Mengenal Apa Itu Stevia? Benarkah Rasanya Lebih Manis dari Gula? Cek di Sini!

PASUNDANEKSPRES.ID - Apa itu stevia? Stevia semakin populer sebagai alternatif gula pasir, terutama di kalangan masyarakat yang sedang menjalani program diet atau berusaha mengurangi konsumsi gula.
Pemanis yang berasal dari tanaman ini memiliki tingkat kemanisan jauh lebih tinggi dibandingkan gula biasa, tetapi hampir tidak menyumbang kalori.
Apa Itu Stevia? Benarkah Rasanya Lebih Manis dari Gula dan Aman untuk Penderita Diabetes?
Di pasaran, stevia tersedia dalam berbagai bentuk, mulai dari bubuk, saset, hingga cairan dalam botol. Penggunaannya pun cukup praktis. Hanya dengan sedikit stevia, minuman seperti teh dan kopi bisa terasa manis tanpa perlu menambahkan banyak gula pasir.
Keunggulan tersebut membuat stevia banyak dilirik sebagai pilihan pemanis bagi orang yang ingin menjaga berat badan maupun mengontrol kadar gula darah.
Namun, apa itu stevia? Mengapa rasanya bisa jauh lebih manis daripada gula biasa? Apakah pemanis alami ini benar-benar aman dikonsumsi setiap hari?
Mengenal Stevia, Pemanis Alami dari Tanaman
Dilansir dari Halodoc, stevia merupakan pemanis alami yang berasal dari daun tanaman Stevia rebaudiana. Tanaman yang berasal dari Amerika Selatan ini telah lama dimanfaatkan masyarakat di Paraguay dan Brasil sebagai pemanis makanan maupun minuman.
Tanaman stevia dikenal dalam dunia botani setelah diperkenalkan oleh ahli botani Antonio Bertoni pada 1887.
Rasa manis pada daun stevia berasal dari kandungan senyawa steviol glikosida, terutama stevioside dan rebaudioside. Senyawa inilah yang membuat ekstrak stevia memiliki tingkat kemanisan sekitar 200 hingga 300 kali lebih tinggi dibandingkan gula pasir.
Karena tingkat kemanisannya sangat tinggi, stevia tidak perlu digunakan dalam jumlah banyak. Beberapa tetes stevia cair atau satu saset dalam takaran tertentu sudah cukup untuk memberikan rasa manis pada makanan dan minuman.
Berbeda dengan gula pasir yang mengandung kalori, ekstrak stevia murni hampir tidak memberikan tambahan energi. Hal ini membuatnya menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin mengurangi asupan kalori harian.
Meski demikian, produk stevia yang dijual di pasaran tidak semuanya memiliki komposisi sama. Beberapa produk mengandung campuran bahan lain, seperti maltodekstrin atau pemanis tambahan. Karena itu, penting untuk memeriksa komposisi pada kemasan sebelum membeli.
Perbedaan Stevia dan Gula Pasir
Perbedaan utama antara stevia dan gula pasir terletak pada kandungan kalori, tingkat kemanisan, serta pengaruhnya terhadap kadar gula darah.
Gula pasir mengandung kalori dan karbohidrat yang dapat meningkatkan kadar glukosa darah setelah dikonsumsi. Sementara itu, ekstrak stevia murni tidak mengandung karbohidrat dalam jumlah bermakna dan hampir tidak menyumbang kalori.
Dari segi rasa, stevia memiliki tingkat kemanisan yang jauh lebih tinggi. Namun, sebagian orang merasakan sensasi pahit atau rasa seperti licorice setelah mengonsumsinya, terutama jika digunakan dalam jumlah berlebihan.
Berikut beberapa perbedaan keduanya:
| Aspek | Stevia murni | Gula pasir |
|---|---|---|
| Kalori | Hampir nol | Sekitar 16 kalori per sendok teh |
| Tingkat kemanisan | Sekitar 200-300 kali gula | Rasa manis standar |
| Pengaruh gula darah | Tidak meningkatkan secara bermakna | Dapat meningkatkan gula darah |
| Karbohidrat | Hampir tidak ada | Mengandung karbohidrat |
| Penggunaan | Minuman dan makanan tertentu | Beragam jenis masakan dan kue |
| Rasa tambahan | Bisa meninggalkan rasa pahit | Umumnya tidak meninggalkan rasa pahit |
Perlu diketahui, perbandingan tersebut berlaku untuk ekstrak stevia murni. Produk stevia campuran bisa memiliki kandungan kalori dan karbohidrat berbeda, tergantung bahan tambahannya.
Apakah Stevia Lebih Sehat daripada Gula Biasa?
Stevia memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan gula pasir, terutama bagi orang yang ingin mengurangi konsumsi kalori dan gula tambahan.
Salah satu keunggulannya adalah hampir tidak memberikan tambahan kalori. Dengan tingkat kemanisan yang tinggi, penggunaan stevia dapat membantu seseorang mengurangi jumlah gula yang biasanya ditambahkan ke dalam makanan atau minuman.
Pengurangan asupan gula juga dapat membantu mengendalikan konsumsi kalori harian. Hal ini berpotensi mendukung pengelolaan berat badan apabila disertai pola makan seimbang dan aktivitas fisik teratur.
Keunggulan lainnya berkaitan dengan kesehatan gigi. Berbeda dengan gula biasa, senyawa steviol glikosida tidak mudah difermentasi oleh bakteri penyebab kerusakan gigi sehingga tidak memiliki efek yang sama dalam memicu pembentukan asam pada gigi.
