Aliran Sungai Tersumbat Penyebab Banjir di Cikole Lembang, Komisi III DPRD: Harus Dinormalisasi

PASUNDANEKSPRES.ID - Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Bandung Barat (KKB) Pither Juandis tinjau lokasi pasca banjir dan longsor di Desa Cikole Kecamatan Lembang pada Selasa, (30/9/2025). Didampingi perwakilan Dinas Bina Marga, Sumber Daya Air dan Penambangan serta Aparatur Desa Cikole meninjau langsung lokasi bencana di Tiga Rukun Warga (RW) yaitu RW 3, RW 6, RW 7, dan RW 9.
Ketua komisi III DPRD Kabupaten Bandung Barat, Pither Juandis mengatakan, kegiatan peninjauan ini untuk menelusuri penyebab dan dampak secara menyeluruh. Peninjauan dilakukan menelurusi sungai untuk menemukan penyebab pasti terjadinya banjir di wilayah Cikole yang merupakan daerah pegunungan.
Selain menelusuri sungai, Pither juga mengunjungi korban longsor. Ia berdialog dengan masyarakat mendengarkan keluhan mereka. "Hari ini saya bersama Dinas Bina Marga mengecek langsung ke lapangan ternyata kami temukan bahwa penyebab banjir dan longsor ini karena tersumbatnya aliran air sungai. Sebagai langkah awal sungai ini harus segera di normalisasi agar aliran air bisa lancar," ucapnya.
Pither menegaskan, Setelah melihat kondisi dan berdialoga dengan masyarakat dirinya akan berkordinasi dengan Dinas Bina Marga, Sumber Daya Air (SDA) dan Penambangan Kabupaten Bandung Barat untuk meninjau lokasi sungai di Cikole. "Saya akan berkordinasi dengan Dinas Bina Marga, SDA dan Penambangan untuk segera melihat kondisi sungai sehingga nanti ketemu titik-titik mana saja yang perlu di utamakan penanganan," tegasnya.
Ia juga menghimbau masyarakat agar selalu waspada bilamana terjadi hujan deras. "Saya berpesan agar masyarakat lebih waspada ketika terjadi hujan deras, takutnya ada bencana susulan," tukasnya.
Seperti diketahui, hujan deras mengguyur wilayah Lembang, Kabupaten Bandung Barat pada Senin (29/9/2025) menyebabkan banjir dan longsor terjadi di wilayah Desa Cikole. Banjir dan longsor melanda empat wilayah Rukun Warga (RW), diantaranya, RW 3, RW 6, RW 7 dan RW 9.
Kepala Desa Cikole, Tajudin mengatakan, banjir terjadi disebabkan banyaknya saluran drainase di sepanjang Jalan Tangkuban Perahu sudah tidak layak. Mengingat debit air besar dengan kondisi drainase sudah tidak layak lagi.
"Saluran drainase di sepanjang jalan provinsi banyak tidak berfungsi dan kecil, tidak seimbang lagi dengan debit air yang sangat besar," ucapnya kepada Pasundan Ekspres, Selasa (30/9/2025).
Tajudin juga menyebutkan hujan deras menyebabkan aspal yang berada depan Mako Kompi I Batalion B Pelopor Brimob Polda Jabar juga tergerus air dan menyisakan kerusakan yang sangat parah.
Tajudin juga tidak memungkiri, aliran air deras yang masuk perkampungan berasal dari kawasan hutan. Hal itu terjadi dikarenakan debit air cukup tinggi dan ini akan didiskusikan dengan pihak Palawi dan BKPH Lembang. "Kami akan berkoordinasi dengan pengelola wisata di hutan Cikole untuk mengambil langkah-langkah antisipasi," jelasnya.
Akibat banjir dan longsor sebanyak 28 kepala keluarga terdampak yang saat ini telah di evakuasi karena berada deket saluran air sungai dan tebing. Hal itu dilakukan sebagai langkah antisipasi untuk menghindari terjadinya longsor susulan. "Ada beberapa rumah yang berada di bawah tebing dan untuk sementara dievakuasi ke rumah tetangga terdekat karena ada potensi longsor. Apalagi jika hujan kembali mengguyur wilayah Cikole," ungkapnya.
Sebagai langkah-langkah pencegahan, Pemerintah Desa Cikole bersama Tim SAR Brimob Cikole, BPBD Kabupaten Bandung Barat, Destana Desa Cikole dan berbagai komunitas relawan melakukan pembersihan lanjutan, Selasa (30/9/2025).
Selain itu juga dilakukan pembuatan tanggul dari karung berisi tanah untuk menahan longsoran susulan di beberapa titik yang tidak jauh dari rumah warga. "Kami juga akan melakukan penguatan dalam kesiapsiagaan bencana dalam menghadapi cuaca ekstrem yang semakin tak menentu. Bahkan dengan kejadian kemarin dijadikan bahan evaluasi untuk ke depannya," pungkasnya.(ijr/sep)
