Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Memahami Asal-Usul Air yang Kita Minum

H
HubaEditor: Huba
|16:18 WIB
Bagikan:
Memahami Asal-Usul Air yang Kita Minum

Oleh: Yulia Enshanty, S.Pd, M.Pd.

(Guru Geografi di SMAN 1 Warung Kiara, Kabupaten Sukabumi)

Air adalah sumber kehidupan yang tak tergantikan. Namun, masih banyak masyarakat yang belum memahami perbedaan antara air pegunungan, air mineral, dan air dari sumur artesis. Padahal, ketiganya memiliki asal-usul dan karakteristik yang berbeda. Air pegunungan berasal dari rembesan air hujan yang keluar di lereng atau kaki gunung. Proses ini alami tanpa bantuan teknologi. Airnya jernih dan sejuk karena melewati penyaringan alami oleh tanah dan akar tumbuhan. “Menjaga hutan berarti menjaga mata air,” demikian pepatah yang mengingatkan kita bahwa sumber air yang murni tak akan ada tanpa kelestarian hutan pegunungan.

Berbeda dengan itu, air mineral pegunungan berasal dari mata air yang melewati lapisan batuan kaya mineral seperti kapur, granit, atau vulkanik. Di sepanjang perjalanannya, air melarutkan unsur alami seperti kalsium, magnesium, dan natrium. Itulah sebabnya air mineral memiliki rasa segar khas dan kandungan gizi mikro yang bermanfaat bagi tubuh. Namun, tidak semua air pegunungan otomatis menjadi air mineral, karena kandungan mineralnya bergantung pada jenis batuan yang dilaluinya. Penelitian oleh Arifin dan Suharyadi (2020) dalam Jurnal Geosains dan Lingkungan menunjukkan bahwa air mineral alami memiliki variasi kandungan kimia tergantung pada jenis batuan dan lama waktu kontak air dengan batuan di daerah resapan.

Sementara itu, air dari sumur akuifer artesis berasal dari lapisan tanah dalam yang tertekan di antara dua lapisan batuan kedap air seperti lempung atau serpih. Air di dalam lapisan ini terjebak dan mendapat tekanan alami dari air di daerah resapan yang lebih tinggi. Ketika lapisan ini dibor, tekanan hidrostatik menyebabkan air naik sendiri ke permukaan, bahkan kadang memancar tanpa bantuan pompa. Studi oleh Susilo, Sunaryo, dan Fitriah (2021) dalam Geotechnical and Geological Engineering Journal menjelaskan bahwa sistem artesis di Indonesia umumnya terbentuk pada kedalaman 90–120 meter, dimana tekanan air bawah tanah cukup tinggi untuk menyebabkan aliran spontan di mulut sumur.

Fenomena serupa juga ditemukan oleh Hendrayana et al. (2021) dalam Indonesian Journal of Geography, yang mengamati keberadaan “unregistered artesian wells” di Pasuruan, Jawa Timur. Mereka menjelaskan bahwa sumur artesis terbentuk akibat perbedaan tekanan antar lapisan akuifer yang disebabkan oleh struktur geologi lipatan dan kemiringan batuan. Kondisi ini memungkinkan air mengalir dari daerah imbuhan di pegunungan menuju daerah dataran rendah tanpa memerlukan tenaga mekanik tambahan.

Meski tampak jernih, air artesis tidak selalu aman untuk dikonsumsi langsung. Kandungan mineral atau zat terlarutnya bergantung pada batuan yang dilalui. Penelitian oleh Rahman et al. (2022) dalam Environmental Earth Sciences menemukan bahwa beberapa lapisan akuifer dalam mengandung kadar besi dan mangan yang tinggi sehingga memerlukan pengolahan sebelum digunakan sebagai air minum. Oleh karena itu, pengawasan kualitas air artesis menjadi hal penting agar sumber daya ini tetap aman dan berkelanjutan.

Memahami perbedaan antara air pegunungan, air mineral, dan air artesis membuat kita lebih menghargai proses alam yang panjang dan rumit. Setiap tetes air yang kita minum melewati perjalanan yang tidak singkat, mulai dari hujan yang jatuh di gunung, meresap melalui batuan, tersimpan dalam lapisan tanah, hingga akhirnya muncul ke permukaan. Kesadaran akan hal ini penting agar kita tidak hanya menjadi konsumen air, tetapi juga penjaga sumber air. Seperti yang diungkapkan oleh Leopold (1949), “Tanah, air, tumbuhan, dan hewan adalah bagian dari komunitas yang harus kita rawat bersama.”

