Pemerintah Spanyol Siapkan Penyelidikan Dugaan Penyiksaan Aktivis Flotilla

PASUNDAN EKSPRES.ID - Pemerintah Spanyol mulai mengambil langkah serius menyusul kesaksian mengejutkan dugaan penyiksaan aktivis Global Sumud Flotilla yang mengaku mengalaminya selama ditahan Israel.
Kasus ini mencuat setelah para relawan kemanusiaan tiba di Bandara Adolfo Suarez Madrid-Barajas pada Sabtu (23/5/2026).
Para aktivis sebelumnya ikut dalam pelayaran internasional menuju Gaza untuk mengirim bantuan kemanusiaan.
Namun armada mereka dicegat militer Israel di perairan internasional dan seluruh peserta ditahan selama beberapa hari.
Dugaan Penyiksaan Aktivis Flotila
Kedatangan para aktivis di Madrid langsung menjadi perhatian media nasional Spanyol.
Selain disambut keluarga, sejumlah pejabat pemerintah juga memantau perkembangan kasus tersebut setelah muncul berbagai tuduhan serius mengenai perlakuan aparat Israel terhadap para relawan.
Juru bicara Flotilla, Sandra Garrido, mengungkapkan bahwa para tahanan mengalami tekanan berat bahkan ada dugaan penyiksaan aktivis selama berada dalam penahanan.
"Mereka membawa kami ke kapal penjara selama tiga hari, mematahkan tulang, melakukan pelecehan seksual terhadap para wanita, menyerang dengan alat kejut listrik, menolak memberi air, serta melakukan penyiksaan fisik dan psikologis," kata Sandra Garrido pada Sabtu (23/5/2026).
Kesaksian tersebut langsung memicu respons dari Menteri Kebudayaan Spanyol, Ernest Urtasun.
Ia menegaskan pemerintah tidak akan tinggal diam terhadap dugaan perlakuan buruk yang dialami warga negaranya.
Pemerintah Spanyol disebut akan mendorong jaksa untuk melakukan penyelidikan resmi terkait dugaan kekerasan selama proses penahanan oleh otoritas Israel.
Aktivis lainnya, Tomas Alberto Morate, turut mengungkap kondisi sejumlah relawan yang mengalami luka serius sebagai penyiksaan aktivis.
Ada yang mengalami hal jauh lebih buruk seperti ditembak senjata kejut listrik, dipukul senapan hingga tulang rusuk patah, dan satu orang dirawat di rumah sakit dengan paru-parunya dikeringkan di Turki," ujarnya.
Pernyataan tersebut semakin memperkuat desakan publik Spanyol agar pemerintah mengambil langkah diplomatik lebih keras terhadap Israel.
Sejumlah organisasi hak asasi manusia juga mulai meminta investigasi internasional dilakukan secara independen.
Selain dugaan kekerasan fisik, perhatian juga tertuju pada perlakuan terhadap relawan perempuan yang disebut mengalami pelecehan seksual selama masa penahanan.
Kasus ini berkembang menjadi isu politik besar di Spanyol setelah muncul kritik mengenai hubungan pemerintah dengan Israel.
Aktivis Flotilla Ivan Soriano menilai komunitas internasional selama ini terlalu diam melihat situasi Gaza.
"Kami melakukan ini karena seluruh dunia hanya menonton, termasuk pemerintah Spanyol yang masih menjalin hubungan komersial, akademis, dan budaya dengan Israel," ujar Ivan Soriano pada Sabtu (23/5/2026).
Pernyataan itu memicu perdebatan publik di Spanyol mengenai posisi pemerintah terhadap konflik Gaza dan hubungan diplomatik dengan Israel.
Di sisi lain, pihak Israel tetap membantah seluruh tuduhan tersebut. Layanan Penjara Israel mengeklaim para tahanan diperlakukan sesuai prosedur hukum dan berada di bawah pengawasan profesional selama penahanan.
Meski begitu, tekanan publik terhadap pemerintah Spanyol terus meningkat atas dugaan penyiksaan aktivis. Banyak warga meminta adanya tindakan nyata untuk melindungi para relawan kemanusiaan dan memastikan kasus serupa tidak kembali terjadi di masa mendatang.
