Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Tujuh Bulan Air Berlumpur, Warga Subang Duga Akibat Pengerukan Tanah untuk Kebun Durian

H
Hadi MartadinataEditor: Yusup Suparman
|09:17 WIB
Bagikan:
Tujuh Bulan Air Berlumpur, Warga Subang Duga Akibat Pengerukan Tanah untuk Kebun Durian
ALIH FUNGSI: Aktivitas pengerukan lahan untuk kebun durian di Kecamatan Kasomalang pada Sabtu (10/1/2026). Hadi Martadinata/Pasundan Ekspres

PASUNDANEKSPRES.ID - Warga Kampung Nyalindung RT 14, Desa Tenjolaya, Kecamatan Kasomalang, Subang telah mengalami kesulitan air bersih selama tujuh bulan terakhir.

Kesulitan dan tercemarnya sumber air tersebut diduga kuat akibat aktivitas pengerukan lahan untuk kebun durian yang hingga kini masih terus berlangsung.

Berdasarkan pantauan langsung di lapangan pada Sabtu (11/1/2026), kondisi kawasan perbukitan yang sebelumnya hijau kini tampak berubah drastis.

Area tersebut terlihat telah dikeruk menggunakan alat berat, menyisakan tanah terbuka dan bekas longsoran dengan kontur tanah yang labil. Kondisi ini diduga kuat memengaruhi daya serap air di kawasan hulu.

Salah satu perwakilan warga Kampung Nyalindung, Iwan, mengatakan sejak aktivitas tersebut berlangsung, air yang mengalir ke permukiman warga menjadi keruh, terutama saat hujan turun. Kondisi ini telah dirasakan warga selama sekitar tujuh bulan terakhir.

“Kalau hujan, air yang mengalir ke kami itu keruh, dan itu sudah berlangsung tujuh bulan,” ujar Iwan saat ditemui wartawan Pasundan Ekspres pada Sabtu (10/1/2026).

Dia menjelaskan, ketika air menjadi keruh, warga terpaksa menunggu hingga air kembali jernih atau dalam istilah warga setempat disebut “herang”, baru kemudian dapat digunakan.

“Masyarakat mun caina kiruhnya ngantosan herang wehh, isukan paling herangna. Terus kalau airnya keruh teu tiasa ibak, maenya rek ibak ku cileutak (lumpur),” tuturnya.

Menurut Iwan, perubahan kondisi air ini sangat berbeda dibandingkan sebelumnya. Ia menduga, hilangnya area resapan air di kawasan perbukitan menjadi penyebab utama derasnya aliran air bercampur lumpur ke permukiman warga.

“Biasanya cai tara kawas kieu, naha ayeuna kawas kieu, cai teh loba ka serang. Mereun da euweuh serapan airna ti tonggohna,” ungkapnya.

Tak hanya air yang mengalir ke rumah warga, air di saluran solokan pun kini berubah menjadi berlumpur, tidak jauh berbeda dengan kondisi air di sumber mata air.

Iwan berharap Pemerintah Kabupaten Subang segera turun tangan untuk menangani persoalan tersebut. Ia menginginkan air kembali jernih seperti kondisi sebelumnya, sehingga dapat digunakan warga untuk kebutuhan sehari-hari.

“Caina hayang herang deui sapertos kapungkur. Mun hujan teh euweuh lumpuran. Biasana warga oge make cai ieu keur kabutuhan sapopoe. Cuman ku kiruh tea warga jadi melian cai,” katanya.

Sebelumnya, Bayu, salah seorang warga Kampung Nyalindung, juga mengungkapkan mata air yang selama ini menjadi sumber utama air bersih masyarakat kini sudah tidak layak digunakan. Dari beberapa mata air yang ada, sebagian besar telah tercemar lumpur.

“Air yang biasanya jernih sekarang berubah menjadi keruh bercampur lumpur. Saat tercemar, air yang keluar bukan lagi air bersih, tapi air berlumpur. Kami sangat kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari,” ujar Bayu kepada wartawan, Rabu (7/1/2026).

Bayu menduga pencemaran tersebut berasal dari aktivitas galian untuk kebun durian di Blok Pasir Bilik, yang lokasinya tidak jauh dari sumber mata air. Aktivitas tersebut diduga menyebabkan aliran lumpur masuk ke jalur mata air yang selama ini dimanfaatkan warga.

Ia menambahkan, sedikitnya 88 Kepala Keluarga (KK) di RT 14 terdampak langsung akibat pencemaran tersebut. Selama ini, warga sangat bergantung pada mata air tersebut untuk kebutuhan rumah tangga, mulai dari memasak hingga mandi.

“Untuk memasak saja kami kadang tidak bisa menggunakan air itu karena lumpurnya sangat pekat. Bahkan untuk mandi pun tidak memungkinkan,” pungkasnya.(hdi/ysp)

Berita Terbaru

Rumah123 Ungkap Tren Rumah Tapak di Subang, Harga Penawaran Tembus Rp1,5 Miliar

Rumah123 Ungkap Tren Rumah Tapak di Subang, Harga Penawaran Tembus Rp1,5 Miliar

Lifestyle28 menit lalu
Polda Metro Jaya Hapus Postingan Sumpah Pemuda di Instagram? Ini Informasi yang Beredar

Polda Metro Jaya Hapus Postingan Sumpah Pemuda di Instagram? Ini Informasi yang Beredar

Nasional33 menit lalu
Subang Fest Vol.15 Kembali Digelar Akhir Oktober, Gandeng Komunitas Otomotif

Subang Fest Vol.15 Kembali Digelar Akhir Oktober, Gandeng Komunitas Otomotif

Lifestyle1 jam lalu
Green Policing di Cidadap, Kapolsek Pagaden Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan

Green Policing di Cidadap, Kapolsek Pagaden Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan

Subang1 jam lalu
ADVERTISEMENT
Daftar Lengkap HP OPPO Terbaru 2026, Cek Spesifikasi dan Harga Oktober

Daftar Lengkap HP OPPO Terbaru 2026, Cek Spesifikasi dan Harga Oktober

Lifestyle1 jam lalu
Angkat Kisah Aktivis 1998, Penonton Film Laut Bercerita Tembus 184 Ribu di Hari Pertama

Angkat Kisah Aktivis 1998, Penonton Film Laut Bercerita Tembus 184 Ribu di Hari Pertama

Lifestyle2 jam lalu
Pertamina Targetkan 500 Ribu Liter Minyak Jelantah untuk Bahan Baku Bioavtur

Pertamina Targetkan 500 Ribu Liter Minyak Jelantah untuk Bahan Baku Bioavtur

Nasional2 jam lalu
Usulan WFA saat Libur Nataru 2026 untuk Urai Kemacetan, Kemenhub Bidik 3 Tanggal Ini

Usulan WFA saat Libur Nataru 2026 untuk Urai Kemacetan, Kemenhub Bidik 3 Tanggal Ini

Nasional2 jam lalu
Capai Rp 158 Miliar, Pemerintah Beri Bonus untuk Atlet Peraih Medali Asian Games dan Asian Para Games 2026

Capai Rp 158 Miliar, Pemerintah Beri Bonus untuk Atlet Peraih Medali Asian Games dan Asian Para Games 2026

Nasional2 jam lalu
DPRD Subang Dorong Solusi Banjir Pantura, Setiap Musim Hujan Jadi Ancaman

DPRD Subang Dorong Solusi Banjir Pantura, Setiap Musim Hujan Jadi Ancaman

Headline2 jam lalu