Aktivis Soroti Kebun Sawit di Wilayah Subang Selatan

PASUNDANEKSPRES.ID - Aktivis sosial Nurul Mu’min menyoroti keberadaan perkebunan kelapa sawit di wilayah Subang Selatan, Minggu (26/4/2026), dan meminta pemerintah melakukan kajian ulang dampak lingkungan, sosial, serta manfaat ekonominya bagi masyarakat.
Menurut Nurul, karakter wilayah Subang Selatan yang didominasi pegunungan, kawasan resapan air, pertanian, dan potensi wisata alam harus dijaga agar tidak terdampak negatif oleh ekspansi kebun sawit.
“Jangan sampai pengembangan kebun sawit mengorbankan kelestarian lingkungan dan masa depan masyarakat setempat,” ujarnya.
Ia menilai potensi alih fungsi lahan menjadi perhatian serius, terutama jika lahan pertanian produktif dan kawasan hijau berubah tanpa perencanaan matang.
Selain itu, Nurul juga menyoroti kekhawatiran warga terkait penurunan debit air serta potensi kerusakan tanah akibat pola tanam monokultur yang tidak dikelola secara berkelanjutan.
“Yang dilihat bukan hanya nilai investasi, tetapi dampaknya terhadap air, tanah, dan ekosistem,” katanya kepada Pasundan Ekspres.
Dari sisi sosial, ia meminta pemerintah memastikan masyarakat lokal mendapat manfaat nyata, seperti lapangan kerja layak, pemberdayaan ekonomi, serta perlindungan hak atas lahan.
“Jangan sampai masyarakat hanya menjadi penonton tanpa menikmati hasil pembangunan,” tegasnya.
Nurul Menforong Audit Perizinan Kebun Sawit
Nurul juga mendorong audit perizinan dan transparansi pengelolaan kebun sawit, termasuk membuka data izin usaha, luas lahan, hingga kontribusi terhadap daerah.
Menurutnya, Subang Selatan seharusnya lebih difokuskan pada penguatan sektor pertanian bernilai tinggi, perkebunan ramah lingkungan, serta pariwisata berbasis alam dan budaya.
“Potensi kopi, hortikultura, dan wisata alam harus diprioritaskan agar pembangunan tidak salah arah,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah daerah segera melakukan evaluasi menyeluruh dengan melibatkan akademisi, tokoh masyarakat, dan warga terdampak.
“Pembangunan harus berpihak pada lingkungan dan rakyat, bukan hanya keuntungan sesaat,” pungkasnya.(hdi/ded)
