Buku Cahaya di Ruang Kelas, Bukti Guru Tak Hanya Mengajar Tapi Juga Menulis

PASUNDANEKSPRES.ID - Semangat literasi di kalangan pendidik Kabupaten Subang kembali menunjukkan perkembangan positif melalui terbitnya buku berjudul Cahaya di Ruang Kelas.
Buku tersebut merupakan karya perdana yang lahir dari program GUMEULIS (Gerakan Umum Membaca dan Menulis Buku Digital), sebuah inovasi literasi yang dikembangkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Subang untuk mendorong budaya membaca dan menulis di era digital.
Program GUMEULIS sendiri menjadi wadah bagi guru, siswa, kepala sekolah, dan masyarakat untuk menghasilkan karya tulis digital yang dapat diakses secara luas.
Salah satu narasumber kegiatan Workshop Menulis sekaligus editor buku Cahaya di Ruang Kelas, Khususiatul Ubudiyah, M.Pd., menjelaskan bahwa buku tersebut merupakan hasil karya para guru jenjang SMP di Kabupaten Subang yang tergabung dalam program GUMEULIS.
Menurutnya, kehadiran buku ini menjadi bukti nyata bahwa guru tidak hanya berperan sebagai pendidik di ruang kelas, tetapi juga mampu menjadi penulis yang menghasilkan karya inspiratif dan bermanfaat bagi dunia pendidikan.
“Buku Cahaya di Ruang Kelas merupakan produk dari Gumeulis yang ditulis oleh para guru SMP di Kabupaten Subang. Buku ini lahir setelah para peserta mendapatkan pelatihan dalam workshop menulis yang menghadirkan narasumber dari penggiat literasi Kabupaten Subang maupun narasumber tingkat nasional,” ujarnya.
Ia menuturkan, proses penyusunan buku dilakukan melalui tahapan yang cukup panjang, mulai dari pelatihan dasar kepenulisan, pendampingan penulisan naskah, hingga proses penyuntingan sebelum akhirnya diterbitkan dalam bentuk cetak dan digital.
Buku Cahaya di Ruang Kelas Hadir Sebagai Jawaban Atas Kegelisahan Para Pendidik
Lebih lanjut, Khususiatul menjelaskan bahwa buku Cahaya di Ruang Kelas hadir sebagai jawaban atas berbagai kegelisahan para pendidik di tengah disrupsi dan perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat. Buku tersebut menawarkan berbagai pengalaman nyata yang dapat diterapkan dalam pembelajaran di sekolah.
“Cahaya di Ruang Kelas hadir bukan sekadar menyajikan teori pedagogi, tetapi menjadi panduan autentik dalam menghidupkan konsep Pembelajaran Mendalam atau Deep Learning di sekolah,” katanya.
Melalui kumpulan praktik baik yang ditulis para guru, buku ini mengangkat berbagai pengalaman pembelajaran yang menyentuh aspek kognitif, emosional, hingga aksi nyata peserta didik.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran mendalam tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kemampuan berpikir kritis siswa.
Selain itu, buku ini mengajak para pendidik untuk mengubah paradigma pembelajaran dari sekadar pengajar menjadi fasilitator yang mampu menyalakan rasa ingin tahu peserta didik. Dengan bahasa yang mengalir dan inspiratif, setiap tulisan di dalamnya menghadirkan pengalaman belajar yang lebih bermakna, manusiawi, dan relevan dengan tantangan masa depan.
Khususiatul berharap buku tersebut dapat menjadi sumber inspirasi bagi para guru, khususnya di Kabupaten Subang, dalam menerapkan pembelajaran mendalam pada kegiatan belajar mengajar sehari-hari.
Menurutnya, praktik-praktik baik yang dituangkan dalam buku ini dapat direplikasi dan dikembangkan sesuai kebutuhan masing-masing sekolah.
“Harapan kami, buku ini dapat menginspirasi para guru untuk terus berinovasi dalam pembelajaran dan menghadirkan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi peserta didik,” ungkapnya.
Saat ini, buku Cahaya di Ruang Kelas telah tersedia dalam versi cetak maupun digital. Masyarakat dan para pendidik dapat mengaksesnya melalui platform GUMEULIS yang dikembangkan Disdikbud Kabupaten Subang sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem literasi digital di daerah.(znl/ysp)
