Siswa Acungkan Jari ke Arah Guru, Adab Siswa pada Guru Hilang

PURWAKARTA - SMAN 1 Negeri (Smansa) Siswa Acungkan Jari bikin gempar dunia pendidikan. Betapa tidak, sebuah video yang menampilkan sembilan oknum siswa mengacungkan jari tengah ke arah seorang guru viral di jagat maya.
Siswa Acungkan Jari ke Arah Guru
Video yang diduga beredar sejak Jumat (17/4/2026) malam ini, dengan cepat beredar di berbagai platform media sosial. Salah satu yang turut mem-viralkan adalah seorang influencer dengan pengikut ratusan ribu yang juga alumni sekolah tersebut.
Selanjutnya, akun-akun berita hingga lambe turah turut meramaikan. Hal ini diikuti pemberitaan di berbagai media mainstream yang semakin menegaskan bahwa peristiwa itu benar adanya.
Berbarengan dengan itu, beredar pula video permintaan maaf yang tak hanya dilakukan oleh kesembilan oknum siswa, melainkan oleh teman satu kelasnya.
Sayangnya, banyak warganet yang menganggap lalu video permintaan maaf itu. Banyak warganet yang menyarankan agar oknum siswa itu dimasukkan ke dalam program Barak Militer. Tak sedikit pula yang menyarankan agar sekolah menjatuhkan DO.
Sekolah Ambil Langkah Tegas, Sesuai Arahan KDM
Atas kejadian itu, pihak sekolah juga tak tinggal diam. Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMAN 1 Purwakarta, Ida Rosida, menyampaikan bahwa pihak sekolah langsung mengambil langkah tegas sesuai aturan yang berlaku.
"Kasus ini sudah ditangani oleh sekolah dan sanksi kepada siswa sudah dilakukan sesuai dengan pedoman pendidikan karakter Pancawaluya Nomor 15942/PK.08.05/GTK serta turunan tata tertib sekolah," kata Ida saat dikonfirmasi, Sabtu (18/4/2026).
Ia menjelaskan, total ada sembilan siswa yang terlibat dalam aksi tersebut. Penanganan dan pemberian sanksi juga mengacu pada arahan dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM).
Sebelumnya, melalui video yang diunggah di akun Instagram nya, KDM mengaku prihatin atas kejadian yang mencoreng dunia pendidikan tersebut. Ia mengatakan telah menerima laporan kronologi dari Dinas Pendidikan.
"Saya cukup prihatin dengan peristiwa tersebut. Orang tua siswa juga sudah dipanggil ke sekolah dan mereka menyesali perbuatan anaknya," ujar KDM.
Menurutnya, sekolah sempat memberikan sanksi berupa skorsing selama 19 hari kepada para siswa, namun, KDM memberikan alternatif pendekatan hukuman yang lebih bersifat pembinaan karakter.
"Saya menyarankan agar tidak hanya skorsing, tetapi diberikan kegiatan yang membentuk karakter seperti membersihkan halaman sekolah, menyapu setiap hari, dan membersihkan toilet," ucapnya.
Ia menambahkan, sanksi tersebut dapat diterapkan dalam kurun waktu satu hingga tiga bulan, tergantung pada perkembangan perilaku siswa.
"Prinsip dasar setiap hukuman harus memberikan manfaat dalam pembentukan karakter. Bagaimanapun mereka adalah anak-anak yang masih perlu dibimbing oleh orang tua dan gurunya," katanya.
Om Zein: Ini Mencederai Etika, Jangan Sampai Terulang
Sementara itu, Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein, akrab disapa Om Zein, juga angkat bicara. Orang nomor satu di Purwakarta itu mengaku prihatin atas kejadian tersebut.
Ia menilai, aksi para pelajar itu tidak hanya mencederai etika, tetapi juga berpotensi mencoreng dunia pendidikan serta nama baik sekolah yang dikenal sebagai salah satu sekolah unggulan di daerahnya.
"Saya turut prihatin dengan kejadian tersebut. Ke depan, hal seperti ini jangan sampai terulang di sekolah mana pun," ujar Om Zein saat dikonfirmasi wartawan.
Menurutnya, insiden ini harus menjadi momentum pembelajaran bersama, tidak hanya bagi siswa, tetapi juga bagi guru, orang tua, hingga masyarakat.
Om Zein menegaskan bahwa pembentukan karakter dan pengawasan terhadap perilaku pelajar merupakan tanggung jawab kolektif.
"Ini menjadi tanggung jawab kita semua untuk memperbaiki," ucapnya.
