Pojokan 309: Sidang Kabinet "Ngopi" Warga Gang

Tak tiap malam saya berkesempatan ikut nimbrung di "sidang paripurna" warga gang. Maklumlah, punggung saya lebih sering bengkok bukan karena memikirkan nasib bangsa, melainkan karena seharian sibuk menyemir sepatu, kadang sepatu para pejabat. Sepatu-sepatu itu harus kinclong, harus gagah, supaya saat mereka melangkah menuju mimbar kebijakan yang katanya "pro-rakyat". Mereka tidak tersandung oleh janji-janji kampanye mereka sendiri yang sudah berdebu.
Bagi kami, ngopi adalah rapat kabinet yang sesungguhnya. Bedanya, kalau "beliau-beliau" di Istana sana, bersidang di atas karpet merah dengan pendingin ruangan yang suhunya diatur agar tidak bikin keringat dingin—padahal mungkin hatinya sedang panas karena takut kursinya digoyang—kami cukup bersidang di atas bangku kayu yang paku-pakunya mulai unjuk gigi. Macam demo mahasiswa menuntut perbaikan ekonomi dan turunkan dolar. Pendingin kami adalah angin sepoi-sepoi yang sesekali membawa bau comberan, dan kalau ada motor lewat, kami harus melipat kaki, layaknya menteri yang takut kena resuffle.
Isu yang kami bahas? Sama beratnya dengan beban hidup. Soal sampah yang menumpuk, got yang tersumbat, sampai misteri hilangnya isi dompet yang lebih cepat daripada janji manis partai politik. Uang di dompet kami tak pernah betah tinggal lama, ia seolah punya agenda pribadi untuk kabur entah ke mana, enggan balik lagi.
Di "sidang" ini, Bang Agun bertindak sebagai pemimpin. Ia bicara berbusa-busa, detail sekali, persis menteri yang baru dilantik dan sedang memamerkan program seratus hari yang entah kapan berakhirnya. Bedanya, kalau menteri bicara program pakai bahasa asing yang bikin dahi mengernyit, Bang Agun pakai bahasa rakyat yang bikin perut mulas—mulas menahan tawa getir.
Soal politik tingkat tinggi—seperti yang diributkan mantan ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto itu—tak masuk menu utama. Bagi kami, itu urusan langit. Bisa jadi di sidang Istana, bahas jumawanya kurs dollar yang angkuh bukan main. Ia terus membumbung tinggi, seolah sedang melakukan pendakian gunung yang tak ada puncaknya. Sementara rupiah kita? Ia seolah menteri yang sedang dirayu-rayu agar mau berjuang, tapi malah loyo di pojokan pasar. Enggan untuk menggulingkan kekuasaan sang dollar, tak semangat berjuang mempertahankan kedaulatannya. Padahal arogansi “Benjamin Franklin” membuat kelimpungan stabilitas politik dan ekonomi.
Menu agenda sidang kami adalah perubahan wajah di uang kertas yang selalu penuh drama. Senyum Soekarno-Hatta jarang sekali mampir. Dompet kami lebih akrab dengan wajah kaku Tjut Mutia atau Mohammad Hoesni Thamrin. Semakin kecil nilainya, semakin kaku wajahnya. Dan sepertinya, senyum proklamator kita akan benar-benar tenggelam, digilas oleh besar kepalanya wajah Benjamin Franklin dari negeri Paman Sam sana.
Pojokan 309: Sidang Kabinet "Ngopi" Warga Gang
Kami tak tahu persis bagaimana sidang kabinet yang sesungguhnya. Barangkali, mereka sibuk menyiapkan data (yang semoga tidak asal-bapak-senang). Sementara keluhan kami—warga yang taat bayar pajak meski dompet sedang diet ketat—tak masuk dalam agenda rapat. Kami di gang ini hanya berbagi rasa: bahwa hidup memang perlu diseduh dengan air mendidih campur bubuk kopi, agar pahitnya bisa kita nikmati. Bukan sekadar ditelan mentah-mentah sampai ke tenggorokan.
Besok, kami harus berakrobat lagi. Menari di atas tali tipis nasib, berusaha mengumpulkan senyum Soekarno-Hatta agar tak kalah oleh gertakan Benjamin Franklin. Jika akhirnya senyum Dr. Ratulangi di lembaran dua puluh ribu pun harus ikut luntur, biarlah. Kami tetap berjuang untuk hidup kekuarga kami.
Kopi pahit yang tersaji di bangku kayu seolah jadi saksi bisu dari sulitnya perjuangan mengais nafkah. Nyeruput kopi adalah “jeda iklan” di tengah film kehidupan yang menghimpit dan membosankan. Asap rokok yang mengepul bergumpal tak karuan, percis gambaran masa depan yang semakin tak jelas. Kerutan di bangku kayu seirama dengan kerutan di wajah-wajah kami yang sulit kembali rata. Bahkan mendahului kerutan di kursi-kursi pejabat yang empuk.
Kopi pahit ini adalah satu-satunya hal yang sepenuhnya dalam kendali kami. Ia setia, jujur, dan tidak pernah berbohong soal rasanya. Sementara kebijakan? Ah, itu kan urusan mereka yang sepatunya kinclong. Bagi kami, punggung yang ringan karena berbagi beban di bangku kayu ini sudah cukup. Seperti gelas kopi yang kosong dan puntung rokok yang jadi abu, setidaknya kami tahu kapan harus berhenti—sebelum nasib benar-benar membuat kami mati gaya. (Kang Marbawi, 120626)
