Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Pesantren Bukan Penjara, di Sana Kami Belajar Bahasa

I
Indrawan SetiadiEditor: Indrawan Setiadi
|14:08 WIB
Bagikan:
Pesantren Bukan Penjara, di Sana Kami Belajar Bahasa
Muhammad Anjar Nugraha

oleh: Muhammad Anjar Nugraha

Dosen Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Subang dan Mahasiswa Program Doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Universitas Negeri Semarang

Beberapa tahun terakhir, sejak media sosial semakin masif, wajah mengkhawatirkan pendidikan Indonesia kian terbuka lebar – semakin ditelanjangi – tak terkecuali Pendidikan pesantren. Pesntren yang selama ini dikenal sebagai lembaga pendidikan moral dan agama, ikut tersorot. Kasus demi kasus menyeruak: seorang oknum ustaz yang merudapaksa 12 santriwati di Bandung (2021), seorang santri 13 tahun meninggal akbiat kekerasan diPasuruan (2023), kontroversi pesantren yang diduga mengajarkan ajaran sesat di Indramayu(2024), sampai ambruknya pondok pesantren di Sidoarjo yang sampai saat tulisan ini dibuatsudah menelan korban 66 orang meninggal (2025). Satu per satu berita semacam inimenimbulkan kekhawatiran, membuat citra pesantren sebagai tempat aman untuk meimbailmu perlahan memudar. Tak sedikit orang tua mulai ragu menyekokahkan anaknya kepesantren, atau bahkan memindahkannya ke sekolah umum.

Namun, sebagai seseorang yang pernah menghabiskan enam tahun di sebuah pesantrenmodern di Jawa Barat, saya tidak menutup mata terhadap sisi gelap itu. Disaat yang sama, hati saya terasa perih melihat bagaimana sisi postif pesantren jarang sekali tersorot. Saya percaya ada sisi lian yang jarang tersorot: wajah pesantren yang mendidik dengan disiplin, membentuk karakter, dan menanmkan nilai hidup melalui Bahasa. Saya masih ingat betuldisiplin yang tertanam kuat: bangun pukul empat pagi, shalat subuh, tadarus, dan belajar daripagi hingga sore. Setelah asar, kami berolahraga atau hanya duduk diam dilantai empat(tempat biasa kami menjemur baju) menatap langit sore, melemparkan pandangan ke titikyang jauh - menahan rindu pada orang tua. Malam hari diisi dengan belajar hingga pukulsetengah sepuluh malam. Semua perubahan aktifitas kami diatur oleh bel yang berbunyi lebihdari dua puluh kali sehari.

Selain karena kedisiplinannya yang terkenal kuat, alasan lain saya memilih bersekolah di pesantren modern itu adalah karena satu hal:  kemampuan bahasa. English Week dan Arabic Week adalah program yang mengatur seluruh santri untuk hanya berbicara menggunakanbahasa Inggris atau Arab, tergantung pekannya. Tak ada ruang untuk bahasa Indonesia ataubahasa daerah, bahkan sekedar berbisik pun bisa berakibat hukuman. Tujuan program inijelas: membentuk kebiasaan linguistik melalui pembiasan terus-menerus seperti yang dijelaksakan dalam teori Behaviourisme-belajar melalui pola stimulus-respose-reinforcement(Skinner, 1997). Dalam praktiknya, pendekatan yang digunakan menyerupai pendekatanmetode langsung (Direct Method), yaitu penggunaaan bahasa secara alami tanpa terjemahan, seperti anak belajar bahasa ibu. Setiap sore setelah salat Asar dan Magrib, semua jantungsantri berdegup cemas menunggu pengumuman dari Qismul Lughoh - divisi bahasa yang bertugas menegakan aturan. Siapa pun yang ketahuan berbicara selain bahasa wajib akandiumumkan dan mendapat hukuman. Ironisnya, pelanggar juga diwajibkan menjadi “mata-mata bahasa” untuk melaporkan teman yang melakukan kesalahan serupa keesokan harinya. Begitu seterusnya.

Setiap malam pukul 21.30, ketika jadwal belajar malam rutin berakhir, santri berkumpulkembali di kelas masing-masing. Disinilah Qismul Lughoh membagikan tiga kata baru yang dipilihnya dengan suka-suka dibrikan ke para santri. Dengan senang hati meskipunbercampur dengan wajah ngantuk, kami mencatat, menghafal, serta membuat kalimat darisetiap kata baru tersebut. Jika dihitung, dalam sebulan kami mempelajari sekitar 90 kata, dan dalam setahun lebih dari 30 ribu kata baru telah dihafalkan. Kegiatan ini mencerminkanperpaduan anatara Grammar Translation Method karena santri mempelajari arti kata secaralangsung-dan Audio Lingual Method karena prosesnya dilakukan dengan pengulangan dan pelafalan hinggal terbentuk kebiasan alami.

