Netflix Akuisisi Warner Bros, Namun Tak Melirik Divisi Game

PASUNDANEKSPRES.ID - Netflix secara resmi mengumumkan telah mengakuisisi Warner Bros dengan nilai fantastis mencapai USD 82,7 miliar atau setara sekitar Rp 1.379 triliun.
Namun yang cukup menarik perhatian, perusahaan streaming tersebut justru tidak menunjukkan ketertarikan besar terhadap unit bisnis game yang berada di bawah Warner Bros.
Padahal, Warner Bros diketahui memiliki berbagai judul game yang terbilang sukses secara komersial di pasar global.
Studio pengembang Batman Arkham, Rocksteady, pengembang seri game LEGO, Traveller's Tales, pengembang Hogwarts Legacy, Avalanche Software, serta kreator Mortal Kombat, NetherRealm, seluruhnya berada di bawah payung Warner Bros. Games.
Menurut Netflix, meskipun Hogwarts Legacy mencatat penjualan sangat tinggi hingga puluhan juta kopi dan meraup pendapatan miliaran dolar, jajaran game tersebut nyaris tidak dianggap sebagai faktor penting dalam kesepakatan akuisisi raksasa ini.
Menanggapi isu tersebut, Co-CEO Netflix, Greg Peters, memberikan pernyataan terkait kemungkinan dampak akuisisi terhadap lini bisnis game Netflix.
“Warner Bros telah melakukan pekerjaan yang luar biasa di sektor game, namun sejak awal kami memang tidak memberikan penilaian apa pun terhadap aspek tersebut karena kontribusinya relatif kecil jika dibandingkan dengan gambaran besar secara keseluruhan,” ujar Peters, dikutip dari IGN, Selasa (16/12/2025).
“Meski begitu, kami sangat antusias dengan sejumlah properti yang telah mereka kembangkan. Hogwarts merupakan contoh yang sangat baik, dikerjakan dengan kualitas tinggi, dan kami melihat potensi untuk mengintegrasikannya ke dalam penawaran kami,” lanjutnya.
Peters juga menilai bahwa Warner Bros memiliki jajaran studio game yang solid, dengan talenta-talenta berpengalaman di bidangnya. Hal ini tercermin dari sejumlah game kelas AAA yang telah dirilis sebelumnya.
“Namun perlu ditegaskan kembali, elemen tersebut belum kami masukkan ke dalam model perhitungan kesepakatan yang kami lakukan,” tegas Peters.
Meski demikian, perlu dicatat bahwa Warner Bros. Games memang tengah menghadapi tantangan besar, meskipun memiliki beberapa judul unggulan, khususnya sejak peluncuran Hogwarts Legacy.
Pada Januari lalu, mantan kepala divisi game Warner Bros, David Haddad, resmi meninggalkan perusahaan menyusul kegagalan besar yang dialami Suicide Squad: Kill the Justice League serta MultiVersus.
Tak lama berselang, Warner Bros. Games mengumumkan rencana penutupan Monolith Productions, Player First Games, serta studio mereka di San Diego, bersamaan dengan keputusan membatalkan pengembangan game Wonder Woman.
Beberapa bulan setelahnya, tepat pada Juni, perusahaan mengumumkan langkah restrukturisasi besar dengan memfokuskan pengembangan hanya pada empat waralaba utama, yakni Mortal Kombat, Harry Potter, DC, dan Game of Thrones.
Salah satu judul yang menjadi pukulan terberat bagi perusahaan adalah Suicide Squad: Kill the Justice League garapan Rocksteady.
Pada 2024, game tersebut menyebabkan kerugian pendapatan sebesar USD 200 juta atau sekitar Rp 3,3 triliun, sementara MultiVersus mencatat kerugian sekitar USD 100 juta atau setara Rp 1,6 triliun. Di sisi lain, Harry Potter: Quidditch Champions juga gagal meninggalkan kesan positif di pasar.
“Kami menyadari bahwa bisnis game saat ini berada jauh di bawah potensi yang seharusnya bisa dicapai,” ungkap Presiden dan CEO Warner Bros. Discovery, David Zaslav.
