Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Sawit dan Krisis Hidrologi

H
HubaEditor: Huba
|12:56 WIB
Bagikan:
Sawit dan Krisis Hidrologi

Oleh : Yulia Enshanty, S.Pd, M.Pd

(Guru Geografi di SMAN 1 Warung Kiara, Kabupaten Sukabumi)

Hutan memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, terutama dalam pengaturan aliran air dan pencegahan banjir. Lapisan serasah pada hutan alami bekerja sebagai peredam energi jatuhan air hujan sehingga aliran permukaan dapat diperlambat. Pada kondisi ini, air memiliki waktu untuk meresap ke dalam tanah dan mengisi cadangan air bawah permukaan. Ketika hutan mengalami konversi menjadi kebun sawit, fungsi-fungsi ekologis dasar ini hilang dan risiko banjir meningkat drastis (Merten et al., 2024).

Struktur akar pohon di hutan alami mampu menciptakan porositas tanah yang tinggi sehingga air dapat tersimpan dan meresap lebih dalam. Pohon hutan memiliki kombinasi akar tunggang dan akar serabut yang menjaga kestabilan tanah dan mengurangi erosi. Namun, karakteristik ini tidak ditemukan pada tanaman kelapa sawit yang hanya memiliki akar serabut dangkal. Perbedaan struktur akar ini menjadi salah satu alasan utama mengapa kebun sawit jauh lebih rentan memicu limpasan air dibandingkan hutan (Merten et al., 2024).

Alih fungsi hutan menjadi kebun kelapa sawit menimbulkan perubahan besar pada sifat fisik tanah. Tanah yang sebelumnya gembur dan kaya serasah berubah menjadi padat karena proses land clearing dan pemadatan oleh alat berat. Akar sawit yang dangkal gagal menciptakan ruang pori untuk menyerap air, sehingga kemampuan tanah dalam menahan hujan menurun tajam. Akibatnya, limpasan permukaan pada areal sawit meningkat dan mempercepat proses degradasi hidrologi (Stiegler, 2024).

Saat hujan deras terjadi di area kebun sawit, air langsung menghantam tanah yang keras dan minim perlindungan organik. Situasi ini menyebabkan volume limpasan meningkat lebih cepat dibandingkan di kawasan hutan alami. Limpasan besar tersebut membawa sedimen, tanah gembur, dan material organik ke sungai, mengganggu kualitas air dan mempercepat sedimentasi. Selain itu, parit-parit drainase di kebun sawit mempercepat aliran air menuju sungai sehingga puncak debit meningkat secara mendadak (Hennings, 2024).

Kondisi hidrologis yang terganggu akibat kehadiran kebun sawit memperburuk risiko banjir di daerah aliran sungai. Hutan yang sebelumnya berfungsi sebagai penyerap air tidak lagi menjalankan perannya, dan sawit tidak mampu menggantikannya secara ekologis. Ketidakseimbangan ini menyebabkan sistem sungai menerima aliran air dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Perubahan ini berimplikasi langsung pada kestabilan geomorfologi sungai, termasuk perluasan erosi tebing dan pendangkalan dasar sungai (Merten et al., 2024).

Selain meningkatkan limpasan, kebun sawit juga menurunkan tingkat evapotranspirasi yang sebelumnya tinggi pada area berhutan. Penurunan evapotranspirasi menyebabkan berkurangnya pelepasan uap air ke atmosfer sehingga keseimbangan siklus hidrologi terganggu. Dampaknya, wilayah menjadi lebih kering pada musim kemarau namun lebih rentan mengalami banjir saat musim hujan. Situasi ini memperburuk frekuensi bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang dan tanah longsor (Stiegler, 2024).

