Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

SUBANG DOELOE: Apakah Benar Seni Sisingaan Merupakan Simbol Perlawanan?

H
HubaEditor: Huba
|09:09 WIB
Bagikan:
SUBANG DOELOE: Apakah Benar Seni Sisingaan Merupakan Simbol Perlawanan?
KESENIAN: Penampilan Sisingaan dalam Pekan Kebudayaan Daerah di Lapang Bintang Subang tahun 2023 silam.

SUBANG-Sisingaan merupakan kesenian khas yang berasal dari daerah di sebelah utara provinsi Jawa Barat bernama Subang. Keberadaannya sampai saat ini tidak lepas dari sejarah panjang yang menyertainya. Terutama, berkaitan dengan sejarah kemunculannya. 

Banyak yang beranggapan bahwa sisingaan lahir akibat dari penjajahan. Akan tetapi, tidak sedikit juga yang menyangsikan anggapan tersebut. 

Dosen Pendidikan Sejarah Institut Pangeran Dharma Kusuma Anggi A. Junaedi mengatakan, sampai saat ini sisingaan dipersepsikan oleh sebagian besar masyarakat sebagai bentuk perlawanan rakyat Subang kepada penjajah. 

"Hal ini dapat dilihat pada nilai-nilai filosofisnya. Empat orang pengusung digambarkan sebagai masyarakat Subang yang sedang dijajah. Sementara itu, boneka yang diusung merupakan representatif dari dua penjajah; Inggris dan Belanda karena keduanya pernah menguasai wilayah ini secara bergantian," jelasnya.

"Terakhir, anak-anak yang menaiki boneka singa dipercaya sebagai generasi penerus Subang yang akan mengusir penjajah sekaligus membebaskan penderitaan rakyat Subang terdahulu. Dengan demikian, sisingaan bukanlah perlawanan secara langsung ataupun terbuka. Ia merupakan perlawanan secara tertutup melalui simbol," ucapnya. 

Namun, Anggi menyebutkan, bukti yang kuat untuk memperkuat argumen tersebut belum ditemukan. Menurutnya, bukti yang ada hanya berupa cerita yang diturunkan secara turun temurun dari generasi ke generasi. 

"Dalam sejarah, ini disebut dengan tradisi lisan dan belum cukup untuk dapat dikatakan sebagai suatu kebenaran yang mendekati objektif. Apalagi, jika harus berkiblat kepada salah satu sejarawan Barat yang mengatakan bahwa no document no history," ucapnya. 

Oleh karena itu, Anggi bilang untuk dapat menghasilkan suatu kebenaran yang mendekati objektif tentang sejarah lahirnya sisingaan maka mau tidak mau harus menggunakan data dan fakta. 

Ketiadaan data dan fakta berkenaan dengan sejarah lahirnya sisingaan sebagai bentuk perlawanan membuat beberapa pihak mulai meragukan kebenarannya. 

Seorang pakar sisingaan bernama Armin Asdi misalnya. Keraguannya terhadap kaitan sisingaan dengan perlawanan membawa dirinya untuk melakukan penelitian secara lebih mendalam. 

Dalam penelitiannya, ia mencoba melacak lahirnya sisingaan sejak dibentuknya Subang sebagai tanah swasta yang dibagi kepada tiga periode penguasa; Inggris, Belanda, dan kembali ke Inggris. 

Hasilnya, ia menyangsikan sisingaan lahir pada periode pertama karena beberapa hal. Pertama, jumlah penduduk di Subang saat itu masih jarang dan didominasi oleh para pendatang sehingga hubungan diantara penduduk masih renggang. Sementara itu, untuk menghasilkan sebuah karya seni dengan nilai filosofis yang tinggi diperlukan ikatan yang kuat. 

Kedua, daerah Subang belum dieksploitasi secara besar-besaran oleh penjajah sehingga kemungkinan adanya perlawanan dari rakyat cukup kecil. 

Ketiga, jumlah penduduk Subang saat itu masih sangat sedikit. Pada akhirnya, Armin Asdi sampai pada kesimpulan bahwa sisingaan lahir pada periode kedua (1848-1910) yaitu pada masa penguasa Belanda bernama Peter Willem Hofland. Pada masa ia berkuasa, daerah Subang mengalami perkembangan yang sangat pesat baik dari segi jumlah penduduk dan hubungan yang erat diantara mereka maupun eksploitasi terhadap daerah ini. 

Akan tetapi, bukan sebagai bentuk perlawanan, melainkan sebagai bentuk pemujaan kepada Hofland karena dibawah kepemimpinannya, Subang mengalami kemajuan yang cukup pesat dan rakyat bergerak menuju kemakmuran. 

Berdasarkan beberapa sumber yang ditemukan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), setidak-tidaknya sampai dengan 1913 tidak ditemukan adanya perlawanan dari rakyat kepada penguasa. 

Artinya, dapat dikatakan bahwa rakyat Subang saat itu berada pada kondisi yang cukup sejahtera sebagaimana dikatakan Armin Asdi. Perlawanan rakyat kepada penguasa, baru terjadi pada 1913. Penyebabnya adalah kenaikan pajak mencapai 200 persen oleh penguasa baru berkebangsaan Inggris. 

