Korea Utara Kecam Keras Serangan Israel ke Iran, Kim Jong Un Sebut Aksi Terorisme

PASUNDANEKSPRES.ID - Di tengah memanasnya situasi geopolitik Timur Tengah pasca-serangan udara intensif di Teheran, pemerintah secara mengejutkan mengeluarkan pernyataan resmi bernada sangat keras.
Pemimpin Tertinggi Korea Utara, secara terbuka mendesak untuk segera menghentikan apa yang ia sebut sebagai tindakan “teroris” terhadap kedaulatan .
Pernyataan tersebut muncul setelah laporan serangan udara intensif yang menghantam , yang memicu kekhawatiran luas akan eskalasi konflik regional. Kecaman dari Pyongyang pun langsung menyita perhatian dunia internasional, mengingat jarangnya Korea Utara mengeluarkan kritik langsung dan terbuka terhadap Israel.
Dalam pernyataannya, pemerintah Korea Utara mengutuk keras tindakan militer Israel dan menilai serangan tersebut sebagai pelanggaran nyata terhadap kedaulatan sebuah negara. Pyongyang juga menyoroti penggunaan kekuatan militer yang dinilai berlebihan dan berpotensi memicu konflik berskala lebih luas.
Yang paling mencolok, Korea Utara secara eksplisit melabeli serangan tersebut sebagai aksi “teroris”. Penggunaan istilah ini dipandang sebagai retorika diplomatik yang sangat tajam dan serius, menandakan sikap keras Pyongyang terhadap dinamika konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah.
Tak hanya mengecam, Korea Utara juga menyampaikan peringatan tegas. Dalam pernyataan resminya, Pyongyang menegaskan bahwa tindakan semacam itu tidak dapat ditoleransi dan harus segera diakhiri demi mencegah eskalasi yang lebih buruk dan tidak terkendali.
Langkah Kim Jong Un ini dinilai sebagai bentuk solidaritas politik antara negara-negara yang kerap berada pada posisi berseberangan dengan blok Barat dan sekutunya. Kritik yang langka dan langsung terhadap Israel menunjukkan bahwa Korea Utara tidak ragu untuk masuk ke dalam pusaran isu geopolitik Timur Tengah guna menegaskan posisinya di panggung global.
Kini, dunia internasional mengamati dengan saksama apakah dukungan vokal dari Korea Utara ini akan memengaruhi peta aliansi dan dinamika pertahanan global ke depan, atau justru semakin memperumit upaya diplomasi dan perdamaian di kawasan Timur Tengah.
