Tari Doger dan Sisingaan: Tarian Khas Subang yang menjadi Pesona Budaya Tradisional

PASUNDAN EKSPRES - Mengenal tarian khasi Subang. Kabupaten Subang, yang terletak di Provinsi Jawa Barat, merupakah salah satu wilayah yang kaya akan seni dan budayanya.
Subang tak hanya dikenal karena kekayaan alam dan pertaniannya, tapi juga karena warisan budayanya yang masih dilestarikan hingga saat ini, terutama pada seni pertunjukan tradisional.
Kabupaten yang memiliki populasi sebanyak 1,6 juta jiwa ini menjadi salah satu pusat budaya Sunda yang terus berkembang.
Seni dan kesenian seolah telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Subang, baik sebagai hiburan maupun sebagai ekspresi nilai-nilai tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Lalu, apa saja, ya tarian khas Subang?
Tarian Khas Subang yang menjadi Pesona Budaya Tradisional
Di antara sekian banyak kesenian yang berkembang di Subang, dua tarian khas yang sangat terkenal adalah Tarian Doger dan Kesenian Sisingaan.
Tarian Doger
Dilansir dari laman Pemkab Subang, Tarian Doger merupakan salah satu kesenian khas Subang yang sarat makna dan memiliki akar kuat dalam budaya masyarakat lokal. Nama Doger sendiri berasal dari gabungan dua kata, yaitu “Dog” dan “Ger”.
Kata Dog merujuk pada alat musik pengiring yang disebut dog-dog, sebuah instrumen pukul tradisional yang terbuat dari kayu pohon kelapa dengan membran dari kulit kambing.
Sedangkan Ger adalah singkatan dari kata “Beger”, yang dalam bahasa Sunda berarti “kasmaran” atau sedang jatuh cinta.
Awalnya, kesenian Doger adalah hiburan rakyat yang dipentaskan untuk masyarakat di wilayah Subang, terutama di daerah perkebunan.
Tarian ini identik dengan pergaulan dan hiburan bagi para remaja dan pemuda-pemudi yang sedang mengalami masa-masa kasmaran.
Disajikan dalam bentuk tarian pergaulan, para penarinya adalah wanita (sering disebut ronggeng) yang tampil diiringi oleh alunan musik gamelan khas Sunda. Pementasan ini dipimpin oleh seorang pimpinan kelompok seni yang disebut lurah kongsi.
Kesenian Sisingaan
Selain Doger, Kesenian Sisingaan menjadi tarian khas Subang yang paling dikenal luas hingga ke mancanegara.
Kesenian ini memiliki nilai historis dan simbolis yang sangat kuat, terutama dalam konteks perlawanan terhadap penjajah pada masa kolonial.
Sisingaan berasal dari kata “singa” yang berarti singa, dan dalam pertunjukannya, Sisingaan menampilkan boneka singa besar yang digotong oleh beberapa pria.
Di atas boneka tersebut biasanya duduk seorang anak kecil yang mengenakan pakaian khas.
Boneka singa tersebut merupakan simbol dari negara penjajah yang ditakuti, dan anak kecil yang menungganginya melambangkan keberanian rakyat Subang dalam menghadapi dan menundukkan penjajah.
Pertunjukan ini tidak hanya menjadi tontonan, tapi juga media untuk menyampaikan pesan semangat juang dan kebanggaan terhadap identitas lokal.
Saat ini, Sisingaan kerap tampil dalam berbagai acara adat dan perayaan, seperti penyambutan tamu kehormatan, khitanan anak, serta festival budaya.
Bahkan setiap tanggal 5 April, dalam rangka peringatan hari jadi Kabupaten Subang, digelar Festival Sisingaan yang diikuti oleh seluruh kecamatan di kabupaten tersebut.
Tarian khas Subang seperti Doger dan Sisingaan bukan hanya pertunjukan seni, tapi menjadi cerminan nilai-nilai sosial, sejarah perjuangan, serta identitas budaya masyarakat Subang.
Kesenian Subang ini menjadi daya tarik budaya yang layak untuk dilestarikan dan dibanggakan.
(ipa)