Dengan begitu, apabila sebagai bentuk perlawanan maka seharusnya sisingaan baru lahir paling awal pada 1913. Padahal, sebelum tahun tersebut, sisingaan sudah ada. 

"Sebagaimana diungkapkan Edih dalam penelitiannya bahwa pada 1910 sisingaan telah digunakan oleh penduduk Subang. Dengan demikian, sisingaan tidak lahir karena perlawanan. Melekatnya sisingaan dengan perlawanan diperkirakan baru terjadi kemudian. Terutama selama masa pergerakan nasional sedang berlangsung," ucap Anggi. 

Pada sisi lainnya, seorang akademisi bernama Mulyadi memiliki pandangan berbeda. Ia meyakini bahwa sisingaan lahir bukan karena pemujaan apalagi perlawanan melainkan sebagai jalan untuk menegakkan syariat Islam yaitu khitan. Sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh masyarakat setempat. 

Khitan merupakan hal baru yang diperkenalkan Islam kepada masyarakat. Tidak sedikit dari mereka yang merasa takut untuk dikhitan. Melalui sisingaan, ketakutan terhadap khitan menjadi berkurang. Bahkan sudah tidak ada lagi karena diganti dengan perasaan bahagia. Tidak jarang banyak anak-anak yang meminta kepada orang tuanya untuk dikhitan karena ingin menjadi raja sadinten. Sebutan bagi mereka yang akan dikhitan dan diarak menggunakan sisingaan. 

Anggi mengatakan, yang menjadi persoalan adalah darimana pencipta sisingaan mengetahui singa, karena binatang itu tidak endemik di Pulau Jawa ataupun Indonesia. Kemudian, kaitan antara singa dan Islam. 

"Analisis saya, kedua hal itu terjadi karena adanya pertukaran budaya dengan dunia luar. Secara geografis, wilayah Subang utara merupakan wilayah yang terbuka. Ditemukannya manik-manik di Situs Nay Subanglarang menjadi bukti bahwa masyarakat Subang telah menjalin komunikasi dengan bangsa lain. Terutama, dilihat dari corak dan bentuknya, beberapa manik-manik berasal dari kawasan Asia Tengah khususnya Persia dan India," ucapnya. 

Kaitan singa dan Islam begitu melekat dengan kedua kerajaan tersebut. Hal ini dapat dilihat dari simbol kebesarannya yaitu singa. Tidak berlebihan kiranya untuk mengatakan bahwa masyarakat Subang mengenal singa dalam kaitannya dengan Islam dari mereka yang kemudian diwujudkan dalam suatu kesenian bernama sisingaan.(fsh/ysp)

Berita Terbaru

Pemain dan Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Pemain dan Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Olahraga1 jam lalu
Terkumpul Rp5,2 Juta, Infaq ASN RSUD Ciereng Fokus untuk Kesehatan

Terkumpul Rp5,2 Juta, Infaq ASN RSUD Ciereng Fokus untuk Kesehatan

Subang1 jam lalu
Jumah Berkah, DPD Golkar Purwakarta Berbagi Nasi Kotak

Jumah Berkah, DPD Golkar Purwakarta Berbagi Nasi Kotak

Purwakarta2 jam lalu
Sertifikat K3 untuk Melamar Kerja di Subang: Syarat, Manfaat, dan Cara Mendapatkannya

Sertifikat K3 untuk Melamar Kerja di Subang: Syarat, Manfaat, dan Cara Mendapatkannya

Lifestyle2 jam lalu
ADVERTISEMENT
Warga Dukung untuk Jabat Kedua Kalinya, Endi Sonjaya Kembali Nyalon Kades Kalentambo Subang

Warga Dukung untuk Jabat Kedua Kalinya, Endi Sonjaya Kembali Nyalon Kades Kalentambo Subang

Subang2 jam lalu
Indonesia Diproyeksikan Masuk Pot 3 Kualifikasi Piala Dunia 2030, Ini Dasarnya

Indonesia Diproyeksikan Masuk Pot 3 Kualifikasi Piala Dunia 2030, Ini Dasarnya

Nasional3 jam lalu
Jurusan Kuliah untuk Kerja di Industri Otomotif Subang, Ini Daftar Pilihannya

Jurusan Kuliah untuk Kerja di Industri Otomotif Subang, Ini Daftar Pilihannya

Subang4 jam lalu
Sun Life Syariah dan BMM Dorong UMKM Perempuan di Bandung Naik Kelas

Sun Life Syariah dan BMM Dorong UMKM Perempuan di Bandung Naik Kelas

Nasional4 jam lalu
PERINTIS 10 Hari Jawab Kebutuhan Masyarakat akan Layanan Pertanahan yang Pasti dan Cepat

PERINTIS 10 Hari Jawab Kebutuhan Masyarakat akan Layanan Pertanahan yang Pasti dan Cepat

Nasional5 jam lalu
PGRI Subang Gelar ToT Senam Bugar Jawa Barat Istimewa

PGRI Subang Gelar ToT Senam Bugar Jawa Barat Istimewa

Headline5 jam lalu