Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Ciri Khas Musik Daerah Subang: Harmoni Budaya dalam Irama Gembyung dan Genjring Bonyok

P
Paramitha AuliaEditor: Heru Ramdani
|10:51 WIB
Bagikan:
Ciri Khas Musik Daerah Subang: Harmoni Budaya dalam Irama Gembyung dan Genjring Bonyok
Ciri Khas Musik Daerah Subang: Harmoni Budaya dalam Irama Gembyung dan Genjring Bonyok (Image From: Kabupaten Subang)

PASUNDAN EKSPRES - Kabupaten Subang, yang berada di Provinsi Jawa Barat, tidak hanya dikenal dengan panorama alamnya yang memukau dan potensi pariwisata yang terus berkembang, tapi juga karena kekayaan seni dan budayanya yang masih terjaga utuh sampai saat ini.

Salah satu warisan budaya yang tetap eksis dan menjadi kebanggaan masyarakat lokal adalah kesenian musik tradisional khas Subang yang penuh dengan nilai sejarah dan spiritualitasnya. 

Subang merupakan daerah yang masyarakatnya masih menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan tradisi. Hal ini tercermin dari berbagai kesenian yang terus dipertahankan dan diwariskan lintas generasi.

Seni musik tradisional di Subang bukan sekadar hiburan, melainkan juga bagian penting dari berbagai ritual adat dan kegiatan sosial masyarakat.

Dua di antaranya yang masih berkembang hingga saat ini adalah Gembyung dan Genjring Bonyok, yang masing-masing memiliki ciri khas alat musik, pola irama, dan fungsi dalam masyarakat.

Ciri Khas Musik Daerah Subang

Berikut adalah ulasan lengkap tentang musik khas Subang yang masih terjaga sampai saat ini. 

Gembyung

Dilansir dari Wikipedia, Gembyung merupakan ensambel musik tradisional Subang yang berasal dari pengaruh budaya Islam.

Umumnya, alat musik yang digunakan adalah beberapa buah waditra (alat musik pukul) seperti terbang atau rebana, dan sering kali dipadukan dengan suara tarompet.

Namun, dalam beberapa variasi pertunjukan di lapangan, Gembyung juga bisa dimainkan tanpa tarompet.

Dikutip dari Kebudayaan Kemindikbud,  Gembyung memiliki makna filosofis yang mendalam.

Berdasarkan onomatope (bunyi yang menirukan suara tertentu), nama “Gembyung” berasal dari suara gem (tabuhan yang ditahan) dan byung (tabuhan yang dilepas).

Secara semiotik, kata gem berarti “ageman” atau pedoman hidup, sementara byung berarti “kabiruyungan” atau kepastian dalam pelaksanaan ajaran tersebut.

Dengan demikian, Gembyung tidak hanya sekadar pertunjukan seni, melainkan juga merupakan simbol spiritual dan komitmen terhadap nilai-nilai keagamaan dan sosial.

Kesenian ini biasanya tampil dalam berbagai upacara adat seperti ruatan bumi (pembersihan desa), minta hujan, dan mapag Dewi Sri (menyambut Dewi Kesuburan), serta acara pernikahan dan khitanan.

Bahkan, di Kampung Ragasuta, Kecamatan Ciater, pertunjukan Gembyung dianggap wajib dalam upacara pernikahan.

Jika tidak, masyarakat percaya bahwa pasangan pengantin akan mengalami nasib kurang baik.

Genjring Bonyok

Selain Gembyung, kesenian lain yang juga tumbuh dan berkembang pesat di Subang adalah Genjring Bonyok, yang berasal dari Desa Pangsor, Kecamatan Pagaden.

Nama Genjring Bonyok berasal dari dua unsur, yaitu "Genjring" sebagai alat musik berkulit yang menyerupai rebana dan "Bonyok" sebagai nama daerah asalnya.

