Trump Sebut Stok Senjata AS Tidak Terbatas, Ini Dia Fakta Sebenarnya!

PASUNDANEKSPRES.ID - Presiden Donald Trump sebut stok senjata AS tidak terbatas.
Presiden Donald Trump kembali menjadi sorotan setelah menyatakan bahwa persenjataan Amerika Serikat “tidak terbatas” dan negara itu mampu berperang “selamanya” dengan stok yang dimiliki saat ini. Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam unggahan di platform Truth Social pada Selasa (3/3).
Klaim itu langsung menuai kritik dari berbagai kalangan, termasuk analis pertahanan dan sejumlah media, yang menilai pernyataan tersebut tidak sesuai dengan kondisi riil persediaan militer AS. Lalu, bagaimana fakta sebenarnya?
Fakta Stok Senjata AS Tidak Terbatas
Berikut ini adalah beberapa fakta tentang stok senjata AS yang dinilai tidak terbatas yang dilansir dari laman Responsible Statecraft.
Rekam Jejak Penggunaan Amunisi
Selama beberapa tahun terakhir, stok persenjataan AS memang mengalami tekanan besar.
Washington telah mengirimkan bantuan militer dalam jumlah besar ke Ukraina, mendukung Israel selama lebih dari dua tahun, serta terlibat dalam operasi melawan kelompok Houthi di Yaman.
Selain itu, AS juga dua kali membantu membela Israel dari serangan, menjalankan Operasi Midnight Hammer pada Juni, dan kini melanjutkan dengan Operasi Epic Fury.
Rangkaian operasi ini memerlukan penggunaan rudal pencegat dan amunisi berteknologi tinggi dalam jumlah besar.
Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai apakah benar stok senjata Amerika berada dalam kondisi “nyaris tak terbatas” seperti yang diklaim Trump?
Rudal Mahal dan Biaya Tinggi
Analisis dari sejumlah pakar pertahanan menunjukkan adanya penurunan signifikan pada beberapa jenis rudal. Misalnya, varian rudal SM-3 disebut mengalami penurunan stok sekitar 33 persen. Harga per unitnya berkisar antara 12,5 juta hingga 28 juta dolar AS.
Masalahnya, setiap upaya intersepsi biasanya membutuhkan minimal dua rudal. Artinya, mencegat beberapa proyektil saja bisa menghabiskan biaya setara dengan satu jet tempur F-35.
Selain SM-3, laporan juga menyebut bahwa AS menggunakan sekitar seperempat stok interseptor THAAD selama perang 12 hari pada Juni.
Sementara laporan dari The Guardian pada Juli menyebut bahwa AS hanya memiliki sekitar 25 persen interseptor Patriot yang dibutuhkan untuk rencana militer Pentagon ke depan, dengan banyak unit telah dikirim ke Ukraina.
Konflik dengan Houthi dan Penggunaan Senjata Mahal
Pada 2024, ketika berhadapan dengan Houthi, AS juga menggunakan rudal mahal seperti Tomahawk, serta rudal udara-ke-udara dan udara-ke-darat untuk melawan persenjataan yang jauh lebih murah.
Beberapa analis menilai ketidakseimbangan biaya ini menjadi salah satu alasan mengapa konflik tersebut diakhiri secara relatif cepat.
Menggunakan senjata berharga jutaan dolar untuk menghadapi drone dan rudal murah jelas menjadi beban besar bagi anggaran pertahanan.
The Wall Street Journal pada 1 Maret juga melaporkan bahwa penggunaan rudal Tomahawk berlangsung pada tingkat yang sangat tinggi dalam berbagai operasi global.
Hal ini memperkuat kekhawatiran bahwa persediaan tidak akan mudah dipulihkan dalam waktu singkat.
Tantangan Industri Pertahanan
Meskipun dana besar telah dialokasikan untuk mengisi kembali stok, proses produksi senjata berteknologi tinggi tidak bisa dilakukan secara instan.
Basis industri pertahanan AS selama ini dirancang untuk kebutuhan masa damai, bukan untuk produksi besar-besaran dalam waktu singkat.
Artinya, membangun kembali stok rudal dan sistem pertahanan udara bisa memakan waktu bertahun-tahun.
Bahkan Israel, yang menjadi mitra utama dalam berbagai operasi militer, dilaporkan mengalami kekurangan interseptor pertahanan udara seperti Arrow 3 serta beberapa jenis rudal balistik luncur udara.
Itulah beberapa fakta mengenai stok senjata AS yang disebut tidak terbatas.
Dalam unggahannya, Trump menyebut jika AS memiliki "persediaan senjata yang nyaris tak terbatas". Namun, ia juga mengakui bahwa untuk persenjataan tingkat tertinggi, posisi AS "belum berada di titik yang diinginkan".
(ipa)
