Produksi Padi di Purwakarta Terancam, Curah Hujan Tinggi Picu Serangan Hama

PASUNDANEKSPRES,ID - Tingginya curah hujan yang terjadi beberapa bulan terakhir ini berdampak serius bagi petani padi di Kabupaten Purwakarta.
Menjelang masa panen, serangan hama seperti walang sangit dan burung mulai mengancam hasil produksi. Akibatnya, bulir padi banyak yang hampa sehingga hasil panen menurun signifikan.
Didin (55), petani asal Tegal Munjul, Kecamatan/Kabupaten Purwakarta, mengungkapkan, padinya akan panen sekitar 30 hari lagi, namun kondisi tanaman saat ini jauh dari ideal.
"Curah hujan tinggi ini dampaknya kurang bagus ke padi. Banyak serangan hama, terutama walang sangit. Akibatnya padi jadi kurang berisi," kata Didin saat ditemui di sawahnya.
Secara fisik, menurut Didin, perbedaan padi yang sehat dan yang terdampak hama terlihat jelas. Padi yang berisi akan menunduk, sementara bulir yang hampa justru berdiri tegak.
"Kalau yang hampa itu kelihatan lurus. Kadang kerugiannya bisa seperempat sampai setengah hasil panen, tergantung kondisi cuaca," ujarnya.
Dalam kondisi normal, hasil panen padi Didin bisa mencapai 6 - 7 ton per hektare. Akan tetapi, saat terserang hama, produksi bisa merosot hingga di bawah 4 ton per hektare, menyebabkan kerugian yang tidak sedikit bagi petani.
Selain ancaman hama, petani juga dihadapkan pada kendala penjemuran gabah akibat cuaca yang tak menentu. Didin mengaku khawatir kualitas gabah menurun karena sulit dijemur.
"Kalau sering hujan, gabah jadi lama kering, warnanya bisa menghitam dan kualitas berasnya turun. Kami butuh alat penjemuran seperti ovenan, tapi petani belum punya," ucapnya.
Sementara itu, Kepala UPTD Perlindungan Tanaman Kabupaten Purwakarta, Wawan Hermawan, menyebutkan, musim hujan atau musim rendeng memang menjadi periode rawan serangan hama dan penyakit tanaman.
"Di musim hujan, kelembaban tinggi membuat hama dan penyakit berkembang lebih cepat. Karena itu kesiagaan harus ditingkatkan," kata Wawan.
Pihaknya pun menerapkan sistem quick response melalui petugas POPT (Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman) yang tersebar di setiap kecamatan.
Setiap indikasi serangan hama, sambungnya, langsung ditindaklanjuti dengan pengamatan, penentuan jenis pengendalian, hingga pelaksanaan di lapangan.
"Begitu ada laporan, langsung kami kendalikan. Tidak boleh telat, karena dalam hitungan hari serangan bisa meluas," ujar Wawan.
Meski ancaman hama meningkat, Wawan menyebut pengendalian di Purwakarta masih dalam batas aman. Dari total sekitar 41 ribu hektare lahan baku sawah, tingkat serangan hama berhasil ditekan di bawah 1,5 persen, jauh di bawah ambang batas pemerintah sebesar 3 persen.
"Paling maksimal sekitar 590 hektare yang terserang dari berbagai hama dan penyakit. Itu pun banyak dicegah lewat sosialisasi sanitasi, penggunaan varietas tahan hama, pengelolaan air, dan pengamatan rutin," ucapnya.
Ia pun mengapresiasi respon cepat para petani yang aktif melapor ketika menemukan gejala serangan hama.
"Kalau petani responsif, kami juga lebih agresif. Semua bergerak, karena kalau lengah sedikit saja bisa jadi endemik," kata Wawan.(add/ded)
