Perspektif Gender dalam Jurnalisme: Menyuarakan Suara yang Terpinggirkan

Oleh: Ghuroba Fadillah Mauludy
Mahasiswa Universitas Islam Muttaqien
Di era informasi yang serba cepat saat ini, jurnalisme memiliki peran krusial dalam membentuk pandangan masyarakat terhadap berbagai isu. Namun, selama bertahun-tahun, banyak liputan berita cenderung terpaku pada sudut pandang dominan yang tidak selalu memperhitungkan dinamika gender. Jurnalisme berperspektif gender muncul sebagai upaya untuk mengubah paradigma tersebut
—menyakinkan bahwa setiap suara, tanpa memandang identitas gender, mendapatkan ruang yang setara untuk terdengar.
Jurnalisme berperspektif gender bukan hanya tentang meliput isu yang berkaitan dengan perempuan atau laki-laki secara terpisah. Lebih dari itu, pendekatan ini mengevaluasi bagaimana konstruksi sosial gender memengaruhi berbagai aspek kehidupan, mulai dari akses terhadap sumber daya, partisipasi dalam publik, hingga cara individu mengalami dan menanggapi peristiwa. Pendekatan ini juga memperhatikan kelompok gender yang sering terpinggirkan, seperti orang transgender, non- biner, dan komunitas LGBTQ+.
Inti dari pendekatan ini adalah menghindari stereotip gender yang sudah mendarah daging dalam liputan berita. Misalnya, bukan lagi hanya meliput perempuan sebagai korban atau istri dari tokoh penting, namun juga sebagai aktor utama dalam berbagai bidang seperti ilmu pengetahuan, politik, dan ekonomi. Salah satu alasan utama pentingnya jurnalisme berperspektif gender adalah untuk mengatasi ketidaksetaraan dalam representasi.
Data menunjukkan bahwa sebagian besar liputan berita masih didominasi oleh suara dan pandangan laki-laki, sementara isu yang berkaitan dengan hak-hak gender sering dianggap sebagai "isu kecil" atau hanya relevan untuk kelompok tertentu. Selain itu, pendekatan gender membantu mengungkapkan realitas yang sebelumnya tersembunyi.
Misalnya, dalam liputan bencana alam, pendekatan gender dapat mengungkapkan bagaimana perempuan dan laki-laki mengalami dampak bencana secara berbeda-perempuan mungkin lebih sulit mengakses bantuan karena tanggung jawab rumah tangga, sementara kelompok transgender mungkin menghadapi kesulitan dalam mendapatkan akses ke tempat penampungan yang aman. Dengan menyuarakan suara yang terpinggirkan, jurnalisme berperspektif gender juga berkontribusi pada pembangunan masyarakat yang lebih adil dan inklusif. Informasi yang akurat dan seimbang tentang isu gender dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dan mendorong perubahan kebijakan yang lebih baik.
Meskipun penting, penerapan jurnalisme berperspektif gender tidaklah mudah. Salah satu tantangan utama adalah kurangnya kesadaran dan pemahaman di antara wartawan tentang dinamika gender. Banyak wartawan mungkin tidak menyadari bahwa cara mereka menulis atau memilih narasumber sudah terpengaruh oleh stereotip gender yang ada.
Tantangan lain adalah tekanan dari struktur media yang sering lebih fokus pada rating dan penjualan daripada pada kedalaman liputan. Isu gender yang kompleks mungkin dianggap kurang menarik bagi pembaca atau penonton, sehingga sulit mendapatkan ruang yang cukup di media massa.
Selain itu, terdapat juga tantangan terkait keamanan wartawan yang meliput isu gender sensitif, seperti kekerasan berbasis gender atau hak-hak komunitas LGBTQ+. Banyak dari mereka yang berusaha menyuarakan isu ini menghadapi ancaman dan intimidasi.
Untuk mengembangkan jurnalisme berperspektif gender, diperlukan upaya dari berbagai pihak. Media massa perlu memberikan pelatihan yang memadai kepada wartawan tentang analisis gender dan cara meliput isu gender dengan benar. Selain itu, perlu ada kebijakan yang memastikan representasi yang seimbang dari berbagai kelompok gender dalam narasumber dan tim redaksi.
Masyarakat juga memiliki peran penting dengan cara memilih dan mendukung media yang menerapkan pendekatan gender dalam liputannya. Dengan memberikan dukungan pada konten yang inklusif, masyarakat dapat mendorong media untuk terus meningkatkan kualitas liputan mereka.
urnalisme berperspektif gender bukan hanya tentang memperbaiki cara kita meliput berita, tetapi juga tentang memperbaiki cara kita melihat dunia. Dengan menyuarakan suara yang terpinggirkan, kita dapat menciptakan ruang bagi semua orang untuk berpartisipasi dalam pembangunan masyarakat yang lebih baik.(*)
