Industri Hotel di Purwakarta Lesu, Pengamat Sebut Tak Bisa Andalkan Mekanisme Pasar

Pemerintah Harus Intervensi dan Sentuhan Strategis
PURWAKARTA-Industri Hotel di Purwakarta saat ini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, infrastruktur pendukung seperti akses jalan tol dan ketersediaan lahan masih menjanjikan. Namun di sisi lain, realita di lapangan menunjukkan tingkat hunian (occupancy rate) kamar hotel yang cenderung stagnan, seiring dengan minimnya daya tarik utama yang mampu mendatangkan wisatawan domestik maupun mancanegara secara konsisten.
Berdasarkan catatan dinamika pariwisata dan perhotelan daerah terbaru, rata-rata tingkat okupansi hotel di Purwakarta saat ini hanya berkisar di angka 40 hingga 50 persen. Angka ini masih di bawah rata-rata nasional yang sehat untuk industri perhotelan, yakni di kisaran 55 hingga 60 persen.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar, apakah bisnis perhotelan di Purwakarta masih memiliki tren yang positif?. Jawabannya sangat bergantung pada kemampuan daerah dalam menciptakan "magnet" baru. Saat ini, Purwakarta dinilai belum memiliki tujuan wisata ikonik yang kuat, kawasan bisnis (MICE) yang masif, maupun destinasi kuliner yang mampu menjadi primary goal perjalanan wisatawan dari luar daerah.
Menanggapi kondisi ini, Pengamat Ekonomi dan Dosen di salah satu kampus ekonomi di Purwakarta, Suryo Efendi, menilai bahwa sektor perhotelan tidak bisa hanya mengandalkan mekanisme pasar semata. Diperlukan intervensi dan sentuhan strategis dari pemerintah daerah untuk menghidupkan kembali geliat bisnis ini. "Bisnis perhotelan itu ibarat tanaman, ia butuh 'air' berupa kunjungan wisatawan. Jika Purwakarta saat ini tidak memiliki tujuan wisata, bisnis, atau kuliner yang kuat untuk menarik orang datang, maka hotel-hotel di sini hanya akan mengandalkan tamu insidental atau perjalanan dinas biasa yang jumlahnya terbatas," ujar Suryo Efendi saat ditemui di kampusnya, Senin (2/11/2026).
Suryo menyoroti pentingnya belajar dari masa kejayaan pariwisata Purwakarta di masa lalu. Ia mencontohkan era ketika "Air Mancur Menari" di Danau Situ Buleud menjadi daya tarik utama yang sangat diperhitungkan. "Dulu, ketika Air Mancur Danau Situ Buleud aktif dan menjadi ikon, tingkat hunian hotel di Purwakarta sangat sehat. Wisatawan datang khusus untuk melihat pertunjukan tersebut, menginap, dan menggerakkan ekonomi sekitar. Ini membuktikan bahwa satu daya tarik yang dikelola dengan baik bisa menjadi penggerak utama bisnis perhotelan," tambahnya.
Lebih lanjut, Suryo Efendi memberikan beberapa rekomendasi agar sektor perhotelan di Purwakarta kembali bergeliat. Pertama revitalisasi destinasi eksisting, yaitu pemerintah perlu serius menghidupkan kembali ikon-ikon lama seperti Situ Buleud dengan konsep yang lebih modern, atau mengembangkan potensi alam lain seperti Curug Cipurut dan Waduk Jatiluhur dengan fasilitas penunjang yang lebih baik.
Kedua, penciptaan event berkala, jika belum ada destinasi fisik yang masif, pemerintah bisa menciptakan event calendar tahunan (festival budaya, pameran UMKM, atau ajang olahraga) yang memaksa orang untuk menginap di Purwakarta.
Ketiga, Insentif bagi penyelenggara MICE, yaitu memberikan kemudahan atau subsidi bagi perusahaan yang mengadakan rapat, pelatihan, atau gathering di hotel-hotel lokal Purwakarta.
Keempat, pengembangan wisata kuliner terpadu, yaitu membangun satu kawasan kuliner yang instagramable dan representatif yang dapat menjadi tujuan perjalanan khusus, mirip dengan apa yang berhasil dilakukan oleh daerah penyangga lainnya di Jawa Barat. "Tanpa adanya trigger atau pemicu kunjungan dari pemerintah, investor perhotelan akan berpikir dua kali untuk mengembangkan usahanya di sini, dan hotel yang sudah ada akan kesulitan bertahan," tegas Suryo.
Ke depan, tantangan bagi Pemerintah Kabupaten Purwakarta adalah mengubah paradigma pembangunan. Infrastruktur fisik saja tidak cukup; diperlukan pembangunan "infrastruktur pengalaman" (experience infrastructure) yang membuat wisatawan merasa perlu untuk datang, menginap, dan kembali lagi ke Purwakarta. Hanya dengan cara itulah, bisnis perhotelan di daerah ini dapat kembali menemukan tren positifnya.(mas/sep)
