5 Fakta Konsumsi Gorengan Saat Buka Puasa: Nikmat, Tapi Perlu Bijak

PASUNDANEKSPRES.ID - Ini dia fakta konsumsi gorengan saat buka puasa. Gorengan sudah menjadi menu favorit banyak orang saat berbuka puasa. Rasanya yang gurih, renyah, dan mudah ditemukan membuat makanan ini hampir selalu hadir di meja takjil.
Namun di balik kelezatannya, ada sejumlah fakta kesehatan yang perlu diperhatikan agar konsumsi gorengan tidak berdampak buruk bagi tubuh, terutama setelah seharian berpuasa.
Fakta Konsumsi Gorengan Saat Buka Puasa
Berikut ini beberapa fakta kesehatan mengenai mengonsumsi gorengan saat buka puasa.
Lemak pada Gorengan Lebih Sulit Dicerna
Dilansir dari Halodoc, makanan yang digoreng mengandung lemak cukup tinggi dari minyak. Lemak ini relatif lebih lambat dicerna oleh tubuh, terlebih ketika dikonsumsi saat perut kosong setelah berpuasa.
Kondisi ini membuat sistem pencernaan harus bekerja lebih keras, sehingga proses penyerapan nutrisi lain bisa terhambat.
Selain itu, karena lemak membutuhkan waktu lama untuk dicerna, tubuh sering tidak segera merasa kenyang.
Akibatnya, seseorang cenderung makan lebih banyak gorengan tanpa sadar, yang pada akhirnya meningkatkan penumpukan lemak dalam tubuh.
Kandungan Kalori Bisa Sangat Tinggi
Dilansir dari Alodokter, metode memasak dengan minyak banyak membuat makanan menyerap lemak dan kalori tambahan, apalagi jika gorengan dilapisi tepung.
Proses penggorengan pada suhu tinggi juga berpotensi meningkatkan pembentukan lemak trans yang kurang baik bagi kesehatan.
Sebagai gambaran, satu potong gorengan bisa mengandung kalori dan lemak yang cukup besar. Misalnya, tahu isi dan bakwan memiliki kandungan lemak lebih tinggi dibanding pisang goreng atau singkong goreng.
Jika dikonsumsi beberapa potong sekaligus, jumlah kalorinya bisa mendekati seperempat kebutuhan kalori harian orang dewasa, yang rata-rata sekitar 2.100 kalori.
Padahal, setelah berbuka puasa biasanya seseorang masih mengonsumsi makanan berat seperti nasi dan lauk, sehingga asupan kalori total dapat dengan mudah berlebihan.
Dampak pada Lambung dan Pencernaan
Saat berpuasa, lambung dalam kondisi kosong cukup lama. Pada sebagian orang, asam lambung dapat meningkat sehingga membuat perut lebih sensitif. Mengonsumsi makanan berminyak saat kondisi ini dapat memicu rasa mual, perut kembung, atau nyeri lambung.
Bagi penderita gangguan asam lambung, gorengan bahkan bisa memperparah keluhan karena lemak memperlambat pengosongan lambung dan meningkatkan produksi asam.
Risiko Penyakit Jika Dikonsumsi Berlebihan
Konsumsi gorengan dalam jumlah besar dan terlalu sering dapat memicu berbagai masalah kesehatan. Asupan kalori yang berlebih dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes.
Tak hanya itu, lemak jenuh dan lemak trans dalam gorengan juga dapat meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi ini bisa memperbesar risiko penyakit jantung dan gangguan pembuluh darah.
Boleh Saja, Asal Tidak Berlebihan
Meskipun memiliki berbagai risiko, bukan berarti gorengan harus dihindari sepenuhnya saat berbuka puasa.
Mengonsumsi satu potong gorengan sebagai selingan masih tergolong aman bagi kebanyakan orang sehat. Yang penting adalah menjaga porsinya agar tidak berlebihan.
Nah, itulah mengenai fakta konsumsi gorengan saat buka puasa yang mungkin belum pernah kamu tahu.
Gorengan memang menggoda sebagai menu buka puasa, tapi konsumsi berlebihan dapat berdampak pada kesehatan. Maka dari itu, jaga porsi gorengan saat dikonsumsi sewaktu berbuka puasa.
(ipa)
