Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Penutupan Bandara Riyadh Ganggu Jalur Udara Eropa-Asia, Maskapai Global Ubah Strategi Penerbangan

P
Paramitha AuliaEditor: Paramitha Aulia
|08:36 WIB
Bagikan:
Penutupan Bandara Riyadh Ganggu Jalur Udara Eropa-Asia, Maskapai Global Ubah Strategi Penerbangan
Penutupan Bandara Riyadh Ganggu Jalur Udara Eropa-Asia, Maskapai Global Ubah Strategi Penerbangan (Image From: Sky News)

PASUNDANEKSPRES.ID - Penutupan Bandara Riyadh. Eskalasi konflik di Timur Tengah mulai memberikan tekanan besar terhadap konektivitas penerbangan internasional. Perpanjangan penutupan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh hingga 17 Oktober 2026 tidak hanya membatasi mobilitas penumpang menuju ibu kota Arab Saudi, tetapi juga mendorong maskapai global meninjau kembali rute penerbangan demi menjaga keselamatan operasional.

Penutupan Bandara Riyadh Ganggu Jalur Udara Eropa-Asia

Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi memperpanjang penghentian operasional bandara tersebut menyusul serangkaian serangan yang diklaim dilakukan kelompok Houthi. Langkah itu diambil untuk memastikan keamanan serta kesiapan fasilitas sebelum aktivitas penerbangan kembali dibuka.

Penutupan bandara menjadi bagian dari dampak meluasnya konflik bersenjata terhadap sektor penerbangan sipil. Ketika ancaman rudal dan pesawat nirawak meningkat, maskapai tidak hanya menghadapi risiko keselamatan, tetapi juga harus menyesuaikan jadwal, menentukan jalur alternatif, dan mengantisipasi bertambahnya biaya operasional.

Maskapai Menghadapi Pilihan Rute yang Semakin Terbatas

Gangguan di Riyadh turut memengaruhi perencanaan penerbangan yang menghubungkan Eropa dan Asia. Kawasan Timur Tengah selama ini menjadi salah satu koridor penting bagi perjalanan internasional, sehingga pembatasan ruang udara di wilayah tersebut dapat memaksa maskapai mencari jalur alternatif yang lebih panjang.

Organisasi keselamatan penerbangan OPSGROUP menyarankan maskapai menghindari koridor penerbangan selatan di atas Timur Tengah dan mempertimbangkan rute melalui Asia Tengah untuk perjalanan dari Eropa menuju Asia.

Perubahan jalur tersebut berpotensi menambah waktu tempuh dan konsumsi bahan bakar. Bagi maskapai, konsekuensinya dapat berupa peningkatan biaya penerbangan, penyesuaian rotasi pesawat, hingga perubahan jadwal keberangkatan dan kedatangan.

Data Flightradar24 menunjukkan pesawat-pesawat menghindari Riyadh pada Senin, 12 Oktober 2026. Meski demikian, sejumlah penerbangan masih melintasi wilayah udara Arab Saudi dan mendarat di Jeddah, salah satu pusat penerbangan utama negara tersebut di pesisir barat.

Situasi ini menunjukkan bahwa gangguan penerbangan tidak selalu berarti seluruh ruang udara suatu negara ditutup. Keputusan operasional dapat berbeda berdasarkan lokasi, tingkat risiko, dan penilaian keselamatan masing-masing maskapai.

Pembatalan Penerbangan Meluas ke Sejumlah Negara

Dampak konflik terlihat dari keputusan sejumlah maskapai internasional yang membatalkan atau menunda layanan menuju Riyadh.

Lufthansa Group membatalkan penerbangan ke Riyadh hingga 16 Oktober. Air France-KLM memperpanjang penangguhan penerbangan dari dan menuju kota tersebut hingga akhir Oktober, sedangkan Etihad Airways turut memperpanjang pembatalan penerbangannya.

Delta Air Lines juga menunda layanan Atlanta-Riyadh yang semula direncanakan mulai beroperasi pada 23 Oktober. Penerbangan tersebut dijadwalkan ulang hingga Maret 2027.

Besarnya gangguan tercermin dalam data perusahaan analitik penerbangan Cirium yang mencatat tingkat pembatalan penerbangan di seluruh bandara Arab Saudi mencapai 46,4 persen.

Sementara itu, Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) mengimbau maskapai AS agar berhati-hati ketika terbang menuju atau melintasi wilayah udara Arab Saudi. Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa (EASA) juga memperluas peringatan terkait wilayah udara negara tersebut dengan merujuk pada ancaman rudal dan drone.

Serangkaian keputusan itu memperlihatkan bagaimana risiko keamanan di satu kawasan dapat memengaruhi jaringan penerbangan lintas negara, bahkan bagi maskapai yang tidak menjadikan Riyadh sebagai tujuan utama.

Keselamatan Penerbangan Menjadi Pertimbangan Utama

Ancaman terhadap penerbangan sipil menjadi perhatian utama seiring meningkatnya intensitas serangan. Kelompok Houthi pada Senin malam mengklaim telah menyerang Bandara Internasional King Khalid menggunakan rudal balistik. Sebelumnya, Arab Saudi menyatakan berhasil mencegat dan menghancurkan rudal balistik yang ditembakkan ke arah Riyadh.

