12 Perlintasan Kereta Api di Purwakarta Tanpa Penjagaan

PASUNDANEKSPRES.ID - Keberadaan perlintasan kereta api sebidang di Kabupaten Purwakarta menjadi sorotan. Dari total 31 titik yang tersebar di sejumlah wilayah, enam di antaranya diketahui tidak memiliki izin resmi dan dinilai berpotensi membahayakan pengguna jalan.
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Perhubungan Kabupaten Purwakarta, Wajmudin Anwar, menjelaskan bahwa dari 25 perlintasan yang berstatus resmi, hanya sebagian yang memiliki sistem pengamanan memadai.
"Tujuh perlintasan dijaga oleh PT KAI, enam lainnya dijaga secara swadaya oleh masyarakat, sementara 12 titik belum memiliki penjagaan sama sekali," kata Anwar kepada wartawan Pasundan Ekspres, Selasa (5/5/2026).
Kondisi tersebut, sambungnya, memerlukan perhatian serius dan penanganan terpadu. Penataan perlintasan sebidang, kata dia, menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan keselamatan perkeretaapian sekaligus melindungi pengguna jalan dari risiko kecelakaan.
"Penataan ini tidak hanya soal penertiban, tetapi juga bagian dari sistem keselamatan transportasi yang lebih luas di Purwakarta," ujarnya tegas.
Dinas Perhubungan, lanjut Anwar, telah melakukan berbagai langkah awal, termasuk sosialisasi keselamatan kepada masyarakat pengguna jalan. Kegiatan ini dilakukan bersama sejumlah instansi terkait, seperti Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) dan PT KAI.
Meski demikian, ia menilai upaya tersebut perlu ditindaklanjuti dengan langkah konkret, khususnya dengan membangun infrastruktur penunjang.
"Kami sudah melakukan survei lapangan bersama DPUTR, Kementerian Perhubungan, DJKA, dan PT KAI untuk mengidentifikasi titik rawan. Saat ini, kami menunggu realisasi dari pemerintah daerah melalui DPUTR, baik berupa pembangunan flyover maupun underpass," ucapnya.
Perlintasan Sebidang di Kampung Bojong Tanpa Penjagaan
Sementara itu, kondisi di lapangan menunjukkan masih tingginya aktivitas masyarakat di sejumlah perlintasan tanpa penjagaan. Deni Ramdani, warga yang kerap melintas di perlintasan sebidang di Kampung Bojong, Jalan Terusan Ateng Sarton, mengungkapkan bahwa lokasi tersebut memiliki tingkat risiko yang cukup tinggi, terutama pada jam sibuk di pagi hari.
"Setiap pagi arus kendaraan sangat padat, baik dari arah timur maupun barat. Antrean sering terjadi, dan itu cukup berisiko bagi pengguna jalan," katanya.
Ia menyebut keberadaan sukarelawan yang membantu mengatur lalu lintas sangat membantu, meski belum sepenuhnya menjamin keselamatan.
"Alhamdulillah ada warga yang dengan sukarela membantu menjaga perlintasan. Itu sangat membantu," ujarnya.
Deni, pun dengan masyarakat lainnya harus selalu waspada, mematuhi rambu-rambu, serta mengikuti arahan petugas di lapangan, terutama saat kereta api akan melintas.
"Keselamatan itu tanggung jawab bersama. Pengguna jalan harus disiplin agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," ucapnya.(add/sep)