Mengingat dampak besar yang ditimbulkan oleh kebun sawit terhadap sistem hidrologi, penting untuk meninjau ulang pola penggunaan lahan di kawasan rawan banjir. Upaya konservasi serasah dan struktur tanah merupakan langkah penting yang tidak dapat digantikan oleh perkebunan monokultur seperti sawit. Pengaturan tata guna lahan yang lebih ketat sangat dibutuhkan agar ekspansi sawit tidak memperburuk kondisi hidrologi di wilayah hilir. Pendekatan ini diperlukan untuk mencegah kerusakan lanjutan dan menjaga keselamatan masyarakat (Zemp, 2024).

Penelitian menegaskan bahwa “The large-scale land-use change leads to a compaction of the soil, so that less rain is absorbed by the soil and the water quickly runs off at the surface” (Stiegler, 2024). Temuan ini memperjelas bahwa kebun sawit tidak memiliki kapasitas ekologis yang setara dengan hutan dalam menyerap air hujan. Selain itu, “These results indicate that after a rainfall event, rubber and oil palm plantations are more prone to flooding than forests” (Stiegler, 2024). Oleh karena itu, perlindungan hutan dan perbaikan tata kelola perkebunan sawit harus menjadi prioritas utama dalam mitigasi banjir. (*)

Berita Terbaru

Daftar HP Samsung Terbaru 2026 Lengkap dengan Spesifikasi dan Harga Oktober

Daftar HP Samsung Terbaru 2026 Lengkap dengan Spesifikasi dan Harga Oktober

Lifestyle6 jam lalu
Mantan Kepala SMPN 2 Ngamprah Wajib Kembalikan Rp 159 Juta dalam 60 Hari

Mantan Kepala SMPN 2 Ngamprah Wajib Kembalikan Rp 159 Juta dalam 60 Hari

Bandung Barat8 jam lalu
Dede Hidayat, Cakades Cijambe Nomor 4 Usung Visi Cijambe Bermartabat

Dede Hidayat, Cakades Cijambe Nomor 4 Usung Visi Cijambe Bermartabat

Subang8 jam lalu
Panitia Pilkades Cibogo Segera Tetapkan DPS

Panitia Pilkades Cibogo Segera Tetapkan DPS

Subang8 jam lalu
ADVERTISEMENT
BAZNAS dan BPBD Subang Bersinergi, Perkuat Penanganan Bencana dan Bantuan Kemanusiaan

BAZNAS dan BPBD Subang Bersinergi, Perkuat Penanganan Bencana dan Bantuan Kemanusiaan

Subang8 jam lalu
Manfaatkan Waktu Istirahat, Satgas TMMD ke-130 Kodim 0605/Subang Bermain Bola Bersama Siswa SDN Bukanagara

Manfaatkan Waktu Istirahat, Satgas TMMD ke-130 Kodim 0605/Subang Bermain Bola Bersama Siswa SDN Bukanagara

Subang8 jam lalu
Pemkab Karawang Lepas 689 Atlet Kontingen Porprov XV Jawa Barat Tahun 2026

Pemkab Karawang Lepas 689 Atlet Kontingen Porprov XV Jawa Barat Tahun 2026

Karawang8 jam lalu
Transparansi BUMDes jadi Sorotan, Warga Desa Sawangan Pertanyakan Dukungan Desa kepada PT CMM

Transparansi BUMDes jadi Sorotan, Warga Desa Sawangan Pertanyakan Dukungan Desa kepada PT CMM

Subang8 jam lalu
Siapkan BUMD Kembangkan Sumur Migas Haur Gede, Pemkab Karawang Targetkan MoU dengan Pertamina  2027

Siapkan BUMD Kembangkan Sumur Migas Haur Gede, Pemkab Karawang Targetkan MoU dengan Pertamina  2027

Karawang8 jam lalu
SMK PGRI Subang Buka Peluang Kerja di Luar Negeri, Buka Pelatihan Bahasa Mulai dari Siswa Kelas X

SMK PGRI Subang Buka Peluang Kerja di Luar Negeri, Buka Pelatihan Bahasa Mulai dari Siswa Kelas X

Subang8 jam lalu