Air bukan sekadar kebutuhan, melainkan hasil dari keseimbangan ekologis yang rapuh. Maka, setiap kali kita meneguk air mineral dari botol atau menimba air dari sumur, ingatlah bahwa air itu adalah hasil kerja panjang bumi yang sabar. Menjaga daerah resapan, melestarikan hutan pegunungan, dan menggunakan air secara bijak adalah bentuk nyata rasa syukur kita kepada alam yang telah bekerja keras menyediakan sumber kehidupan ini.

Di tengah ancaman krisis air bersih dan perubahan iklim, pemahaman terhadap sumber air menjadi semakin penting. Daerah resapan yang rusak karena alih fungsi lahan, penambangan berlebih, dan urbanisasi yang tak terkendali dapat mengganggu sistem akuifer alami. Jika tekanan pada sumber air terus meningkat tanpa ada upaya konservasi, maka fenomena air artesis yang kini kita nikmati bisa menjadi langka di masa depan (Nurwihastuti et al., 2023). Oleh sebab itu, pengelolaan air harus berpihak pada keberlanjutan, bukan sekadar pemenuhan kebutuhan jangka pendek.

Kita semua memiliki peran dalam menjaga keseimbangan itu. Masyarakat dapat memulai dari hal kecil, yaitu dengan menanam pohon di daerah tangkapan air, mengurangi penggunaan air tanah berlebihan, dan mendorong pemerintah daerah untuk memetakan serta melindungi kawasan imbuhan air. Setiap tindakan kecil akan membantu memperpanjang umur sumber air artesis dan menjaga keseimbangan hidrologi yang menopang kehidupan. Sebab pada akhirnya, air bukan hanya milik generasi hari ini, tetapi juga titipan untuk mereka yang akan datang.(*)

Berita Terbaru

Daftar HP Samsung Terbaru 2026 Lengkap dengan Spesifikasi dan Harga Oktober

Daftar HP Samsung Terbaru 2026 Lengkap dengan Spesifikasi dan Harga Oktober

Lifestyle10 jam lalu
Mantan Kepala SMPN 2 Ngamprah Wajib Kembalikan Rp 159 Juta dalam 60 Hari

Mantan Kepala SMPN 2 Ngamprah Wajib Kembalikan Rp 159 Juta dalam 60 Hari

Bandung Barat12 jam lalu
Dede Hidayat, Cakades Cijambe Nomor 4 Usung Visi Cijambe Bermartabat

Dede Hidayat, Cakades Cijambe Nomor 4 Usung Visi Cijambe Bermartabat

Subang12 jam lalu
Panitia Pilkades Cibogo Segera Tetapkan DPS

Panitia Pilkades Cibogo Segera Tetapkan DPS

Subang12 jam lalu
ADVERTISEMENT
BAZNAS dan BPBD Subang Bersinergi, Perkuat Penanganan Bencana dan Bantuan Kemanusiaan

BAZNAS dan BPBD Subang Bersinergi, Perkuat Penanganan Bencana dan Bantuan Kemanusiaan

Subang12 jam lalu
Manfaatkan Waktu Istirahat, Satgas TMMD ke-130 Kodim 0605/Subang Bermain Bola Bersama Siswa SDN Bukanagara

Manfaatkan Waktu Istirahat, Satgas TMMD ke-130 Kodim 0605/Subang Bermain Bola Bersama Siswa SDN Bukanagara

Subang12 jam lalu
Pemkab Karawang Lepas 689 Atlet Kontingen Porprov XV Jawa Barat Tahun 2026

Pemkab Karawang Lepas 689 Atlet Kontingen Porprov XV Jawa Barat Tahun 2026

Karawang12 jam lalu
Transparansi BUMDes jadi Sorotan, Warga Desa Sawangan Pertanyakan Dukungan Desa kepada PT CMM

Transparansi BUMDes jadi Sorotan, Warga Desa Sawangan Pertanyakan Dukungan Desa kepada PT CMM

Subang13 jam lalu
Siapkan BUMD Kembangkan Sumur Migas Haur Gede, Pemkab Karawang Targetkan MoU dengan Pertamina  2027

Siapkan BUMD Kembangkan Sumur Migas Haur Gede, Pemkab Karawang Targetkan MoU dengan Pertamina  2027

Karawang13 jam lalu
SMK PGRI Subang Buka Peluang Kerja di Luar Negeri, Buka Pelatihan Bahasa Mulai dari Siswa Kelas X

SMK PGRI Subang Buka Peluang Kerja di Luar Negeri, Buka Pelatihan Bahasa Mulai dari Siswa Kelas X

Subang13 jam lalu