Pesantren tak hanya melatih lidah dan ingatan kami, Ia juga melatih keberanain. Di antaradinding-dinding yang dihiasi kaligrafi Arab dan kata mutiara berbahasa Inggris, salah satuyang paling serng say baca dan ingat adalah tulisan yang berbunyi “To Dare is To Do” (berani berati melakukan). Kalimat itu seakan menjadi mantra bagi kamai, para santri yang harus berani tampil di depan publik. Setiap minggu, kami bergiliran berpidato (Muhadhoroh) dalam Bahasa Inggris atau Arab didepan kakak dan adik kelas. Kami menaklukan rasa gugup, menjawab pertanyaan spontan, serta menerima kritik dengan lapang dada. Dari sudutpandang pembelajaran Bahasa, kegiatan pidato itu merupakan bentuk nyata dariCommunicative Language Teaching (CLT)-pendekatan yang menekankan penggunaanBahasa secara bermakna dan kontekstual. Belajar berpidato bukan sekedar latihan berbicara, tetapi sarana untuk menyampaikan nilai-nilai islam melalui komunikasi nyata, bukan hanyamenggugurkan tugas tampil, tapi memaknai apa yang disampikan dengan kata katadiwijudkan dengan tindakan sehari hari.

Refleksi dan Simpulan

Namun demikian, perlu adanya penyesuaian pembelajaran bahasa di pesantren yangpendekatannya mirip dengan apa yang dipaparkan pada paparan ini. Pertama, santri akanmemilih diam karena takut salah dan dihukum ketika belajar Bahasa. Padahal melakukankesalahan adalah belajar itu sendiri. Alih alih belajar dari kesalahan, sebagian santri mungkinakan trauma jika hukuman pelanggaran Bahasa itu tidak ada kaitannya dengan konsep belajarBahasa. Kedua, memberikan kosakata dengan suka suka dan dalam jumlah yang banyaktanpa dibarengi dengan konteks yang mengiringinya, itu seperti mempunyai berbagai bahanmasakan-tepung, telur, gula, bumbu-namun tidak tahu resep dan cara mengolahnya.

Kini, ketika pesantren sering diberitakan dalam konteks yang negatif, saya merasa perluberbagi bahwa di balik tembok tinggi dan disiplin ketat, ada begitu banyak praktikpendidikan yang patut dijadikan contoh—terutama dalam pembelajaran bahasa. Pesantrenbukan hanya tempat menghafal kitab, tetapi juga ruang pembentukan karakter, tempat santribelajar berani berbicara, berpikir kritis, dan menghargai makna kata. Melalui bahasa, pesantren mendidik santrinya untuk memahami dunia tanpa kehilangan akar budaya dan nilai-nilai Islam. Mungkin sudah saatnya kita melihat pesantren bukan dengan curiga, tetapidengan rasa ingin belajar: bagaimana lembaga ini mampu memadukan tradisi, kedisiplinan, dan inovasi dalam melahirkan manusia-manusia berbahasa, berakhlak, dan berpikir global.

Berita Terbaru

Pemain dan Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Pemain dan Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Olahraga2 jam lalu
Terkumpul Rp5,2 Juta, Infaq ASN RSUD Ciereng Fokus untuk Kesehatan

Terkumpul Rp5,2 Juta, Infaq ASN RSUD Ciereng Fokus untuk Kesehatan

Subang2 jam lalu
Jumah Berkah, DPD Golkar Purwakarta Berbagi Nasi Kotak

Jumah Berkah, DPD Golkar Purwakarta Berbagi Nasi Kotak

Purwakarta2 jam lalu
Sertifikat K3 untuk Melamar Kerja di Subang: Syarat, Manfaat, dan Cara Mendapatkannya

Sertifikat K3 untuk Melamar Kerja di Subang: Syarat, Manfaat, dan Cara Mendapatkannya

Lifestyle3 jam lalu
ADVERTISEMENT
Warga Dukung untuk Jabat Kedua Kalinya, Endi Sonjaya Kembali Nyalon Kades Kalentambo Subang

Warga Dukung untuk Jabat Kedua Kalinya, Endi Sonjaya Kembali Nyalon Kades Kalentambo Subang

Subang3 jam lalu
Indonesia Diproyeksikan Masuk Pot 3 Kualifikasi Piala Dunia 2030, Ini Dasarnya

Indonesia Diproyeksikan Masuk Pot 3 Kualifikasi Piala Dunia 2030, Ini Dasarnya

Nasional4 jam lalu
Jurusan Kuliah untuk Kerja di Industri Otomotif Subang, Ini Daftar Pilihannya

Jurusan Kuliah untuk Kerja di Industri Otomotif Subang, Ini Daftar Pilihannya

Subang5 jam lalu
Sun Life Syariah dan BMM Dorong UMKM Perempuan di Bandung Naik Kelas

Sun Life Syariah dan BMM Dorong UMKM Perempuan di Bandung Naik Kelas

Nasional5 jam lalu
PERINTIS 10 Hari Jawab Kebutuhan Masyarakat akan Layanan Pertanahan yang Pasti dan Cepat

PERINTIS 10 Hari Jawab Kebutuhan Masyarakat akan Layanan Pertanahan yang Pasti dan Cepat

Nasional5 jam lalu
PGRI Subang Gelar ToT Senam Bugar Jawa Barat Istimewa

PGRI Subang Gelar ToT Senam Bugar Jawa Barat Istimewa

Headline5 jam lalu