga bekerja sama dengan Koperasi Merah Putih dalam usaha percetakan,” jelasnya.
Langkah visioner lainnya adalah rencana pembangunan rest area Jalancagak–Tambakan, hasil kerja sama dengan PT BMN dan PTPN.
“InsyaAllah tahun 2025 akhir rest area ini akan terwujud. Bukan hanya untuk PADes, tapi juga membuka lapangan kerja baru bagi warga dan menampung pedagang kecil yang dulu tergusur,” katanya penuh semangat.
Perjalanan Indra tak hanya soal jabatan. Ia melihat desa sebagai miniatur Indonesia, tempat nilai-nilai persatuan dan gotong royong harus dijaga.
Ia juga aktif di berbagai organisasi seperti NU Subang (menjabat Wakil Bendahara PCNU), dan menjadi pembina di beberapa lembaga kepemudaan serta sosial.
“Bagi saya, organisasi bukan tempat mencari nama, tapi ladang untuk menanam manfaat,” katanya.
Dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda, Indra menyampaikan pesan yang sangat dalam kepada generasi muda Subang:
“Jangan pernah takut bermimpi besar. Jangan merasa kecil hanya karena kalian berasal dari desa. Justru dari desa lah pemimpin sejati lahir — karena di sana kita belajar arti perjuangan, kesederhanaan, dan ketulusan.”
Ia mengingatkan, semangat Sumpah Pemuda bukan hanya slogan yang diucapkan setahun sekali, melainkan harus dihidupkan setiap hari — di sekolah, di rumah, di tempat kerja, dan di ladang perjuangan masing-masing.
“Pemuda harus menjadi agen perubahan, bukan penonton sejarah. Kalau kalian bisa memimpin diri sendiri dengan baik, maka kalian siap memimpin bangsa ini,” pesannya menutup perbincangan.
Kini, di usianya yang matang, Indra Zainal Alim telah melewati banyak jalan: dari mahasiswa hukum, pengusaha, aktivis, hingga pemimpin desa. Namun satu hal tak pernah berubah — semangat pemudanya yang menyala di setiap langkah.
Bagi Indra, Sumpah Pemuda bukan hanya peristiwa 1928, tapi kompas moral yang harus terus dijaga agar Indonesia tidak kehilangan arah.
Dan dari sebuah desa bernama Jalancagak, semangat itu terus hidup di tangan seorang pemuda yang kini menjadi kepala desa, tapi tetap berjiwa pembaharu.(adv/hdi/ysp)
