Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Ikon Nanas Subang Terancam Hilang, Dampak Pembongkaran Kios

H
Hadi MartadinataEditor: Asep
|08:01 WIB
Bagikan:
Ikon Nanas Subang Terancam Hilang, Dampak Pembongkaran Kios
Ketua UMKM Kabupaten Subang Ade Patas saat memegang produk hasil olahan Nanas pada Selasa (19/8/2025).(Hadi Martadinata/Pasundan Ekspres)

SUBANG-Dampak pembongkaran kios-kios di jalur wisata Ciater hingga Lembang, kini mulai dirasakan oleh pelaku usaha kecil menengah (UKM), khususnya industri olahan nanas yang selama ini menjadi ikon Kabupaten Subang.

Ketua UMKM Kabupaten Subang, Ade Patas menilai, pembongkaran tersebut berdampak besar pada keberlangsungan usaha masyarakat. 

Menurutnya, Subang sudah dikenal luas dengan nanas sebagai ikon daerah. Namun, setelah kios-kios yang berjejer dari Tambakan hingga Tangkuban Perahu dibongkar, ciri khas itu perlahan menghilang.

"Biasanya dari Tambakan sampai Tangkuban Perahu identik dengan kios-kios nanas. Jadi wisatawan yang lewat bisa membeli nanas sebagai oleh-oleh. Sekarang sudah tidak ada lagi, tapi entah kedepannya," ungkap Ade kepada Pasundan Ekspres, Selasa (19/8/2025).

Menurut Ade, kondisi ini membuat penjualan para pelaku UKM semakin terpuruk. Selama ini kios-kios tersebut menjadi pasar utama bagi produk khas Subang, termasuk nanas dan olahan turunannya.

Sejak pembongkaran, pasar itu otomatis menghilang dan membuat produksi menurun drastis.

"Kalau dulu setiap hari saya bisa produksi satu sampai dua kwintal olahan nanas. Sekarang produksi jauh berkurang karena pasarnya sudah menghilang," jelasnya.

Ia menyebut, ratusan kios yang dibongkar bukan hanya sekadar tempat berjualan, tetapi juga menjadi titik interaksi wisatawan yang mampir untuk mencari oleh-oleh, bersantai, atau sekadar menikmati udara sejuk pegunungan. Kini, suasana ramai itu hilang dan berdampak langsung terhadap UKM.

"Biasanya rame untuk orang-orang main wisata, hanya untuk tongkrongan, mencari udara segar dan sekarang sudah tidak ada lagi. Jadi dampak pembongkaran itu ke UKM-UKM. Kecuali nanti dibuatkan rest area (relokasi) itu sangat bagus menumbuhkan UKM lagi," ucapnya. 

Meski begitu, Ade masih berharap ada solusi nyata dari pemerintah. Menurutnya, relokasi pedagang dalam bentuk rest area bisa menjadi jawaban untuk menghidupkan kembali geliat usaha masyarakat.

"Kalau dibuatkan rest area dari Ciater sampai Palasari, itu sangat bagus. UKM bisa tumbuh lagi. Tapi kenapa lokasi itu di tanamin kelapa? Terus tidak jelas. Seharusnya pemerintah itu jika semua UKM kena gusur, karena pedagang dan UKM itu sama. Seharusnya pemerintah itu memperlihatkan titik relokasi biar pedagang itu ada harapan," ucapnya.

Ade menilai seharusnya pemerintah bersikap lebih transparan. Informasi mengenai relokasi harus disampaikan dengan jelas agar para pedagang dan pelaku UKM memiliki kepastian.

"Seharusnya pemerintah berpikir berbarengan. Kalau kios dibongkar, harus jelas juga relokasinya di mana. Jangan sampai masyarakat beranggapan pemerintah tidak peduli. Apalagi banyak pedagang yang sudah membangun kios dengan modal puluhan juta rupiah, kini hilang begitu saja," tegasnya.

Selain mengancam keberlangsungan ikon nanas Subang, pembongkaran kios juga berdampak pada sektor pariwisata.

Ade menuturkan, jalur Ciater–Lembang selama ini menjadi magnet wisatawan untuk sekadar singgah, berbelanja, atau bersantai. Kini daya tarik itu berkurang, dan dikhawatirkan akan menurunkan jumlah kunjungan wisata ke Subang.

"Jadi bukan hanya UMKM, tapi wisata juga terkena dampaknya. Kalau tidak segera ada solusi, Subang bisa kehilangan daya tariknya sebagai destinasi wisata sekaligus pusat oleh-oleh nanas," pungkasnya.

Sebelumnya, diberitakan tentang Jongko di Jalancagak Subang Dibongkar, Petani Nanas Kesulitan Jual Hasil Panen. Sejumlah petani nanas di Subang turut terdampak penertiban dan pembongkaran jongko-jongko (lapak-lapak pedagang), sulit menjual hasil panen Nanas.

