Pojokan 285: Tutup Buku

Seperti halnya tutup buku akhir tahun kas perusahaan, tutup buku menunjukkan keuntungan yang diperoleh dalam satu tahun kalender kerja. Sebab di bisnis, haram hukumnya ada kata “rugi” di akhir tahun tutup buku. Profit adalah kata sakti yang harus dijambret disetiap tetesan modal yang dikeluarkan.
Dan untuk meraih profit, korporasi selalu melakukan proyeksi target yang akan dicapai di tahun berikutnya. Pelbagai rumus annual planning dikuyah-kunyah, agar target realistis dan bisa dicapai. Bertumpuk strategi disiapkan, untuk memastikan capaian bisa digapai. Tujuannya profit melejit. Dan diantara semua itu, ada refleksi atas apa yang terjadi ditahun sebelumnya. Untuk dipelajari dan dipertimbangkan.
Tapi entahlah dengan kami. Apalagi kami ini kaum pinggiran, yang bertarung untuk hidup dari hari ke hari, tak kenal istilah strategic planning, annual planning dan segala macam istilah prediksi untuk tahun depan. Bagi kami, bisa bertahan ditengah krisis moral dan rapuhnya etika masyarakat serta penyelenggara negara saja, sudah sangat bersyukur.
Lirik saja, kebijakan ekonomi berbasis pengelolaan sumber daya alam dan proyek infrastruktur, hampir seluruhnya sudah tersandera dan diijonkan kepada oligarkhi. Praktik perselingkuhan ini, hampir terjadi di semua tingkatan pengambil kebijakan. Dari daerah hingga pusat. Semua terjerat oligarkhi. Hasilnya adalah bencana ekologi di Sumatera, penangkapan pejabat akibat korupsi, menjadi kado pahit penutup ahir tahun 2025.
Jika bukan keadilan dan kesejahteraan sosial rakyat yang dijadikan tujuan, titipan kepentingan para oligarkhi -dalam dan luar negeri, akan menyeruak untuk dipanuti. Semua patuh, tunduk pada kehendak oligarkh yang menguasai penguasa. Memanfaatkan kerapuhan etika dan moral para penyelenggara negara. Mereka tersandera, terhanyut keserakahan dan mekarnya laku hedonism.
Akibatnya, kesejahteraan rakyat dilupakan. Kemakmuran penguasa, kroninya dan pemodal diutamakan. Rakyat hanya dapat hutan gundul, rusak dan galado -banjir bandang, yang meluluh lantakan semua sendi kehidupan. Juga masa depan dan peradaban.
Semoga moral kita tak ikut terbawa hanyut galado. Sebab hanya itu yang dimiliki rakyat banyak, moral citizenship. Menjaga kegelisahan rakyat banyak untuk tetap waras menjaga dan berjuang mewujudkan keadilan dan kesejahteraan sosial. Kegelisahan akan kondisi yang timpang dan tak adil. Hasrat untuk membongkar keserakahan dalam kebijakan yang pincang-berat sebelah, tak peduli rakyat banyak.
Ini hanya keresahan rakyat kecil yang cinta pada bumi pertiwi. Yang cemas masa depan generasi mendatang, yang tak punya apa-apa untuk diwariskan. Kecuali kerusakan lingkungan dan moral. Kegundahan yang melahirkan semangat kesukarelaan untuk memperbaiki keadaan. Walau hanya lewat pelbagai upaya kecil dan sederhana. Bahkan mungkin tak berarti dalam konteks political citizenship.
Menjaga kegelisahan atas ketimpangan dan ketidakadilan adalah keharusan sejarah dan peradaban. Sebab tanpa kecemasan, kegelisahan dan kekhawatiran, moral citizenship tak akan tumbuh subur berkembang. Ditengah rapuhnya moral dan etika penyelenggara negara dan rakyat.
Menutup tahun ini, bisa jadi tanpa kemeriahan kembang api dan hitung mundur jam di akhir tahun 2025. Tak pantas itu dilakukan, tak empati dengan korban bencana ekologi yang setara ekosida. Bencana ekologi di Sumatera menjadi kado penutup tahun ini. Kado yang menjadi pelajaran bagi sesiapapun. Bahwa ketika alam dikangkangi keserakahan, alam akan membalasnya dengan dahsyat. Menjadi big story untuk generasi mendatang.
Tak semuanya kelam diakhir tahun. Rujuknya Raisy Aam dan Ketua PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) dari konflik, menjadi kado manis penutup tahun. Seolah menahbiskan pesan damai perayaan Natal, 25 Desember 2025. Semoga tetap rukun.
Konon tutup buku tahun ini, negara defisit Rp560,3 trilliun per November 2025 lalu. Katanya sih masih “aman”. Entahlah, barangkali diperusahaan, tak berlaku hukum “aman” dalam jor-joran pengeluaran. Tapi sudahlah, yang penting kita punya resolusi sederhana untuk tahun 2026. Menjaga dan menumbuhkan moral dan ecological citizenship, ekonomi tak susah, syukur berkembang, itu saja resolusi kita. (Kang Marbawi, 271225)
