Puasa Ramadan Dua Kali di 2030? Ini Penjelasan Ilmiahnya

PASUNDANEKSPRES.ID - Tahun 2030 diprediksi akan terasa berbeda bagi umat Islam, yakni adanya puasa Ramadan dua kali dalam satu tahun Masehi.
Fenomena unik ini bukan isu viral atau kabar burung tanpa dasar, hal ini sudah dihitung secara astronomi dan berkaitan langsung dengan sistem kalender yang berbeda.
Puasa Ramadan dua kali ini memang terdengar aneh karena selama ini Ramadan hanya hadir sekal dalam satu tahun kalender Masehi.
Simak penjelasannya di bawah ini!
Mengapa Puasa Ramadan Dua Kali Bisa Terjadi?
Puasa Ramadan dua kali berkaitan erat dengan perbedaan kalender Hijriah dan kalender Masehi. Kalender Hijriah menggunakan sistem peredaran bulan (qomariyah) dengan jumlah 354–355 hari per tahun.
Sementara kalender Masehi atau Gregorian memakai peredaran bumi mengelilingi matahari, dengan total 365–366 hari per tahun.
Selisih sekitar 11 hari setiap tahun membuat awal Ramadan terus bergeser lebih cepat dalam kalender Masehi. Nah, pergeseran inilah yang akhirnya menyebabkan puasa Ramadan dua kali bisa terjadi dalam satu tahun yang sama secara Masehi.
Penjelasan ini juga disampaikan oleh peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Mengutip laporan Kompas, perbedaan durasi kedua kalender tersebut membuat Ramadan terus maju sekitar 10–11 hari setiap tahun. Dalam kondisi tertentu, pergeseran ini membuat satu tahun Masehi “memuat” dua kali awal Ramadan.
Pada 2030, awal Ramadan 1451 H diperkirakan jatuh pada 5 Januari dan kembali muncul sekitar 26 Desember 2030.
Bagaimana dengan Idulfitri?
Meski puasa Ramadan dua kali terjadi pada 2030, Idulfitri hanya akan berlangsung satu kali dalam tahun tersebut, yakni sekitar 5 Februari 2030.
Hal ini karena Ramadan kedua di akhir Desember 2030 baru akan berakhir dan merayakan Idul Fitri pada awal 2031.
Fenomena ini mengikuti siklus sekitar 33 tahun. Artinya, peristiwa serupa pernah terjadi dan akan kembali terulang di masa depan.
Bahkan dalam rentang 2030 hingga 2033, diperkirakan ada momen unik lain, termasuk kemungkinan dua kali Idul Fitri dalam satu tahun Masehi, sebagaimana pernah tercatat pada tahun 2000.
Perhitungan astronomi modern membuat prediksi ini dapat diketahui jauh hari sebelumnya.
Pergeseran Ramadan bukan kejadian mendadak, melainkan pola yang terus berulang karena perbedaan sistem kalender.
Siklus Pergeseran Ramadan
Secara sederhana, berikut gambaran penyebabnya:
- Kalender Hijriah: 354–355 hari per tahun
- Kalender Masehi: 365–366 hari per tahun
- Selisih: sekitar 11 hari setiap tahun
- Dampak: Ramadan maju 10–11 hari lebih awal tiap tahun Masehi
- Siklus penuh: sekitar 33 tahun
Selama 30 tahun ke depan, Ramadan akan terus bergerak ke bulan-bulan sebelumnya dalam kalender Masehi hingga akhirnya kembali ke titik awal siklusnya.
Puasa Ramadan dua kali pada 2030 menjadi bukti bahwa sistem penanggalan Islam memiliki karakter berbeda dari kalender yang umum digunakan secara global.
(pm)