"Kalau ke jongko, kita bisa jual sampai Rp7.000 bahkan kadang Rp7.500. Tapi setelah jongko dibongkar, nggak ada tempat lagi buat pedagang jualan. Jadi petani kayak saya akhirnya bingung, mau jual ke mana? Kalau ke pabrik, ya harganya cuma Rp2.500 per kg. Jauh banget turunnya," ujar Nana Kepada Pasundan Ekspres, Selasa (24/6/2025). 

Sebelum dilakukan pembongkaran, banyak petani menjual hasil panennya langsung ke jongko-jongko yang berjajar di sepanjang jalur utama seperti Curug Rendeng, Jalancagak, hingga Ciater.

Lapak-lapak sederhana tersebut menjadi titik distribusi penting yang mempertemukan petani dengan konsumen langsung, baik wisatawan maupun pengecer kecil.

Namun setelah kawasan tersebut ditertibkan dengan dalih menertibkan bangunan liar di lahan milik pemerintah, praktis saluran distribusi langsung itu pun terputus.

Para pedagang tidak lagi memiliki tempat untuk berjualan, dan petani tak lagi bisa memasarkan produk mereka secara langsung.

"Saya itu bukan cuma petani, tapi juga kadang nganterin sendiri ke jongko. Sekarang jongko nggak ada, ya otomatis kita kehilangan pembeli tetap. Ke wisatawan juga nggak bisa, karena jalurnya sekarang sepi, gelap, dan nggak ada aktivitas jual beli lagi," ungkapnya.

Meski demikian, Nana berharap pemerintah segera mengambil langkah nyata. Relokasi yang jelas dan strategi yang diperlukan agar UMKM dan petani bisa kembali bernafas.

"Jangan sampai masyarakat berpikir pemerintah tidak sayang kepada warganya. Pemerintah harus terbuka, jelas, dan cepat mengambil keputusan. Kalau memang ada relokasi, sampaikan ke masyarakat biar mereka punya harapan," tutupnya.(hdi/sep)

Berita Terbaru

GILA! Persib Bikin Port FC Terdiam, Sempat Tertinggal Malah Comeback 3-1 di Thailand

GILA! Persib Bikin Port FC Terdiam, Sempat Tertinggal Malah Comeback 3-1 di Thailand

Olahraga3 jam lalu
Lonjak Lima Lipat! Menteri PKP Maruarar Sirait Subang Kucurkan Bantuan 1.372 Rutilahu dan Perumahan

Lonjak Lima Lipat! Menteri PKP Maruarar Sirait Subang Kucurkan Bantuan 1.372 Rutilahu dan Perumahan

Subang5 jam lalu
Pilkades Munjul, Tiga Cakades Dapat Nomor Urut, Afwan 1, Husen 2, Mahdi 3

Pilkades Munjul, Tiga Cakades Dapat Nomor Urut, Afwan 1, Husen 2, Mahdi 3

Subang5 jam lalu
Tracing TB, Puskesmas Cibogo Sasar 100 Warga Sadawarna

Tracing TB, Puskesmas Cibogo Sasar 100 Warga Sadawarna

Subang5 jam lalu
ADVERTISEMENT
Gelar Operasi Pasar Murah, Bulog Subang Jaga Statabilitas Pangan

Gelar Operasi Pasar Murah, Bulog Subang Jaga Statabilitas Pangan

Subang6 jam lalu
PLN Journalist Awards 2026 Kembali Digelar, Usung Tema Energi Mandiri, Indonesia Berdaya

PLN Journalist Awards 2026 Kembali Digelar, Usung Tema Energi Mandiri, Indonesia Berdaya

Nasional7 jam lalu
DPR Hormati Putusan MK soal Ijazah Gibran, Dasco: Kami Belum Pelajari Mendalam

DPR Hormati Putusan MK soal Ijazah Gibran, Dasco: Kami Belum Pelajari Mendalam

Nasional8 jam lalu
Cara Kirim Foto Sekali Lihat di WhatsApp, Bisa Jaga Privasi!

Cara Kirim Foto Sekali Lihat di WhatsApp, Bisa Jaga Privasi!

Lifestyle8 jam lalu
Bupati Purwakarta: Jika Syarat Terpenuhi, Pendirian Gereja di Cikopo Harus Diizinkan

Bupati Purwakarta: Jika Syarat Terpenuhi, Pendirian Gereja di Cikopo Harus Diizinkan

Purwakarta8 jam lalu
Kecelakaan Tol Cipularang! Arus Melambat, Truk Trailer Diduga Tak Bisa Berhenti hingga Tabrak 15 Kendaraan

Kecelakaan Tol Cipularang! Arus Melambat, Truk Trailer Diduga Tak Bisa Berhenti hingga Tabrak 15 Kendaraan

Jawa Barat9 jam lalu