Genjring Bonyok dikenal luas sebagai salah satu bentuk karawitan atau musik tradisional Sunda yang menggunakan beberapa alat musik khas seperti genjring, bedug, kecrek, tarompet, dan gong.

Keunikan dari Genjring Bonyok terletak pada teknik permainan alat musik genjring yang menghasilkan berbagai macam suara seperti pong, pang, ping, pak, dan bum.

Masing-masing bunyi tersebut dihasilkan dari teknik menepuk atau memukul bagian tertentu dari genjring menggunakan jari-jari atau telapak tangan.

Ciri khas musik daerah Subang yang di antaranya adalah Kesenian Gembyung dan Genjring Bonyok ini merupakan dua representasi kekayan musik yang mencerminkan identitas budaya.

Keduanya tidak hanya sebagai seni pertunjukan, melainkan juga sebagai bagian dari sistem nilai dan kepercayaan masyarakat.

Oleh karena itu, sebagai masyarakat yang baik, melestarikan budaya menjadi suatu kewajiban sebagai bentuk mempertahankan jati diri bangsa yang berakat kuat pada nilai-nilai lokal. 

(ipa)

Berita Terbaru

GILA! Persib Bikin Port FC Terdiam, Sempat Tertinggal Malah Comeback 3-1 di Thailand

GILA! Persib Bikin Port FC Terdiam, Sempat Tertinggal Malah Comeback 3-1 di Thailand

Olahraga11 jam lalu
Lonjak Lima Lipat! Menteri PKP Maruarar Sirait Subang Kucurkan Bantuan 1.372 Rutilahu dan Perumahan

Lonjak Lima Lipat! Menteri PKP Maruarar Sirait Subang Kucurkan Bantuan 1.372 Rutilahu dan Perumahan

Subang12 jam lalu
Pilkades Munjul, Tiga Cakades Dapat Nomor Urut, Afwan 1, Husen 2, Mahdi 3

Pilkades Munjul, Tiga Cakades Dapat Nomor Urut, Afwan 1, Husen 2, Mahdi 3

Subang12 jam lalu
Tracing TB, Puskesmas Cibogo Sasar 100 Warga Sadawarna

Tracing TB, Puskesmas Cibogo Sasar 100 Warga Sadawarna

Subang13 jam lalu
ADVERTISEMENT
Gelar Operasi Pasar Murah, Bulog Subang Jaga Statabilitas Pangan

Gelar Operasi Pasar Murah, Bulog Subang Jaga Statabilitas Pangan

Subang13 jam lalu
PLN Journalist Awards 2026 Kembali Digelar, Usung Tema Energi Mandiri, Indonesia Berdaya

PLN Journalist Awards 2026 Kembali Digelar, Usung Tema Energi Mandiri, Indonesia Berdaya

Nasional14 jam lalu
DPR Hormati Putusan MK soal Ijazah Gibran, Dasco: Kami Belum Pelajari Mendalam

DPR Hormati Putusan MK soal Ijazah Gibran, Dasco: Kami Belum Pelajari Mendalam

Nasional15 jam lalu
Cara Kirim Foto Sekali Lihat di WhatsApp, Bisa Jaga Privasi!

Cara Kirim Foto Sekali Lihat di WhatsApp, Bisa Jaga Privasi!

Lifestyle15 jam lalu
Bupati Purwakarta: Jika Syarat Terpenuhi, Pendirian Gereja di Cikopo Harus Diizinkan

Bupati Purwakarta: Jika Syarat Terpenuhi, Pendirian Gereja di Cikopo Harus Diizinkan

Purwakarta15 jam lalu
Kecelakaan Tol Cipularang! Arus Melambat, Truk Trailer Diduga Tak Bisa Berhenti hingga Tabrak 15 Kendaraan

Kecelakaan Tol Cipularang! Arus Melambat, Truk Trailer Diduga Tak Bisa Berhenti hingga Tabrak 15 Kendaraan

Jawa Barat16 jam lalu