Kelompok tersebut juga mengklaim menargetkan pangkalan udara di Khamis Mushait menggunakan drone. Namun, klaim mengenai serangan tersebut belum memperoleh konfirmasi langsung dari pihak Arab Saudi pada saat laporan disusun.

Bandara Riyadh sendiri telah ditutup sejak serangan pada Sabtu, 10 Oktober, yang menurut laporan menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Serangan berikutnya pada Minggu, 11 Oktober, dilaporkan menewaskan satu orang dan melukai hampir selusin lainnya.

Dilansir dari Liputan6.com, pendiri OPSGROUP, Mark Zee, menilai intensitas serangan terhadap penerbangan sipil menjadi kondisi yang belum pernah terjadi sebelumnya pada tingkat tersebut. Menurutnya, situasi ini menuntut evaluasi ulang terhadap cara industri menilai risiko penerbangan.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keputusan mengalihkan rute atau menghentikan penerbangan bukan semata persoalan efisiensi bisnis. Dalam kondisi konflik, keselamatan awak dan penumpang menjadi pertimbangan utama sebelum maskapai memutuskan untuk tetap beroperasi.

Risiko Keamanan Membayangi Agenda Bisnis Arab Saudi

Dampak konflik tidak berhenti pada sektor transportasi. Ketidakpastian perjalanan internasional juga berpotensi memengaruhi agenda bisnis, investasi, dan penyelenggaraan acara berskala besar di Arab Saudi.

Sejumlah agenda yang dijadwalkan berlangsung di Riyadh pada Oktober, termasuk konferensi investasi unggulan Arab Saudi dan Kongres Energi WPC, ikut dibayangi situasi keamanan. Laporan mengenai perubahan daftar peserta dan mundurnya sejumlah eksekutif perusahaan energi menambah perhatian terhadap dampak konflik pada aktivitas bisnis.

Di tengah upaya Arab Saudi mengembangkan sektor ekonomi di luar minyak, kelancaran transportasi udara memiliki peran penting dalam mendukung arus investor, pelaku usaha, dan wisatawan internasional.

Konflik juga menambah tekanan terhadap industri penerbangan global yang telah menghadapi kenaikan harga bahan bakar pesawat serta gangguan di berbagai wilayah Timur Tengah. Apabila pengalihan rute dan pembatalan penerbangan berlangsung lebih lama, beban biaya operasional maskapai dapat semakin meningkat.

Meski demikian, dampak akhirnya terhadap perekonomian Arab Saudi masih bergantung pada perkembangan keamanan, durasi pembatasan penerbangan, dan kemampuan industri menyesuaikan operasionalnya.

(ipa)

Berita Terbaru

Mahasiswa Politeknik Enjinering Indorama Perjuangkan Hak Disabilitas

Mahasiswa Politeknik Enjinering Indorama Perjuangkan Hak Disabilitas

Purwakarta2 menit lalu
Dinas Perikanan Subang Soroti Pasokan Solar SPBU, Ratusan Nelayan Muara Ciasem Tak Melaut

Dinas Perikanan Subang Soroti Pasokan Solar SPBU, Ratusan Nelayan Muara Ciasem Tak Melaut

Subang5 menit lalu
Kemenhaj Subang: Jadwal Umrah Masih Normal, Jemaah Diminta Cek Status Penerbangan

Kemenhaj Subang: Jadwal Umrah Masih Normal, Jemaah Diminta Cek Status Penerbangan

Headline5 menit lalu
Banjir Besar Terjang Padang, Seabad Lalu Kota Ini Pernah Porak-poranda! Mayat Bergelimpangan

Banjir Besar Terjang Padang, Seabad Lalu Kota Ini Pernah Porak-poranda! Mayat Bergelimpangan

Nasional6 menit lalu
ADVERTISEMENT
Foto Gubernur Kaltim Sarapan di Singapura Viral di Tengah Bencana Karhutla

Foto Gubernur Kaltim Sarapan di Singapura Viral di Tengah Bencana Karhutla

Nasional9 menit lalu
Apel Perdana sebagai Pembina, Sekda Subang Rona Ajak ASN Berikan Pelayanan Terbaik

Apel Perdana sebagai Pembina, Sekda Subang Rona Ajak ASN Berikan Pelayanan Terbaik

Subang9 menit lalu
Jadwal SIM Keliling Polres Subang Hari ini, Cek Daftar Lokasinya

Jadwal SIM Keliling Polres Subang Hari ini, Cek Daftar Lokasinya

Subang17 menit lalu
BAZNAS Gandeng 40 Puskesmas Sukseskan Program Infak BERSERI

BAZNAS Gandeng 40 Puskesmas Sukseskan Program Infak BERSERI

Headline25 menit lalu
Pemerintah Belum Tetapkan Karhutla sebagai Bencana Nasional, Enam Provinsi Jadi Prioritas

Pemerintah Belum Tetapkan Karhutla sebagai Bencana Nasional, Enam Provinsi Jadi Prioritas

Nasional25 menit lalu
Babak Baru Rencana Pembangunan Subang Mega Mall dan Trade Center, Bupati Subang Teken Kerja Sama

Babak Baru Rencana Pembangunan Subang Mega Mall dan Trade Center, Bupati Subang Teken Kerja Sama

Subang39 menit lalu