Meski begitu, penggunaan stevia bukan berarti seseorang bebas mengonsumsi makanan manis secara berlebihan. Pola makan secara keseluruhan tetap menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan tubuh.
Apakah Stevia Aman untuk Penderita Diabetes?
Stevia sering digunakan sebagai alternatif gula bagi penderita diabetes karena tidak menyebabkan kenaikan kadar gula darah secara signifikan seperti gula pasir.
Kandungan steviol glikosida pada ekstrak stevia murni tidak memberikan tambahan karbohidrat yang berarti. Dengan demikian, pemanis ini dapat membantu penderita diabetes menikmati rasa manis tanpa harus menambahkan gula dalam jumlah besar.
Beberapa penelitian juga menemukan potensi manfaat stevia terhadap pengendalian kadar glukosa darah. Namun, bukti mengenai efek langsung stevia dalam menurunkan gula darah masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Artinya, stevia lebih tepat dipahami sebagai alternatif pemanis untuk membantu mengurangi konsumsi gula, bukan sebagai obat diabetes.
Penderita diabetes tetap perlu memperhatikan pola makan, memantau kadar gula darah, serta menjalankan pengobatan sesuai anjuran dokter.
Selain itu, pemilihan produk juga perlu diperhatikan. Stevia yang dicampur dengan bahan lain dapat memiliki kandungan karbohidrat berbeda dari ekstrak stevia murni.
Stevia Bisa Digunakan untuk Memasak dan Membuat Kue
Stevia tidak hanya bisa digunakan untuk mempermanis teh atau kopi. Pemanis ini juga dapat dimanfaatkan dalam berbagai resep masakan rumahan, termasuk makanan yang dipanggang seperti roti dan kue.
Namun, mengganti gula pasir dengan stevia membutuhkan penyesuaian takaran dan teknik memasak.
Gula biasa tidak hanya memberikan rasa manis, tetapi juga berfungsi membentuk tekstur, mempertahankan kelembapan, membantu proses pencokelatan, dan memberikan volume pada adonan.
Sementara itu, stevia hanya memberikan rasa manis dan tidak memiliki fungsi yang sama seperti gula pasir.
Akibatnya, kue atau roti yang menggunakan stevia dapat memiliki tekstur, warna, dan tingkat kelembapan berbeda. Pada beberapa resep, hasil akhirnya juga bisa terasa lebih pahit.
Untuk mengatasinya, penggunaan stevia dapat dikombinasikan dengan bahan lain yang berfungsi menggantikan volume gula. Takaran juga harus disesuaikan dengan petunjuk produk karena tingkat kemanisan setiap merek bisa berbeda.
Karena itu, pengguna sebaiknya tidak langsung mengganti gula pasir dengan stevia menggunakan perbandingan satu banding satu.
Batas Aman Konsumsi Stevia
Meskipun berasal dari tanaman dan memiliki kalori sangat rendah, konsumsi stevia tetap perlu dibatasi.
Badan kesehatan internasional seperti World Health Organization (WHO) menetapkan asupan harian yang dapat diterima atau acceptable daily intake (ADI) untuk steviol glikosida sebesar 4 miligram per kilogram berat badan per hari, dihitung berdasarkan ekuivalen steviol.
Artinya, seseorang dengan berat badan 60 kilogram memiliki batas ADI sebesar 240 miligram ekuivalen steviol setiap hari.
Angka tersebut bukan berarti setiap produk stevia dapat dikonsumsi sebanyak 240 miligram. Kandungan dan konsentrasi steviol glikosida pada setiap produk berbeda sehingga jumlah penggunaannya perlu disesuaikan dengan informasi pada kemasan.
Konsumsi stevia dalam jumlah wajar umumnya dapat ditoleransi dengan baik. Namun, produk tertentu yang mengandung bahan tambahan seperti gula alkohol atau pemanis lain dapat menimbulkan gangguan pencernaan pada sebagian orang.
Keluhan yang mungkin muncul antara lain perut kembung, mual, atau rasa tidak nyaman pada saluran pencernaan.
Reaksi alergi juga perlu diperhatikan, terutama bagi orang yang memiliki riwayat alergi terhadap tanaman tertentu.
Cara Mengonsumsi Stevia dengan Tepat
Agar penggunaan stevia memberikan manfaat sesuai tujuan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.
Pertama, gunakan stevia sesuai takaran yang dianjurkan pada kemasan. Mengingat tingkat kemanisannya jauh lebih tinggi daripada gula pasir, penggunaan berlebihan justru dapat membuat makanan atau minuman terasa terlalu manis.
Kedua, periksa komposisi produk sebelum membeli. Pilih produk dengan kandungan steviol glikosida yang jelas dan perhatikan kemungkinan adanya tambahan karbohidrat, kalori, atau pemanis lain.
Ketiga, stevia dapat dicampurkan ke dalam teh, kopi, jus, maupun makanan rumahan. Untuk memasak dan memanggang, sesuaikan takarannya dengan karakteristik resep yang digunakan.
Keempat, simpan produk stevia di tempat yang kering, bersuhu ruangan, serta terhindar dari paparan sinar matahari langsung. Pastikan kemasan tertutup rapat agar kualitas produk tetap terjaga.
Pada akhirnya, stevia dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin mengurangi konsumsi gula tanpa harus sepenuhnya menghilangkan rasa manis dari makanan dan minuman.
Namun, pemanis ini bukan solusi tunggal untuk menjaga kesehatan atau menurunkan berat badan. Mengatur pola makan, membatasi makanan tinggi gula, rutin beraktivitas fisik, dan menjaga keseimbangan nutrisi tetap menjadi bagian penting dari gaya hidup sehat.
(ipa)
