Berharap Keberkahan Alam, Pemdes Ranca Udik di Subang Gelar Ruwat Bumi

PASUNDANEKSPRES.ID - Menyambut musim tanam padi, Petani menyelenggarakan tradisi Ruwat Bumi, sebagai bentuk rasa syukur atas keberkahan alam dan hasil bumi dari Sang Pencipta Alam Senesta.
Tradisi tersebut sudah ada sejak nenek moyang dahulu kala, yang kemudian diteruskan secara turun temurun hingga di jaman modern era digital ini.
Ini menunjukkan bahwa, tradisi tersebut begitu kuat mengakar di masyarakat terutama kaum tani dan nelayan, di mana mata pencaharian mereka tergantung dari alam, bumi dan laut. Di kalangan nelayan dikenal pula Ruwat Laut dan di kalangan petani Ruwat Bumi.
Tradisi ini tidak hanya menjadi simbol kebersamaan warga desa, tetapi juga bentuk penghormatan, rasa syukur terhadap alam yang telah memberikan sumber kehidupan agar tetap lestari.
Kepala Desa Rancaudik Kecamatan Tambakdahan H Wahyudin menyampaikan bahwa Ruwat Bumi ini bukan hanya bentuk syukur, tetapi juga pengingat bagi generasi muda untuk tidak melupakan akar budaya pertanian mereka, meski di jaman era digital ini.
"Ngaruwat Bumi bukan sekadar pesta, tapi cara kita berterima kasih kepada bumi. Kami ingin anak-anak muda tahu bahwa pangan itu tidak datang begitu saja, tapi hasil kerja keras petani dari alam,” ujarnya kepada Pasundan Ekspres.
Menurut H. Wahyudin menjaga lingkungan sama pentingnya dengan menanam. Tanah yang subur, air yang cukup, dan cuaca yang mendukung adalah faktor utama keberhasilan pertanian. Maka dari itu, kesadaran kolektif dalam menjaga alam harus terus ditanamkan.
Lebih lanjut H. Wahyudin menegaskan bahwa Ruwat Bumi bukan hanya adat, melainkan cerminan rasa syukur kepada Tuhan atas nikmat alam dan keselamatan, serta simbol kebersamaan dan kearifan lokal.
Wakil Bupati Subang Agus Masykur Rosyadi yang turut hadir dalam acara ruatan bumi tersebut mengapresiasi kepada warga Desa Rancaudik yang telah mengambil inisiatif menyelenggarakan ruatan bumi dengan meyuguhkan pagelaran wayang golek Giri Harja 2 Bandung.
Dalam kesempatan tersebut Agus Masykur juga mengimbau kepada seluruh masyarakat terkait dengan datangnya musim penghujan untuk waspada dan berhati-hati terhadap segala bentuk bencana.
"Sekarang sudah memasuki musim penghujan, hati hati dengan banjir, bersihkan drainase dan jangan buang sampah sembarangan. Kita berdoa, semoga kita dijauhkan dari bencana seperti banjir, longsor, angin puting beliung dan sebagainya," katanya.
Warga tampak antusias mengikuti arak arakan kreasi budaya dengan menampilkan berbagai replika karya masyarakat setempat. Baik kalangan tua, muda, remaja, hingga anak-anak tumpah ruah berbahagia memenuhi jalan desa. (dan/ded)
