Tujuh Bulan Air Berlumpur, Warga Subang Duga Akibat Pengerukan Tanah untuk Kebun Durian

PASUNDANEKSPRES.ID - Warga Kampung Nyalindung RT 14, Desa Tenjolaya, Kecamatan Kasomalang, Subang telah mengalami kesulitan air bersih selama tujuh bulan terakhir.
Kesulitan dan tercemarnya sumber air tersebut diduga kuat akibat aktivitas pengerukan lahan untuk kebun durian yang hingga kini masih terus berlangsung.
Berdasarkan pantauan langsung di lapangan pada Sabtu (11/1/2026), kondisi kawasan perbukitan yang sebelumnya hijau kini tampak berubah drastis.
Area tersebut terlihat telah dikeruk menggunakan alat berat, menyisakan tanah terbuka dan bekas longsoran dengan kontur tanah yang labil. Kondisi ini diduga kuat memengaruhi daya serap air di kawasan hulu.
Salah satu perwakilan warga Kampung Nyalindung, Iwan, mengatakan sejak aktivitas tersebut berlangsung, air yang mengalir ke permukiman warga menjadi keruh, terutama saat hujan turun. Kondisi ini telah dirasakan warga selama sekitar tujuh bulan terakhir.
“Kalau hujan, air yang mengalir ke kami itu keruh, dan itu sudah berlangsung tujuh bulan,” ujar Iwan saat ditemui wartawan Pasundan Ekspres pada Sabtu (10/1/2026).
Dia menjelaskan, ketika air menjadi keruh, warga terpaksa menunggu hingga air kembali jernih atau dalam istilah warga setempat disebut “herang”, baru kemudian dapat digunakan.
“Masyarakat mun caina kiruhnya ngantosan herang wehh, isukan paling herangna. Terus kalau airnya keruh teu tiasa ibak, maenya rek ibak ku cileutak (lumpur),” tuturnya.
Menurut Iwan, perubahan kondisi air ini sangat berbeda dibandingkan sebelumnya. Ia menduga, hilangnya area resapan air di kawasan perbukitan menjadi penyebab utama derasnya aliran air bercampur lumpur ke permukiman warga.
“Biasanya cai tara kawas kieu, naha ayeuna kawas kieu, cai teh loba ka serang. Mereun da euweuh serapan airna ti tonggohna,” ungkapnya.
Tak hanya air yang mengalir ke rumah warga, air di saluran solokan pun kini berubah menjadi berlumpur, tidak jauh berbeda dengan kondisi air di sumber mata air.
Iwan berharap Pemerintah Kabupaten Subang segera turun tangan untuk menangani persoalan tersebut. Ia menginginkan air kembali jernih seperti kondisi sebelumnya, sehingga dapat digunakan warga untuk kebutuhan sehari-hari.
“Caina hayang herang deui sapertos kapungkur. Mun hujan teh euweuh lumpuran. Biasana warga oge make cai ieu keur kabutuhan sapopoe. Cuman ku kiruh tea warga jadi melian cai,” katanya.
Sebelumnya, Bayu, salah seorang warga Kampung Nyalindung, juga mengungkapkan mata air yang selama ini menjadi sumber utama air bersih masyarakat kini sudah tidak layak digunakan. Dari beberapa mata air yang ada, sebagian besar telah tercemar lumpur.
“Air yang biasanya jernih sekarang berubah menjadi keruh bercampur lumpur. Saat tercemar, air yang keluar bukan lagi air bersih, tapi air berlumpur. Kami sangat kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari,” ujar Bayu kepada wartawan, Rabu (7/1/2026).
Bayu menduga pencemaran tersebut berasal dari aktivitas galian untuk kebun durian di Blok Pasir Bilik, yang lokasinya tidak jauh dari sumber mata air. Aktivitas tersebut diduga menyebabkan aliran lumpur masuk ke jalur mata air yang selama ini dimanfaatkan warga.
Ia menambahkan, sedikitnya 88 Kepala Keluarga (KK) di RT 14 terdampak langsung akibat pencemaran tersebut. Selama ini, warga sangat bergantung pada mata air tersebut untuk kebutuhan rumah tangga, mulai dari memasak hingga mandi.
“Untuk memasak saja kami kadang tidak bisa menggunakan air itu karena lumpurnya sangat pekat. Bahkan untuk mandi pun tidak memungkinkan,” pungkasnya.(hdi/ysp)
