Tarian Sisingaan Subang: Landasan Pesona Khas Sunda yang Wajib Dilestarikan

PASUNDAN EKSPRES - Sisingaan, atau sering disebut juga Gotong Singa, merupakan salah satu seni pertunjukan tradisional khas masyarakat Sunda yang berasal dari Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Dalam perjalanannya, Sisingaan telah mengalami perubahan dari ritual adat menjadi pertunjukan seni hiburan yang sarat makan budaya dan sejarah.
Sisingaan berasal dari Desa Neglasari, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Subang, Jawa Barat.
Meski berasal dari daerah tertentu, seiring waktu kesenian ini menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia. Bahkan, kelompok-kelompok Sisingaan kini bisa ditemukan di luar Subang seperti di Bandung, Garut, hingga Jabodetabek.
Tarian Sisingaan Subang: Landasan Pesona Khas Sunda
Tari Sisingaan Subang bukan hanya sekedar hiburan rakyat biasa, ini adalah cerminan dari ekspresi budaya yang berakat kuat dalam identitas masyarakat Sunda, khususnya Subang.
Seni Gerak dan Musik pada Sisingaan
Sisingaan diawali dengan iringan musik yang enerjik, diikuti dengan tarian dari empat orang pengusung singa yang memperlihatkan gerakan atraktif yang begitu memikat.
Gerakan yang dimainkan memiliki nama-nama khas, seperti pasang, bangkaret, gugulingan, sepakan dua, mincid, jeblag, gendong singa, angkat jungjung, ngolecer, dan banyak lagi.
Gerakan-gerakan ini dilakukan sambil mengarak singa keliling kampung, menciptakan tontonan yang meriah sekaligus menghibur.
Salah satu daya tarik utama dari pertunjukan Sisingaan adalah atraksi dari para pengusung.
Mereka melakukan gerakan ekstrem seperti memutar tandu di atas kepala, menggoyang dengan cepat sambil menari, hingga mengangkat tinggi-tinggi patung singa dengan penunggang di atasnya.
Aksi ini membuat penonton terpukau dan menambah daya hibur dalam pertunjukan.
Di beberapa acara, atraksi ini menjadi kompetisi tersendiri antar kelompok Sisingaan. Semakin ekstrem dan kompak gerakan para pengusung, semakin besar pula sambutan dan penghargaan dari masyarakat.
Asal Muasal Keseniaan Sisingaan
Kesenian Sisingaan ini bermula dari tradisi masyarakat Subang yang dilakukan dalam rangka menyambut proses khitanan anak laki-laki.
Menurut Abah Salim, seorang pengrajin patung singa di Subang yang diwawancarai oleh Pemkab Subang pada tahun 2011, awal mulanya adalah ketika anak yang akan disunat diarak keliling kampung menggunakan jampana, yaitu kursi yang dihias dan dipanggul oleh empat orang dewasa.
Arak-arakkan ini diiringi musik sederhana seperti dog-dog, kendang, kempul, dan kecrek, dengan irama yang bersifat spontan dan mengikuti pola tabuh pencak silat. Saat itu, gerakan para pengusung tidak menari-nari, dan hanya berjalan biasa mengikuti iringan musik.
Seiring perkembangan zaman dan meningkatnya kreativitas masyarakat, jampana mulai diubah menjadi tandu berbentuk patung singa.
Patung ini dibuat dari rangkaian bambu (carangka) yang dibungkus karung goni, sementara kepala dan kaki singa dibuat dari kayu randu.
Rambut singa menggunakan tali rafia, dan matanya dibuat dari tutup botol. Desain ini kemudian dikenal sebagai sisingaan bongsang dan menjadi identitas utama pertunjukan ini.
Secara simbolik, patung singa mewakili lambang kekuasaan kolonial Inggris. Anak laki-laki yang duduk di atas singa melambangkan generasi penerus bangsa, sedangkan payung yang menaungi mereka merupakan simbol perlindungan.
Sementara itu, para pengusung singa mewakili masyarakat pribumi yang selama masa penjajahan mengalami penindasan. Oleh karena itu, Sisingaan juga dimaknai sebagai bentuk perlawanan dan semangat kebangkitan rakyat Subang terhadap kolonialisme.
Selain sebagai hiburan, Sisingaan juga memegang nilai sosial dan spiritual bagi masyarakat Sunda.
Dalam konteks ritual khitanan, pertunjukan ini dipercaya mampu memberikan semangat dan keberanian bagi anak yang akan disunat. Arak-arakan keliling kampung juga menjadi bentuk perayaan kebahagiaan keluarga dan syukur kepada Tuhan.
(ipa)
