MBG dan Ilusi Prioritas Pendidikan Anak Bangsa

Oleh : Dadan Hermawan, M.Pd.
Salah satu program pantastis yang digulirkan oleh pemerintah di awal era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto adalah program Makan Bergizi Gratis, MBG adalah program pemerintah yang memberikan bantuan makanan bergizi gratis kepada kelompok masyarakat yang membutuhkan.
Sasaran utamanya adalah anak-anak usia dini, anak-anak sekolah, serta ibu hamil. Salah satu tujuan program MBG adalah meningkatkan kualitas pendidikan. Anak-anak yang mendapatkan asupan gizi baik akan lebih fokus dan bersemangat saat belajar di sekolah. Program ini bertujuan mengurangi angka ketidakhadiran dan putus sekolah karena alasan ekonomi, sekaligus meningkatkan prestasi akademik.
Jika dilihat dari tujuan utamanya progam MBG ini sangat baik bagi anak-anak dan ibu hamil serta penerima manfaat lainnya, namun jika pada pelaksanaannya program MBG justru banyak menguras asset pendidikan terutama anggaran, maka perlu kiranya kita bersama-sama merenungkan kembali efektivitas dan nilai manfaat dan dampak dari program MBG ini khususnya bagi sektor pendidikan yang seharusnya menjadi sektor paling prioritas dalam pengelolaan negara.
Dana anggaran MBG dalam APBN pada tahun 2026 mencapai 335 trilyun, dan anggaran terbesar yang disedot untuk progam MBG ini adalah anggaran jatah pendidikan yakni 223 trilyun atau 83,4 % dari seluruh anggaran MBG, sisanya 9,2 % dari anggaran Kesehatan (Rp. 24,7 trilyun) dan dari sektor ekonomi 7,4 % (19,7 trilyun).
223 T anggaran pendidikan dosedot oleh MBG dari total angaran pendidikan 769,1 trilyun, ini artinya sekitar sepertiga anggara pendidikan habis oleh MBG. Angka ini jauh sangat besar dibandingkan dengan angaran untuk beasiswa yang 57,7 t dan belanja kebutuhan guru dan dosen yang hanya 91,4 trilyun. Hitung-hitungan angka ini mau tidak mau menunjukan tentang arah orientasi pemerintah pada pendidikan.
Program MBG sebagai investasi jangka panjang sangat bagus, namun menjadi kurang bagus bahkan tidak bagus jika akhirnya mengorbankan kepentingan prioritas lain yang lebih urgen dan penting. Dalam pendidikan kita hari ini, masalah kebutuhan guru di lapangan masih menjadi masalah, kondisi di lapangan jumlah guru ASN yang ada masih kurang, jika sekolah hari ini bisa berjalan normal itu karena masih adanya tenaga guru honorer yang kemudian sebagian dari mereka sekarang diangkat menjadi P3K paruh waktu yang nasib dan karirnya masih belum ada kejelasan.
Belum lagi kondisi fisik sekolah dan sarana prasarana yang juga kulitas dan kondisinya belum merata, fasilitas pendukung pembelajaran yang masih belum sama dan sebagainya.
Ditengah tengah pro kontra program MBG yang masih bergulir, diperpanas oleh kebijakan yang memberikan karpet merah kepada tenaga pengelola MBG yang dengan begitu mudah dan sangat cepat mendapatkan status kepegawaian sebagai P3K penuh dari negara, dengan gaji yang jauh berbeda dengan nasib para guru P3K paruh waktu yang sudah berbelas bahkan puluhan tahun mengajar.
Belum lagi jika kita lihat fakta pengelolaan program MBG di lapangan, angaran MBG 15.000 / siswa / hari ternyata hanya Rp. 8.000 – 10.000 yang sampai kepada siswa dalam bentuk makanan siap konsumsi, karena yang 5.000 – 7.000 nya untuk biaya opersional dan keuntungan mitra MBG. Kita dapat bayangkan seperti apa menu dengan nilai harga segitu, belum lagi jika dibelakang layar ada pihak-pihak yang mengambil keuntungan lagi dari nilai Rp. 8.000 – 10.000 tersebut melalui berbagai cara.
Dengan pembagian anggaran seperti ini maka dapat kita bayangkan hanya sektar 55 % an saja anggaran MBG yang sampai pada perut anak-anak dan penerima manfaat, dan 45 % an nya menjadi buruan para pengusaha pengelola dapur-dapur MBG dan yang terafiliasinya.
Betul ini menjadi bagus karena menciptakan lapangan pekerjaan dan sumber penghasilan bagi banyak pihak, namun menjadi miris jika anggaran yang harus digunakannya adalah anggaran pendidikan, angaran yang seharunya menjamin anak-anak kita semakin cerdas dan terampil serta memiliki keprsibadian Tangguh agar siap menghadapi badai masa depan.
Mungkin akan menjadi lebih keren dan luar biasa jika program ini mendapatkan alokasi angaran terpisah yang tidak harus mengambil dari anggaran pendidikan, sehingga angaran pendidikan dapat benar-benar digunakan untuk kebutuhan yang langsung berdampak pada proses pembelajaran dan peningkatan kualitas konsumsi pengetahuan dan keterampilan anak.
Rasanya sangat wajar jika akhirnya kita mulai bertanya-tanya, apakah pendidikan benar-benar menjadi prioritas pembangunan sumber daya manusia bangsa kita hari ini? jika itu iya lantas mengapa anggaran urgent untuk mengisi kepala anak-anak harus mengalah pada angaran untuk mengisi perut anak? jika iya,lantas mengapa kebutuhan guru, sarana prasarana dan penyediaan fasilitas pendidikan yang layak dan merata harus mengalah pada penyediaan tenaga pengelola makan yang terprioritaskan?
Apakah kasus kelaparan perut anak-anak di sekolah hari ini lebih darurat daripada kondisi darurat pengetahuan dan cara berpikir anak-anak kita hari ini? Kita tak ingin jika kita akhrinya sampai pada masa dimana kita menganggap mengisi dan merawat pikiran dan jiwa anak, tidak lebih penting dari merawat dan mengisi perut anak.
Program MBG bagus dan gebraka luar biasa sebagai investasi jangka panjang, tapi akan lebih bagus jika tidak harus menggerus anggaran pendidikan dengan signifikan. Mari kita belajar dari negara yang pernah jadi korban bom atom ketika akan membangun bangsanya kembali, dan hari ini mereka sukses menjadikan negerinya jadi negeri maju yang teknokrat.
Ketika bom atom meluluh lantakan bangsa mereka, maka pemimpin mereka dengan tegas menanyakan berapa guru yang tersisa untuk membangun kembali negeri ini ? bukan berapa dapur dan berapa ompreng makanan yang tersisa?(*)