Terkait penanganan siswa yang terlihat dalam video tersebut, Binzein menyerahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah untuk memberikan sanksi sesuai aturan yang berlaku.
Dirinya menekankan, hukuman yang diberikan harus bersifat mendidik, memberikan efek jera, sekaligus menjadi pelajaran bagi siswa lainnya.
Selain itu, ia juga mendorong agar para siswa yang terlibat mendapatkan pendampingan melalui bimbingan konseling.
Langkah ini, kata dia, dinilai penting untuk membentuk kembali sikap, etika, serta kebijaksanaan dalam bersikap, termasuk dalam penggunaan media sosial.
"Siswa perlu menjalani konseling agar ke depan bisa lebih baik dalam bersikap dan berperilaku," kata Om Zein.
-
Praktisi Pendidikan: Ada Persoalan Serius dalam Pembentukan Karakter
Praktisi Pendidikan Purwakarta, Agus Muharam, menilai tindakan para siswa tersebut tidak hanya melanggar norma, tetapi juga menunjukkan adanya persoalan serius dalam pembentukan karakter.
Menurutnya, pendidikan sejatinya bertujuan membentuk peserta didik yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Dalam proses itu, guru memiliki peran penting sebagai pendidik, pengajar, sekaligus pembimbing.
"Tidak layak apabila siswa berperilaku seperti itu terhadap guru. Ini mencerminkan menurunnya penghormatan kepada pendidik," ujar Agus kepada wartawan, Minggu (19/1/2026).
Ia juga mengungkapkan rasa kecewanya melihat fenomena tersebut, mengingat dalam budaya pendidikan sebelumnya, posisi guru sangat dihormati oleh siswa.
Lebih lanjut, Agus menyoroti pengaruh media sosial yang kerap disalahgunakan oleh siswa. Aksi yang direkam dan kemudian viral dinilai memperburuk situasi karena mendorong perilaku mencari sensasi tanpa mempertimbangkan etika.
Menurutnya, pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi juga keluarga dan masyarakat. Kurangnya pengawasan orang tua terhadap penggunaan media sosial menjadi salah satu faktor yang memperparah kondisi tersebut.
"Orang tua harus lebih peduli. Jangan sampai anak justru merasa bebas tanpa batas dalam bersikap, apalagi di ruang publik digital," ucapnya.
Dirinya juga menyinggung fenomena meningkatnya laporan terhadap guru oleh orang tua, yang dinilai dapat memengaruhi wibawa guru di hadapan siswa. Kondisi ini, menurutnya, perlu diimbangi dengan perlindungan yang memadai bagi tenaga pendidik.
"Harus ada kerja sama yang kuat antara guru dan orang tua. Pendidikan karakter tidak bisa berjalan sendiri," katanya.
Terkait upaya penegakan disiplin, Agus menilai pelibatan aparat seperti TNI dalam kegiatan sekolah tidak selalu efektif.
Ia juga berpendapat bahwa guru sebenarnya memiliki kapasitas untuk membina kedisiplinan siswa jika didukung sistem yang tepat.
Sebagai solusi, ia mendorong Dinas Pendidikan Jawa Barat untuk terus memperkuat pembinaan terhadap guru dan siswa, terutama dalam implementasi nilai-nilai karakter seperti yang tertuang dalam konsep Pancawaluya.
"Karakter siswa harus dijaga bersama. Jika konsep ini benar-benar dipahami dan diterapkan, kejadian seperti ini bisa dicegah," ujarnya.
Abang Ijo Sebut Akan Datangi Sekolah
Wakil Bupati Purwakarta Abang Ijo Hapidin mengaku akan mendatangi SMAN 1 Purwakarta pada Senin (18/4/2026) pagi.
"Abang Ijo sepakat dengan arahan dan saran Pak Gubernur Kang Dedi Mulyadi. Agar anak-anak ini dikasih hukuman membersihkan halaman dan toilet sekolah selama sebulan atau dua bulan," ucapnya.
"Hukuman ini agar menjadi pembelajaran, jangan sampai anak-anak kita tidak punya etika dan akhlak kepada gurunya," kata Abang Ijo.
Bu Atun Dikenal sebagai Guru Inspiratif
Sosok guru yang menjadi objek tindakan tak terpuji oknum siswa adalah Atun Syamsiah, guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).
Menurut beberapa sumber, Bu Atun, panggilan akrabnya, adalah guru senior yang inspiratif. Hal ini seperti yang disampaikan oleh beberapa alumni Smansa.
Bahkan, Bu Atun bersama beberapa alumni Smansa mendirikan rumah yatim bernama Yayasan Daarul Aitam yang telah membantu ribuan anak yatim.(add/ysp)
